×
Ad

Iran Bertaruh pada Jaringan Bayangan untuk Hindari Sanksi AS

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Sabtu, 05 Sep 2026 08:39 WIB
Jakarta -

Melalui sanksi terberat yang pernah diberlakukannya, pemerintahan Presiden AS Donald Trump berupaya memaksa kepemimpinan Iran untuk tunduk.

Sanksi yang dijuluki "economic D-Day" ini dibuat untuk membenahi kegagalan dari tekanan militer AS sejak Februari lalu terhadap Iran.

Selain menargetkan sumber pendapatan dan perdagangan utama Iran, termasuk sektor minyak, perbankan, emas, pelayaran, penerbangan, dan beberapa sektor teknologi lain, otoritas AS kini memusatkan perhatiannya pada mata uang kripto.

Mata uang digital seperti Bitcoin, digunakan oleh Iran untuk transfer dana serta transaksi perdagangan. Selain itu, Bitcoin juga semakin sering dipakai dalam bisnis yang berkaitan dengan minyak. Mata uang digital ini digunakan karena beroperasi di luar sistem perbankan tradisional dan jaringan keuangan yang mengacu pada dolar AS,

Jaringan tertutup untuk membantu Teheran menghindari sanksi

Iran juga tampaknya sedang mengembangkan penggunaan mata uang kripto sebagai cara untuk mengamankan pengiriman minyak yang melewati Selat Hormuz.

Menurut Kantor Berita Fars, yang hubungan erat dengan Garda Revolusi Iran, gagasan tersebut diajukan oleh Babak Zanjani.

Miliarder berusia 53 tahun itu dibebaskan dari penjara tahun lalu. Ia menjadi salah satu tokoh paling menonjol dalam jaringan yang telah berkembang selama puluhan tahun serta membantu Iran dalam menghadapi berbagai sanksi internasional.

Orang-orang dalam jaringan tersebut mendapat dukungan dan perlindungan dari tokoh-tokoh berpengaruh dalam pemerintahan Republik Islam Iran. Sebagai imbalannya, mereka diyakini membagikan sebagian keuntungan bisnis mereka kepada tokoh-tokoh pemerintahan Iran.

"Di antara orang-orang ini, Zanjani adalah salah satu elite yang memiliki gagasan inovatif dan telah berulang kali menunjukkan kemampuannya di masa lalu," ujar Behzad Ahmadinia, jurnalis kelahiran Iran yang berfokus pada isu minyak dan energi.

Behzad menambahkan, "tampaknya rezim Iran telah memutuskan untuk mengatasi persaingan internal dengan mengandalkan profesional serta para ahli yang dapat bekerja lebih efisien dibandingkan kelompok lain untuk mengambil alih posisi-posisi penting."

Menjual minyak di pasar gelap

Iran telah memanfaatkan pengalaman puluhan tahun dalam menjalankan aktivitas ekonominya di bawah tekanan sanksi AS. Jaringan yang ada telah jauh melampaui individu-individu pebisnis dan mencakup jaringan luas perusahaan, sistem keuangan, serta jaringan personal.

Korupsi dan minimnya transparansi yang meluas dianggap sebagai masalah struktural dalam sistem politik dan ekonomi Iran. Dalam Indeks Persepsi Korupsi 2025 yang diterbitkan Transparency International, Iran memperoleh skor 23 dari 100 dan menempati peringkat 153 dari 182 negara. Hal ini menunjukkan tingkat persepsi korupsi di sektor publik yang sangat tinggi.

Zanjani dilaporkan mengendalikan sebuah kerajaan bisnis yang terdiri dari sekitar 60 perusahaan yang di antaranya beroperasi di Malaysia, Tajikistan, Turki, dan Uni Emirat Arab.

Banyak dari perusahaan miliknya kemudian dikenai sanksi oleh Amerika Serikat. Melalui jejaring bisnisnya, Zanjani mulai menjual miliaran barel minyak Iran di pasar gelap selama masa kepresidenan Mahmoud Ahmadinejad. Ia juga mengimpor berbagai macam barang, termasuk pesawat terbang ke Iran.

Namun pada tahun 2016, ia terseret dalam pertarungan kekuasaan internal di Iran. Otoritas menuduhnya gagal mengembalikan sekitar US$2,6 miliar (sekitar Rp 46 triliun) berupa pendapatan dari sektor minyak kepada pemerintahan Iran.

Setelah menjalani persidangan yang ramai menjadi sorotan publik sebagai salah satu kasus korupsi terbesar di Iran, ia dijatuhi hukuman mati. Selama bertahun-tahun, ia membantah tuduhan terkait dana yang hilang dan terus bernegosiasi dengan otoritas Iran.

