×
Ad

Strategi Trump di Iran, Jalan Menuju Perang Berkepanjangan?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 04 Sep 2026 08:39 WIB
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat Donald Trump cukup gamblang menggambarkan seperti apa fase baru perang di seberang Teluk Persia. Iran, kata Trump setelah gelombang serangan besar terbaru Amerika Serikat, berusaha membangun kembali sistem radar mereka.

"Jadi kami menunggu sampai hampir selesai dibangun kembali, lalu kami menghantamnya," ujarnya.

Pada Selasa (1/9), pasukan Amerika kembali menyerang sejumlah sasaran di Iran. Menurut Komando Pusat CENTCOM, serangan itu menghancurkan antara lain sistem radar dan pertahanan udara, fasilitas maritim, kemampuan penanaman ranjau laut, serta fasilitas komunikasi milik militer dan Garda Revolusi (IRGC).

"Memotong rumput"

Iran membalas dengan rudal dan drone yang menyasar fasilitas Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah. Dengan demikian, apa yang beberapa hari sebelumnya disebut CENTCOM sebagai kemungkinan strategi untuk fase perang berikutnya mulai terwujud.

Menurut portal berita Axios, serangan terbatas yang dapat dilakukan berulang kali jika diperlukan bertujuan mencegah Iran memulihkan kemampuan militernya di sekitar Selat Hormuz.

Seorang pejabat pemerintah Amerika menggambarkan gagasan itu dengan istilah yang dikenal dalam kebijakan keamanan Israel: "memotong rumput."

Metafora tersebut menggambarkan strategi yang sejak awal tidak menjanjikan kemenangan mutlak atas lawan. Cukup dengan secara berkala mengurangi kemampuan militernya hingga ancamannya tetap dapat dikendalikan. Ketika rumput tumbuh kembali, ia "dipotong" lagi.

Jika diterapkan pada Iran, artinya Amerika Serikat akan mengawasi kemampuan militer apa saja yang dibangun kembali lawan, lalu menyerang ketika kemampuan tersebut melewati ambang tertentu.

Keberhasilan bermasa kedaluwarsa

Dalam beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat memang memiliki sejumlah keberhasilan militer. Pasukan AS telah secara signifikan mengurangi kemampuan militer Iran di sekitar Selat Hormuz dan mulai membersihkan ranjau laut Iran.

Namun, keberhasilan itu tidak permanen. Teheran memperbaiki atau memperoleh kembali sistem radar, posisi pertahanan udara, dan rudal antikapal.

Bom-bom Amerika mungkin mampu menghancurkan posisi penting Iran di titik-titik tertentu. Namun pengetahuan dan basis industri teknologi militer Iran tetap ada.

Pembangunan kembali itu dapat ditunda, tetapi tidak dicegah. Amerika Serikat pun terus menghadapi pilihan yang sama: membiarkan Teheran memulihkan kemampuannya atau kembali menyerang dan menghancurkannya?

Pada April, pakar Timur Tengah Mona Yacoubian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington telah memperingatkan konsekuensinya. Perkembangan tersebut, kata dia, dapat mengarah pada "konflik berkepanjangan berintensitas rendah yang diselingi intervensi lebih intensif."

Peringatan bernada perang

Strategi "memotong rumput" juga memiliki batas. Salah satunya karena strategi itu sejak awal tidak dirancang untuk menghadapi perang melawan sebuah negara. Israel mengembangkan strategi tersebut untuk menghadapi aktor nonnegara seperti kelompok teror Hamas.

Terhadap lawan yang memiliki karakter negara dan kemampuan yang lebih kuat, kata Yacoubian, "memotong rumput" dapat berubah menjadi "strategi militer yang usang". Hal itu paling jelas terlihat di Selat Hormuz.

Amerika Serikat harus memastikan selat itu tetap terbuka. Iran, sebaliknya, hanya perlu membuat orang percaya bahwa melintasinya tetap berbahaya. Bahkan lawan yang secara militer jauh lebih lemah tetap dapat membebankan biaya besar kepada Washington.

Amerika Serikat juga menghadapi persoalan lain: Washington memang dapat menentukan intensitas serangannya sendiri, tetapi tidak dapat menentukan bagaimana Teheran akan membalas. Presiden Trump telah berulang kali memperingatkan Teheran dengan bahasa keras agar tidak melakukan serangan balasan militer.

Namun, kendati telah diperingatkan, rezim di Teheran segera meluncurkan rudal ke fasilitas Amerika di kawasan. Yordania saja melaporkan 13 rudal balistik memasuki wilayah udaranya, dan sepuluh di antaranya berhasil dicegat.

Persoalan nuklir

Pakar Timur Tengah Yacoubian memperingatkan risiko yang jauh lebih besar dari serangan Amerika yang dilakukan berulang kali. Teheran dapat menyimpulkan bahwa satu-satunya cara untuk membangun daya tangkal permanen adalah "dengan mengejar senjata nuklir."

Dengan begitu, Amerika Serikat dan Israel justru dapat mempercepat perkembangan yang hendak mereka kendalikan melalui serangan terhadap Iran.

Dari sudut pandang Washington, pilihan yang tersedia bagi Trump juga tidak jauh lebih baik. Jika presiden membiarkan Iran kembali memperkuat kemampuan militernya di sekitar Selat Hormuz, ia berisiko menghadapi serangan baru terhadap kapal-kapal dan gangguan di salah satu jalur energi terpenting dunia.

Dampaknya terhadap perekonomian dunia sudah dikenal. Kendati terjadi gejolak dan perundingan berulang, kesepakatan politik antara Washington dan Teheran sejauh ini kandas karena perbedaan yang tampaknya tak terjembatani.

"Perang tanpa akhir" AS-Iran?

Namun, strategi "memotong rumput" memiliki daya tarik politik domestik bagi Donald Trump, di tengah berbagai ketidakpastian kebijakan luar negeri. Presiden Amerika itu dapat menjalankannya tanpa pendudukan, pembangunan kembali sebuah negara, atau pengerahan besar-besaran pasukan darat Amerika.

Pada saat yang sama, strategi ini memungkinkan Trump menjaga jarak dari apa yang ia sebut "forever wars", perang tanpa akhir yang berulang kali ia tuduhkan kepada para pendahulunya di Gedung Putih.

Pada akhirnya, jalan keluar yang dianggap sebagai cara menghindari perang tanpa akhir justru bisa berubah menjadi perang tanpa akhir itu sendiri. Yacoubian menyebut "memotong rumput" sebagai "strategi Sisyphus: pengikisan tanpa akhir."

Selama Washington tidak bersedia pada suatu titik menerima kenyataan bahwa Iran kembali membangun kemampuan militernya, setiap serangan yang berhasil justru menciptakan alasan bagi serangan berikutnya.

Artikel ini perama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid

Lihat juga Video Wapres AS: Harga Minyak Tinggi karena Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz




(ita/ita)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork