Sistem Pengawasan China Makin Canggih, Warga Asing Dipantau

Sistem Pengawasan China Makin Canggih, Warga Asing Dipantau

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 25 Mei 2026 13:50 WIB
Sistem Pengawasan China Makin Canggih, Warga Asing Dipantau
Jakarta - Seorang pakar keamanan siber mengungkap bagaimana sistem pengawasan terbaru Cina kini mampu melacak individu secara menyeluruh. Teknologi ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pengenalan wajah di resor ski hingga detail kursi di kereta, untuk membangun profil lengkap seseorang.

Seorang peneliti keamanan siber dengan nama samaran NetAskari baru-baru ini mengklik tab bertuliskan "Pencarian data jurnalis" di sebuah dasbor web Cina yang tidak terlindungi, ia awalnya mengira akan menemukan kumpulan data tiruan yang dibuat otomatis.

Namun, yang muncul justru wajah-wajah yang ia kenal. Ternyata itu adalah basis data lengkap hampir semua jurnalis asing yang berbasis di Beijing sekitar tahun 2021. Data tersebut mencakup foto paspor resmi yang diambil di kantor imigrasi, nomor ponsel pribadi, rincian visa, hingga tanggal lahir. Ia bahkan menemukan data pribadinya sendiri tersimpan dalam daftar pantauan polisi Cina.

"Ini lebih menarik daripada mengejutkan," kata NetAskari kepada DW. "Saat bekerja sebagai jurnalis di Cina, pada dasarnya Anda menganggap diri selalu berada dalam pengawasan. Namun, yang mengejutkan saya adalah betapa mudahnya mengakses sistem yang sangat sensitif ini," tambahnya.

Pengawasan berbasis data terpadu

Temuan tersebut merupakan bagian dari sistem yang disebut "profil holografik", yakni model pengawasan yang menggabungkan berbagai sumber data secara real time.

Sistem ini dikembangkan untuk Biro Keamanan Publik di Zhangjiakou, lokasi Olimpiade Musim Dingin 2022. Pengawasan tidak lagi hanya mengandalkan kamera CCTV, tetapi telah berevolusi menjadi jaringan berbasis analitik data yang mampu mencatat pergerakan individu secara rinci.

Data itu memperlihatkan arah perkembangan sistem pengawasan negarayang bergerak cepat, dari sekadar jaringan kamera jalanan menjadi mesin pengendalian sosial yang terintegrasi, beroperasi 24 jam, dan mampu memprediksi perilaku.

Selama ini, Cina telah dikenal memiliki jaringan CCTV terbesar di dunia. Melalui proyek nasional "Xueliang" atau "Mata Terang", pemerintah berupaya menyatukan berbagai sistem pengawasan yang tersebar menjadi satu jaringan terpadu.

Namun, data dalam dasbor kepolisian Zhangjiakou menunjukkan tingkat detail pengawasan yang jauh lebih tinggi. Sistem tersebut mampu melacak pergerakan individu dengan sangat rinci, mencerminkan semakin canggihnya kemampuan aparat dalam memantau masyarakat.

Sistem ini tidak lagi bergantung pada kamera pengawas di sudut jalan. Teknologi tersebut mampu merekam secara spesifik gerbong dan nomor kursi kereta yang digunakan seseorang saat bepergian, misalnya dari Beijing atau Shanghai.

Integrasi data juga mencakup foto dari gerbang tiket berbasis pengenalan wajah di resor ski yang langsung tersinkronisasi ke sistem pelacakan. Pergerakan individu, termasuk aktivitas di lokasi wisata, dapat dipetakan secara rinci dengan jejak perjalanan yang jelas.

"Ide dasarnya adalah memproses sebanyak mungkin data dari sebanyak mungkin sensor secara real time," jelas peneliti tersebut.

Tak hanya itu, sistem juga mencatat aktivitas harian seperti konsumsi bahan bakar, lokasi belanja rutin, hingga pola kunjungan ke area tertentu. Seluruh data tersebut kemudian digabungkan untuk membentuk profil individu yang komprehensif, mencakup lokasi fisik, kebiasaan konsumsi, hingga jejak digital.

Jurnalis asing jadi target

Dalam sistem pengawasan yang semakin terintegrasi, warga asing khususnya jurnalis dari negara-negara Barat kini menjadi perhatian utama otoritas Cina.

Data dalam fitur "smart report" menunjukkan aparat keamanan memberi fokus lebih besar pada warga dari negara "Five Eyes", yakni Amerika Serikat, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Kanada. Sejumlah jurnalis bahkan ditandai dengan label khusus yang memungkinkan pelacakan secara real time.

Begitu memasuki suatu wilayah, sistem dapat langsung mengirim peringatan kepada aparat. Situasi ini dinilai menjadi ancaman serius bagi jurnalisme independen di Cina.

Jika sebelumnya jurnalis asing yang meliput wilayah sensitif seperti Xinjiang masih bisa menghindari pengawasan melalui metode konvensional, kini pendekatan tersebut tak lagi efektif. Sistem berbasis algoritma memungkinkan pemantauan tanpa perlu pembuntutan fisik.

"Mereka tidak perlu lagi mengirim beberapa mobil untuk mengikuti Anda," kata NetAskari.

Dengan akses ke data pembayaran digital, tiket perjalanan, dan jaringan sosial, aparat mampu memprediksi pergerakan seseorang secara presisi. Bahkan, interaksi dengan narasumber dapat terdeteksi dan berujung pada tekanan terhadap pihak terkait.

Dalam sistem pengawasan yang semakin tertutup ini, ruang untuk melakukan investigasi secara diam-diam kian menyempit.

Sistem bisa memprediksi pergerakan

Sistem pengawasan ini kian canggih dengan kemampuan menganalisis hubungan antarmanusia dan pola interaksi kelompok. Teknologi tersebut memungkinkan aparat memetakan jaringan sosial tanpa perlu pengawasan fisik yang intensif.

Melalui dasbor utama, sistem secara otomatis membangun grafik jaringan berdasarkan frekuensi interaksi yang tertangkap kamera. Dari analisis ini, aparat dapat mengetahui relasi antarindividu, termasuk tingkat kedekatan dan intensitas pertemuan.

Pengembangan teknologi ini telah berlangsung lama. Pada 2019, perusahaan teknologi Cina Hisense mengajukan paten untuk model relasi menyeluruh yang mencakup data perjalanan, catatan komunikasi, hingga penggunaan kendaraan. Sementara pada 2025, Biro Keamanan Publik Putuo di Shanghai juga menggelontorkan dana sekitar 200.000 dolar AS untuk pengembangan sistem arsip personel terpadu.

Keterbatasan metode pengawasan manual di masa lalu, seperti tingkat kesalahan tinggi dan kebutuhan tenaga besar, kini dengan cepat digantikan oleh algoritma otomatis yang efisien, tanpa lelah, dan sangat akurat.

Memang, negara-negara demokrasi Barat juga menghadapi kontroversi terkait penyalahgunaan teknologi pengawasan seperti Palantir. Namun, menurut NetAskari, perbandingan itu hanya berlaku sampai batas tertentu.

"Di negara demokrasi Barat, masih ada debat. Di Cina, debat itu hampir tidak ada. Polisi dan Kementerian Keamanan Negara bisa melakukan apa saja dengan pengawasan yang relatif minim," jelasnya.

Baik itu jurnalis asing yang menjelajahi lorong sempit di Beijing untuk mencari berita, maupun wisatawan biasa yang sedang berlibur di resor ski, pada akhirnya semua orang menjadi sekadar data dalam sistem besar ini.

NetAskari mengatakan, dalam sistem tersebut manusia direduksi menjadi angka, pola, dan operasi matematis. Mereka berubah menjadi "sekumpulan data" yang bisa dikendalikan, dibentuk, dan ditekan sesuai kebutuhan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Levie Wardana

Editor: Hani Anggraini

(ita/ita)



Berita Terkait