Ragu AS Ambil Alih Pulau Kharg, Trump Ancam Bombardir Iran Lebih Kuat

Ragu AS Ambil Alih Pulau Kharg, Trump Ancam Bombardir Iran Lebih Kuat

Isal Mawardi - detikNews
Kamis, 11 Jun 2026 21:50 WIB
US President Donald Trump delivers a speech about the economy at Rockland Community College Fieldhouse in Suffern, New York, on May 22, 2026. Trump is the first sitting president to visit the northern New York City suburbs since Gerald Ford in 1976.
Presiden AS Donald Trump (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Washington -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menegaskan ingin mengambil alih pusat infrastruktur minyak Iran di Pulau Kharg. Namun, ia tak yakin apakah Amerika Serikat punya keberanian untuk mengambil risiko.

"Pilihan saya selalu--ambil alih Pulau Kharg ... pilihan saya adalah itu. Saya tidak tahu apakah Amerika memiliki keberanian untuk itu," katanya dalam sebuah wawancara di Fox News dilansir Reuters, Kamis (11/6/2026).

Setelah lebih dari tiga bulan perang, Iran masih secara efektif menutup Selat Hormuz. Selat Hormuz merupakan jalur pasokan penting untuk pengiriman minyak dan gas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

AS dan Iran saling melancarkan serangan udara hari ini. Trump mengatakan AS akan menyerang Iran lagi dengan serangan yang lebih intensif.

"Akan ada lebih banyak pemboman malam ini. Akan lebih besar--lebih besar, lebih kuat," katanya di program 'Fox & Friends'.

Meski berencana menyerang Iran, Trump mengatakan AS masih berdialog dengan Iran untuk mencapai kesepakatan. Gedung Putih tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah gencatan senjata yang disepakati pada bulan April masih berlaku.

Sumber-sumber di Iran dan pejabat negara Barat mengatakan pembicaraan tidak langsung antara AS-Iran tentang kesepakatan perdamaian awal telah meningkat. Trump sendiri mengutarakan kekecewaannya terhadap pemberitaan media tentang perang Iran serta sikap keras kepala Iran.

"Semuanya gila," kata Trump.

"Mereka benar-benar tunduk. Mereka hanya belum menyadarinya," lanjutnya.

Diketahui, perang AS-Israel vs Iran telah menewaskan ribuan orang, terutama di Iran dan Lebanon. Perang ini berimbas pada kenaikan harga minyak global sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran pada 28 Februari.

Tonton juga video "Trump Puji Inflasi AS di Atas 4%: Angkanya Bagus!"

Halaman 2 dari 2
(isa/rfs)


Berita Terkait