Info untuk AS mengenai jaringan bayangan

Sosok penting lainnya dalam jaringan ini adalah pengusaha keturunan Turki-Iran, Reza Zarrab. Ia ditangkap di Amerika Serikat pada tahun 2016 ketika sedang berlibur dengan tuduhan melakukan pencucian uang serta melanggar sanksi AS terhadap Iran.

Zarrab telah membangun jaringan yang luas di Turki. Ia juga memiliki pengetahuan mendalam tentang mekanisme keuangan dan perdagangan yang digunakan Iran untuk menghindari sanksi AS.

Kasus-kasus yang melibatkan Zarrab memberikan informasi berharga bagi otoritas AS tentang cara kerja jaringan perdagangan agar terhindar dari sanksi. Informasi tersebut membuat AS lebih efektif dalam mengincar para pelanggar sanksi. Zarrab kemudian bekerja sama dengan para penyelidik AS dan dibebaskan dari tahanan. Menurut berbagai laporan, ia kini tinggal di Amerika Serikat dengan identitas baru.

"Orang-orang seperti Zarrab atau Zanjani dibesarkan dalam sistem tersebut dan memiliki hubungan dengan berbagai pusat kekuasaan," kata ekonom yang berada di Prancis, Jamshid Assadi, kepada DW.

Menurut laporan, kemunculan Zanjani dimulai sekitar 30 tahun lalu saat ia menjalani wajib militer dan bekerja sebagai sopir gubernur bank sentral Iran. Pekerjaan tersebut membukakan akses ke lingkaran-lingkaran berpengaruh serta kontak kepada pebisnis penting.

Miliaran dolar mengalir melalui jaringan dan perusahaan-perusahaannya. Hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti berapa besar keuntungan pribadi yang diperolehnya.

Pada Februari 2024, media Iran melaporkan bahwa aset-aset yang terkait dengan Zanjani telah dipulangkan dari luar negeri. Menurut laporan tersebut, kekayaannya telah melampaui nilai utang yang wajib ia bayarkan.

Pada tahun 2025, ia dibebaskan dari penjara dan kembali ke dunia bisnis. Melalui salah satu perusahaannya, ia menandatangani kontrak bernilai miliaran dolar dengan sebuah operator kereta api milik negara Iran.

Pada saat yang sama, Zanjani berupaya membangun citra baru. Dalam sebuah surat terbuka kepada miliarder AS Elon Musk, ia menawarkan perusahaannya sebagai jembatan bagi kerja sama ekonomi antara Iran dan Amerika Serikat. Kini ia menampilkan dirinya sebagai pengusaha, mediator dan pendukung dialog antar kedua negara.

AS telah kembali memasukkan Zanjani ke dalam daftar individu yang terkena sanksi pada Januari 2026. Di bulan Juli lalu, Washington semakin memperluas langkahnya untuk menargetkan sanksi kepada jaringan perusahaan dan rekan bisnis yang terafiliasi dengan Zanjani.

Sehari sebelum sanksi tersebut diumumkan, Zanjani sempat menghadiri peresmian kafe dan toko kue miliknya di wilayah barat Teheran. Namun, bisnis tersebut ditutup oleh pihak berwenang sehari setelahnya.

Dapatkah AS melumpuhkan jaringan bayangan Iran?

Pertanyaan utamanya, apakah langkah terbaru Amerika Serikat benar-benar dapat menjangkau jaringan yang menopang ekonomi bayangan Iran?

Menurut Assadi, banyak jalur tradisional untuk menghindari sanksi tersebut kini sudah diketahui secara luas dan semakin sulit digunakan oleh Teheran. Amerika Serikat telah memperingatkan banyak negara bahwa perusahaan, bank dan pelaku sektor swasta dapat dikenai hukuman jika membantu Iran menghindari sanksi yang berlaku.

Namun di sisi lain, Iran telah menghabiskan puluhan tahun untuk beradaptasi terhadap tekanan ekonomi dan menemukan cara-cara baru untuk mengatasinya.

Sanksi terbaru Washington masih belum bisa dipastikan dapat secara signifikan melemahkan jaringan-jaringan tersebut. Namun, peran Babak Zanjani menunjukkan bahwa Iran kembali mengandalkan para pengusaha yang sebelumnya membantu negara tersebut bertahan selama isolasi ekonomi terjadi di masa sebelumnya.

Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa jerman

Diadaptasi oleh Muhammad Athif Aiman

Editor: Yuniman Farid

width="1" height="1" />

Tonton juga video "Lubang Besar di Atap, Bukti Kejamnya Serangan AS ke Warga Sipil Iran"




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork