Serangan udara ke kediaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, salah satu gelombang awal perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran saat ini, menewaskan pemimpin tertinggi berusia 86 tahun itu beserta sebagian besar struktur komando Iran.
Iran belum memutuskan siapa pemimpin berikutnya.
Namun untuk sementara, kekosongan kekuasaan tampaknya diisi oleh pejabat keamanan nasional tertinggi Iran, Ali Larijani, yang kabarnya menjadi salah satu dari sedikit orang yang dipercaya Khamenei untuk menjaga kelangsungan rezim bila sang ayatullah wafat.
Sekitar 24 jam setelah serangan di Teheran, Larijani tampil di televisi nasional dan media sosial mengecam Amerika Serikat (AS) dan Israel karena telah "membakar jantung bangsa Iran."
"Kami akan membakar hati mereka," ujarnya. "Kami akan membuat para kriminal zionis dan orang-orang Amerika yang tak tahu malu itu menyesali tindakan mereka."
Meski pernyataan keras seperti itu bukan hal mengejutkan disampaikan oleh Larijani, ia juga membangun reputasi internasional sebagai sosok pragmatis.
Selama puluhan tahun berkarier di politik, ia menempatkan dirinya sebagai pengatur kekuasaan yang kejam di dalam negeri sekaligus negosiator yang cakap dalam berurusan dengan Rusia, Cina, bahkan AS.
Namun, dengan AS dan Iran yang kini berada dalam kondisi perang terbuka, Larijani yang berusia 67 tahun langsung membantah pernyataan Presiden Donald Trump yang mengeklaim para pemimpin Iran "ingin berbicara" dan bahwa perundingan akan terjadi, pernyataan yang Trump sampaikan kepada majalah The Atlantic pada hari Minggu (01/03).
"Kami tidak akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat," tulis Larijani di platform X.
"Kennedy" dari Iran
Posisi baru Larijani di puncak hierarki Iran cukup mengejutkan, mengingat ia tidak memiliki peluang untuk secara resmi menggantikan Ali Khamenei. Baik Khamenei maupun pendahulunya, Ruhollah Khomeini, adalah ulama senior Syiah yang diangkat sebagai pemimpin tertinggi sejak Revolusi Islam 1979.
Larijani yang lahir di Irak bukanlah seorang ulama. Namun, ia berasal dari keluarga dengan jaringan keagamaan dan politik yang kuat, serta pernah dijuluki majalah Time sebagai "Keluarga Kennedy dari Iran."
Ayah Larijani adalah seorang ayatullah agung. Saudaranya, Sadeq Ardeshir Larijani, juga meraih gelar ayatullah dan berkarier di politik, bahkan pernah memimpin lembaga peradilan Iran pada 2009–2019. Saudara lainnya, Mohammad-Javad Larijani, adalah tokoh senior kebijakan luar negeri yang pernah menjadi penasihat mendiang Ayatollah Khamenei. Bahkan sebelum kematian Khamenei, beredar rumor bahwa klan Larijani berupaya menempatkan salah satu anggotanya sebagai pemimpin tertinggi berikutnya.
Ayah mertua Ali Larijani, almarhum Morteza Motahhari, juga merupakan sahabat dekat Ruhollah Khomeini dan menjadi asistennya selama Revolusi 1979.
Meski demikian, Ali Larijani secara resmi membangun kekuasaannya melalui sistem politik Iran.
Lahir pada 1958, ia bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada 1981 dan menjadi komandan pada awal perang Iran-Irak. Ia sempat menempuh pendidikan di seminari agama, lalu meraih gelar sarjana ilmu komputer dan matematika, kemudian melanjutkan hingga meraih gelar master dan doktor dalam filsafat Barat di Universitas Teheran. Fokus akademik Larijani, termasuk disertasinya pada 1995, adalah filsuf Jerman, Immanuel Kant.
Tersingkir pada era Ahmadinejad
Selama menempuh pendidikan bidang filsafat, Larijani juga memanfaatkan latar belakang militer dan koneksi keluarganya untuk membangun karier politik. Ia menjadi menteri kebudayaan Iran di usia 30-an. Pada 1994, Ayatollah Khamenei menunjuknya sebagai kepala lembaga penyiaran Iran, jabatan yang diembannya selama satu dekade.
Di sana, Larijani secara jelas menggunakan media penyiaran sebagai alat propaganda pro-pemerintah, termasuk lewat program seperti Hoviat (Identitas) yang secara terbuka melabeli intelektual anti-rezim sebagai pengkhianat yang dibayar Barat.
Larijani pertama kali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005, tetapi hanya meraih kurang dari 6% suara pada putaran pertama dan gagal melaju ke putaran kedua. Pemilu tersebut dimenangkan tokoh garis keras, Mahmoud Ahmadinejad.
Larijani kemudian menjadi sekretaris jenderal Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) sekaligus kepala negosiator nuklir Iran. Ia mundur pada 2007 akibat perbedaan pandangan dengan Ahmadinejad.
Menghadapi sekutu dan lawan Teheran
Ketegangan dengan kelompok garis keras ekstrem terus mempengaruhi karier politik Larijani. Meski begitu, ia terpilih sebagai ketua parlemen pada 2008 dan menjabat selama 12 tahun.
Selama memimpin parlemen, ia berperan penting dalam mengamankan dukungan legislatif bagi perjanjian nuklir (JCPOA) tahun 2015 antara Iran dan enam negara adidaya: AS, Cina, Rusia, Jerman, Inggris, dan Prancis. Perjanjian ini bertujuan untuk membatasi program nuklir Iran sebagai imbalan pengurangan sanksi.
Kesepakatan itu dibatalkan Trump pada masa jabatan pertamanya pada 2018.
Pada 2020, Larijani ditugaskan mengawasi perjanjian kerja sama strategis 25 tahun dengan Cina yang difinalisasi setahun kemudian.
Dilarang ikut pemilu 2021 dan 2024
Berkat kesepakatan dengan Cina yang diproyeksikan bakal mendatangkan investasi senilai 400 miliar dolar AS ke sektor energi Iran, Larijani kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada 2021.
Namun secara mengejutkan, ia didiskualifikasi oleh Dewan Wali Iran tanpa penjelasan resmi. Dewan ini terdiri atas enam ulama yang ditunjuk ayatullah dan enam ahli hukum yang disetujui parlemen.
Sebagian pihak berspekulasi Larijani dilarang maju karena putrinya disebut tinggal di AS dan memiliki paspor Inggris. Ada pula yang menilai langkah itu dilakukan untuk membuka jalan bagi kandidat pilihan rezim, Ebrahim Raisi.
Ayatollah Sadiq Larijani secara terbuka menyatakan saudaranya didiskualifikasi berdasarkan "informasi palsu dari dinas rahasia" dan bahwa "kebohongan" sengaja disebarkan di Dewan Wali.
Kepada DW, analis Iran Ali Afshar saat itu mengatakan alasan utama diskualifikasi adalah karena Larijani "secara terbuka mengkritik Raisi dan anggota Garda Revolusi" serta tidak pernah menyerang tokoh oposisi Mehdi Karroubi dan Mir Hossein Mousavi yang dikenai tahanan rumah sejak 2010.
Ebrahim Raisi kemudian terpilih sebagai presiden. Namun, masa jabatannya berakhir lebih awal setelah ia tewas dalam kecelakaan helikopter pada 2024.
Larijani kembali mencoba maju sebagai calon presiden, tetapi sekali lagi dilarang ikut serta. Pemilu akhirnya dimenangkan tokoh moderat Masoud Pezeshkian.
Orang kepercayaan Khamenei di Moskow
Musim panas lalu, Pezeshkian kembali menunjuk Larijani sebagai sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, menjadikannya pejabat keamanan tertinggi Iran setelah perang 12 hari dengan Israel. Dalam beberapa bulan terakhir, kewenangan dan akses Larijani kepada Khamenei disebut melampaui pengaruh Pezeshkian sendiri.
Larijani dipandang sebagai sosok di balik layar yang mendorong dimulainya kembali perundingan nuklir antara AS dan Iran. Ia juga beberapa kali bepergian ke Moskow, bertindak sebagai utusan Khamenei untuk Presiden Rusia Vladimir Putin. Perjalanannya ke Moskow ini diduga turut dibantu Duta Besar Iran Kazem Jalali, yang juga merupakan orang dekatnya.
Dalam wawancaranya dengan Al Jazeera beberapa hari sebelum serangan AS-Israel, Larijani mengatakan Iran memanfaatkan beberapa bulan terakhir untuk "bersiap" menghadapi perang.
"Kami menemukan kelemahan kami dan memperbaikinya," ujarnya. "Kami tidak mencari perang dan tidak akan memulainy, tetapi jika mereka memaksakannya kepada kami, kami akan merespons."
Artikel ini terbit pertama kali dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Algadri Muhammad
Editor: Hani Anggraini
Saksikan Live DetikSore:
Simak Video 'Iran: Pemilik Cadangan Rudal Balistik Terbesar di Timur Tengah!':
(ita/ita)