Perang Iran Bikin Pupuk Langka, Harga Pangan Dunia Kena Imbas

Perang Iran Bikin Pupuk Langka, Harga Pangan Dunia Kena Imbas

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 10 Apr 2026 18:30 WIB
Perang Iran Bikin Pupuk Langka, Harga Pangan Dunia Kena Imbas
Jakarta -

Tersendatnya distribusi yang melalui Selat Hormuz bukan hanya membuat kapal tanker minyak berhenti beroperasi. Perang Iran menimbulkan efek domino bagi pasokan pupuk dunia. Masih harus dilihat apakah gencatan senjata sementara yang dicapai pada hari Selasa (07/04) benar-benar mengurangi hambatan ini secara signifikan.

Hampir setengah dari urea yang diperdagangkan di dunia, jenis pupuk berbasis nitrogen yang paling banyak digunakan, berasal dari kawasan Teluk. Dari kawasan yang sama juga memproduksi sekitar seperlima pasokan gas alam cair dunia (LNG).

"Ini benar-benar hanya satu langkah lagi menuju skenario terburuk," kata Josh Linville, analis pasar pupuk global dari perusahaan komoditas StoneX, kepada DW.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pabrik pupuk dan LNG dari Qatar hingga Bangladesh sudah mulai menghentikan produksinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya sangat bergantung pada seberapa cepat Selat Hormuz kembali dibuka setelah kesepakatan gencatan senjata dua minggu tercapai.

Dengan kekurangan bahan bakar dan masalah pupuk yang terjadi bersamaan, harga pangan sangat mungkin naik, dan negara-negara termiskin di dunia akan paling merasakan dampaknya. Sementara itu, pemerintah dan petani dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit untuk beradaptasi.

Pemerintah mencoba menutup celah

Solusi tercepat adalah pemerintah di seluruh dunia dapat menggunakan berbagai kebijakan pasar untuk mencoba mengendalikan pasokan atau permintaan.

India memiliki cadangan beras dan gandum yang besar dan bisa dimanfaatkan jika pasokan menurun. Cina, sebagai produsen pupuk terbesar di dunia, menyimpan cadangan pupuk dalam jumlah sangat besar.

Ketika harga pupuk naik, beberapa pemerintah juga mampu menanggung biaya tersebut sehingga tidak seluruhnya dibebankan kepada petani. Saat Rusia pertama kali menginvasi Ukraina pada 2022 dan memicu guncangan besar pasokan pupuk, India menaikkan subsidi pupuknya hingga 233% di atas anggaran awal.

Banyak negara juga dapat membatasi perdagangan untuk memprioritaskan kebutuhan domestik, seperti yang beberapa kali dilakukan Cina sejak 2021.

Masalahnya, banyak dari opsi ini bersifat "zerosum". Ketika negara seperti Cina menimbun pupuk atau memilih tidak mengekspor, kondisi itu memang membantu produsen dalam negeri, tetapi sekaligus merugikan petani di negara lain. Selain itu, opsi-opsi ini umumnya hanya tersedia bagi negara yang lebih kaya. India mampu memberikan subsidi pupuk, tetapi negara tetangganya seperti Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka kemungkinan besar tidak mampu.

Beralih ke tanaman lain

Pilihan lain bagi petani adalah mengganti tanaman dengan jenis yang membutuhkan lebih sedikit pupuk.

Kedelai dan tanaman polong-polongan lainnya secara alami mampu mengikat nitrogen dari udara sehingga membutuhkan jauh lebih sedikit pupuk dibandingkan tanaman seperti jagung.

Amerika Serikat (AS) memperkirakan penanaman kedelai akan meningkat 4% dibandingkan tahun lalu, sementara jagung turun 3%, berdasarkan laporan pertanian yang dirilis akhir Maret. Prediksi ini didasarkan pada survei yang dilakukan sedikit sebelum krisis pupuk benar-benar memuncak.

Namun, pilihan ini tidak tersedia bagi semua petani. Di Asia, hanya sedikit jenis tanaman yang mampu bertahan pada curah hujan tinggi selama musim monsun. Selain itu, beralih dari produksi padi bukanlah pilihan yang realistis.

"Jika Anda adalah produsen padi di Asia Tenggara, pilihan tanamannya sangat terbatas," ujar Joseph Glauber, mantan kepala ekonom Departemen Pertanian AS yang kini bekerja di International Food Policy Research Institute, kepada DW.

Menggunakan pupuk secara lebih efisien

Jika tidak bisa mengganti jenis tanaman, petani masih bisa mengubah cara mereka mengelola lahannya.

Banyak petani sebenarnya menggunakan pupuk jauh lebih banyak dari yang diperlukan. Perkiraan menunjukkan bahwa tanaman dunia hanya memanfaatkan sekitar setengah dari pupuk yang diaplikasikan secara efektif, sisanya merembes ke air tanah atau terlepas ke udara sebagai nitrogen oksida, gas rumah kaca yang sangat kuat.

Berbagai teknologi dapat membantu penggunaan pupuk yang lebih tepat, seperti drone, kamera, hingga kecerdasan buatan (AI). Bidang ini dikenal sebagai pertanian presisi, yang memantau kondisi tanaman secara detail dan menentukan kapan pupuk dibutuhkan serta berapa jumlah yang tepat.

Meski membantu, teknologi ini sering kali mahal dan sulit diakses dalam jangka pendek, terutama bagi petani di negara-negara miskin. Menurut Avinash Kishore, peneliti sistem pangan di International Food Policy Research Institute, motivasi petani justru sama pentingnya dengan metode yang digunakan.

Ketika pupuk disubsidi, petani cenderung tidak punya dorongan untuk menggunakannya secara hemat. Sebaliknya, ketika harga urea melonjak pada 2022 di Bangladesh, petani mampu mengurangi penggunaannya dan produksi beras tetap stabil.

"Masih ada ruang yang sangat besar untuk menggunakan sumber daya ini secara lebih efisien," kata Kishore. "Tidak perlu suntikan teknologi mahal atau rumit secara tiba-tiba."

Memproduksi pupuk dengan cara berbeda

Ada juga upaya untuk memproduksi pupuk dengan metode alternatif agar hambatan pengiriman global tidak terlalu berdampak besar pada petani.

Pivot Bio, sebuah startup asal Amerika Serikat, mengembangkan metode penggunaan mikroba pada benih yang mampu secara alami mengubah nitrogen dari udara menjadi bentuk yang bisa diserap tanaman. Perusahaan ini menyebutkan bahwa produknya telah digunakan di lahan seluas 5 juta hektare di AS pada 2023 sehingga mengurangi ketergantungan pada LNG.

Namun, seperti pertanian presisi, penerapan teknologi baru merupakan solusi jangka menengah hingga panjang, bukan cara cepat untuk mengatasi krisis saat ini. Yang paling dibutuhkan negara-negara saat ini adalah stabilisasi pasokan pupuk.

"Kita kehilangan pasokan dalam jumlah yang sangat besar, pada skala yang belum pernah kita lihat sebelumnya," ujar Linville dari StoneX.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Hani Anggraini

Editor: Ayu Purwaningsih

Tonton juga video "Perjuangan Produsen Tinta Bertahan di Tengah Lonjakan Harga Minyak"

(ita/ita)


Berita Terkait