164 Negara Dukung Penggunaan Peta Dunia Baru

164 Negara Dukung Penggunaan Peta Dunia Baru

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 08 Sep 2026 12:45 WIB
164 Negara Dukung Penggunaan Peta Dunia Baru
Jakarta -

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menyetujui penggunaan peta dunia baru dengan skala yang lebih realistis. Resolusi yang diajukan oleh Togo, negara anggota PBB dari Afrika Barat yang juga anggota Uni Afrika ini telah didukung oleh 164 negara anggota PBB lainnya.

Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menentang resolusi tersebut, sedang enam negara lainnya yang abstain.

Meski tidak mengikat, resolusi ini mendorong negara-negara dan organisasi internasional ke depannya untuk lebih banyak menggunakan peta dengan proyeksi Equal Earth, terutama dalam situasi yang tidak memerlukan ketelitian sudut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada peta dunia proyeksi Equal Earth, Afrika tampak lebih besar dan lebih mendekati ukuran sebenarnya dibandingkan pada peta Mercator, buatan Gerhard Mercator, yang selama berabad-abad menjadi standar dunia,

Pada peta Equal Earth ukuran Amerika Serikat tampak lebih kecil, mendekati kondisi geografis sebenarnya.

ADVERTISEMENT

Peta tidak pernah netral

"Peta membentuk pemahaman kita tentang dunia," kata Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey saat berdebat di Sidang Umum PBB. Peta tidak pernah netral. Ada risiko bahwa peta "menyampaikan gambaran yang menyimpang akan planet ini dan memperkuat persepsi yang keliru, yang kemudian diturunkan dari generasi ke generasi".

Setelah resolusi tersebut disetujui, Dussey menulis di media sosial, "Ini soal keadilan, martabat, kesetaraan, dan cara kita menggambarkan dunia kita." Sudah terlalu lama kartografi tradisional mendistorsi persepsi tentang ukuran sebenarnya Afrika dan wilayah-wilayah lain di dunia. "Memperbaiki peta berarti memperbaiki cara kita memandang dunia," kata Menlu Togo tersebut.

Seperti kulit jeruk diletakkan di permukaan datar

Sebaliknya, Amerika Serikat menyebut usulan tersebut sebagai proyek "ideologis" yang mengalihkan perhatian dari masalah-masalah internasional yang sebenarnya. Latar belakang perdebatan ini adalah masalah kartografi.

Dalam penggambaran Bumi dua dimensi, permukaan bola ditransformasikan ke dalam bidang datar, seperti kulit jeruk ditempelkan pada permukaan datar. Hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa distorsi karena alasan geometris.

Jadi, tidak ada peta yang akurat dalam segala hal. Pembuat peta harus memutuskan aspek mana yang lebih penting baginya. Peta bisa menggambarkan kontur dan arah kompas dengan akurat yang dulu sangatlah penting dalam navigasi laut. Sebagai gantinya, luas wilayah, atau perbandingan ukurannya, menjadi terdistorsi.

Greenland nampak begitu luas pada peta

Hal ini terjadi pada proyeksi Mercator. Pada proyeksi Mercator, semakin jauh suatu wilayah dari khatulistiwa, semakin besar pula wilayah tersebut tampak di peta. Luas Greenland pada peta semacam itu kira-kira sama dengan luas seluruh benua Afrika, meskipun pada kenyataannya Afrika 14 kali lebih besar.

Publik dapat memilih alternatif yang lebih akurat dalam hal luas wilayah, mengikuti proyeksi Equal Earth yang baru saja disetujui oleh Majelis Umum PBB. Pada peta ini, perbandingan ukuran digambarkan sesuai skala sebenarnya. Dengan demikian masalah Greenland yang nampak begitu luas pun dapat teratasi. Namun, konsekuensi lain dari peta Equal Earth, bentuk dan perbandingan sudut terkadang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

Setiap representasi peta memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, tergantung pada tujuan penggunaannya, dan karenanya memiliki alasannya sendiri. Untuk navigasi, peta Mercator tetaplah berguna.

Di bidang pendidikan, ada solusi lain yang sangat pragmatis yang tidak menjadi perdebatan: Representasi Bumi dalam wujud bola dunia, untuk memperkenalkan bentuknya secara keseluruhan kepada para pelajar.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman

Diadaptasi oleh Sorta Caroline

Editor: Yuniman Farid

Simak juga Video 'Dirut Pertamina Ungkap Peta Jalan dalam Mendukung Target Kemandirian Energi Nasional':

(ita/ita)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini