Iran melancarkan serangan rudal dan drone terhadap sejumlah kepentingan Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah pada Rabu (2/9), sebagai balasan usai AS kembali menyerang target-target militer Iran. Eskalasi terbaru memperluas kembali konflik yang telah berlangsung lebih dari enam bulan dan melibatkan sejumlah negara sekutu Washington di kawasan.
Media Iran melaporkan bahwa Teheran meluncurkan rudal balistik ke dua pangkalan AS di Yordania. Militer Yordania mengatakan telah mencegat 10 rudal yang ditembakkan dari Iran, sementara tiga rudal lainnya jatuh di wilayah terpencil yang tidak berpenduduk. Tidak ada laporan resmi mengenai korban atau kerusakan dari serangan tersebut.
Serangan Iran juga dilaporkan terjadi di Kuwait dan Bahrain. Militer Iran mengatakan drone mereka menargetkan pasukan AS di sebuah pangkalan udara di Bahrain. Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya mencegat serangan drone, sementara Bahrain mengatakan seluruh serangan berhasil dicegat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eskalasi terjadi setelah AS menyerang sejumlah target di Iran pada Selasa (1/9), menyusul serangan sebelumnya pada Minggu (30/8). Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan terbaru menyasar sistem pertahanan udara, radar, peluncur roket, dan aset maritim Iran.
Washington mengatakan serangan Minggu diarahkan terhadap peluncur roket di Pulau Larak untuk mencegah Iran memasang ranjau laut di jalur pelayaran Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran bahwa serangan balasan akan dibalas lebih keras. "Mereka akan diserang lagi pada tingkat yang jauh lebih keras dan lebih tinggi," tulis Trump di media sosial.
Iran menyebut serangan AS menewaskan warga sipil. Media pemerintah Iran melaporkan sebuah rumah di Kuhestak yang menjadi lokasi pesta pernikahan terkena serangan. Wakil Gubernur Hormozgan Ahmad Nafisi mengatakan lima orang, termasuk seorang anak, tewas dan sedikitnya 68 lainnya terluka.
CENTCOM mengatakan mengetahui laporan tersebut, tetapi menyebutnya berasal dari media pemerintah Iran. Juru bicara CENTCOM Tim Hawkins mengatakan, "Militer AS tidak pernah menargetkan warga sipil, tidak seperti IRGC."
Juru bicara Garda Revolusi Iran Hossein Mohebi memperingatkan Washington bahwa "hukuman berat menanti para agresor". Sementara itu, Ebrahim Zolfaghari memperingatkan negara-negara yang membantu AS akan menghadapi "respons yang lebih keras, lebih luas dan lebih menghancurkan".
Trump tolak paksa Iran kembali ke meja perundingan
Trump pada Selasa malam (1/9) mengatakan tidak bermaksud memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
"Saya tidak peduli jika mereka menandatangani kesepakatan yang tidak berarti bagi mereka. Saya jauh lebih menyukai posisi kita sekarang, dengan hampir kendali penuh atas Selat Hormuz dan ekonomi mereka yang benar-benar runtuh," tulis Trump.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan Washington akan terus memberikan tekanan ekonomi. "Kami akan terus memberikan tekanan," katanya dalam pertemuan G20 di North Carolina.
Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya menyatakan Teheran masih terbuka pada diplomasi. Pada Selasa, ia mengatakan Iran siap kembali ke kesepakatan gencatan senjata sementara jika AS juga memenuhi komitmennya.
"Jika AS kembali pada komitmennya dalam nota kesepahaman, Republik Islam Iran akan segera melakukan hal yang sama," kata Pezeshkian.
Sehari sebelumnya, Pezeshkian mengatakan melanjutkan perang bukan kepentingan Iran maupun kawasan. "Solusi atas masalah yang ada adalah dialog dan kerja sama," katanya.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyerukan AS kembali memenuhi komitmennya. "Solusinya sepenuhnya jelas dan sederhana: Amerika Serikat harus kembali pada komitmennya," katanya.
Selat Hormuz tetap jadi titik konflik
Pertukaran serangan berlangsung ketika kedua negara masih berselisih mengenai kendali atas Selat Hormuz. Iran mempertahankan penutupan efektif jalur pelayaran tersebut, sementara AS menjalankan blokade tandingan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat tersebut. Konflik terbaru telah mendorong harga minyak dan meningkatkan tekanan terhadap pasar global.
Harga minyak mentah telah naik sekitar 7 persen sepanjang pekan ini setelah bentrokan kembali terjadi, sementara harga minyak mentah secara keseluruhan telah meningkat lebih dari 50 persen sepanjang tahun. Di AS, harga rata-rata bensin reguler mencapai 4,10 dolar per galon, dibandingkan 3,19 dolar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Washington mengatakan memiliki kendali atas Selat Hormuz dan pekan lalu menyatakan telah menyelesaikan pembersihan bahan peledak di jalur tersebut. Iran tetap menyatakan dirinya mengendalikan jalur pelayaran itu.
Garda Revolusi Iran sebelumnya mengklaim sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah menabrak dua ranjau ketika melewati rute yang disebutnya ilegal. Militer AS membantah klaim tersebut sebagai disinformasi dan menyatakan, "Tidak ada kapal yang menabrak ranjau di Selat Hormuz."
Sementara itu, perusahaan manajemen risiko maritim Yunani Marisks melaporkan dua kapal tanker minyak mentah terkena "proyektil tak dikenal" pada Senin malam. Badan UK Maritime Trade Operations mencatat salah satu insiden tersebut dan mengatakan tidak ada korban maupun dampak lingkungan yang dilaporkan.
Setelah enam bulan perang, kedua pihak masih berada dalam kebuntuan. Serangan terbaru kembali meningkatkan risiko konflik terbuka di kawasan, sementara upaya diplomatik untuk menghidupkan kembali kesepakatan antara Washington dan Teheran belum menghasilkan terobosan.
Editor: Rizki Nugraha
Lihat juga Video 'Rudal AS Serang Acara Pernikahan di Iran, 4 Tewas':










































