Selama hampir dua pekan terakhir, Donald Trump berulang kali menunjukkan keraguan apakah akan menyerang Iran. Di tengah penindasan brutal terhadap para demonstran anti-rezim, Presiden Amerika Serikat itu sempat menjanjikan "tindakan yang sangat keras" terhadap Republik Islam.
Namun, pada Rabu (14/01) pekan lalu, dia menarik kembali ancaman tersebut. Dia mengaku sudah mendapat informasi dari "sumber-sumber yang sangat penting di pihak seberang" bahwa "pembunuhan di Iran mulai berhenti".
Di sisi lain, kapal induk Amerika Serikat dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah. AS juga menarik personel militer dari sejumlah pangkalan strategis di kawasan. Ditambah penutupan sementara wilayah udara Iran awal pekan lalu, muncul indikasi bahwa serangan mungkin akan segera terjadi.
DW meminta pandangan sejumlah pakar mengenai opsi yang dimiliki Amerika Serikat di Iran.
Apa opsi militer bagi AS di Iran?
Jawabannya sangat bergantung pada tujuan serangan, kata mantan Kolonel Korps Marinir AS, Mark Cancian.
"Serangan militer tidak akan mampu menghentikan pembunuhan para demonstran oleh otoritas Iran. Namun, Amerika Serikat bisa menyerang pasukan keamanan — kemungkinan Garda Revolusi — untuk menghukum Iran dan menunjukkan kepada aparat keamanan bahwa mereka rentan," ujar Cancian, yang kini bekerja di lembaga pemikir Center for Strategic and International Studies (CSIS), Washington.
Ashok Swain, Kepala Departemen Riset Perdamaian dan Konflik di Universitas Uppsala, Swedia, sependapat bahwa keterlibatan militer apa pun harus bersifat "terbatas" dan memiliki tujuan yang jelas, seperti melindungi pasukan AS atau sekutunya.
"Biasanya ini mengarah pada postur penangkalan regional — pertahanan udara dan rudal, perlindungan laut, serta garis merah yang tegas — dikombinasikan dengan tindakan yang sangat selektif dan dapat dipertanggungjawabkan ketika diperlukan," ujarnya.
Kedua pakar sepakat bahwa penggunaan teknologi canggih seperti pembom siluman B-2 dan rudal-rudal lain yang digunakan dalam Operasi Midnight Hammer terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu tidak relevan dalam konteks ini.
"Bisa saja dikerahkan, tetapi tidak diperlukan," kata Cancian. "Rudal jarak jauh seperti Tomahawk lebih efektif. Pesawat pembom B-2 digunakan dalam Midnight Hammer karena ia satu-satunya pesawat yang mampu membawa bom khusus untuk target yang terkubur dalam."
Swain menambahkan, "Serangan semacam itu adalah peristiwa berisiko tinggi dan menentukan secara politik, sulit dibatasi, mudah disalahartikan, dan sangat mungkin memicu pembalasan terhadap pasukan dan mitra AS di kawasan."
Apa dampak eskalasi?
Dampaknya dinilai bervariasi, bergantung pada bentuk serangan yang dipilih. Namun, pakar hubungan internasional Mohammad Eslami dari European University Institute mengingatkan agar AS berhati-hati.
"Setiap aksi militer AS kemungkinan hanya menghasilkan keuntungan strategis minimal, tetapi secara dramatis meningkatkan ketidakstabilan kawasan, mengekspor rasa tidak aman ke seluruh Timur Tengah, dan justru memperkuat tekad Iran," ujarnya.
Menurut Swain, tindakan apa pun yang melampaui serangan terbatas terhadap target tertentu di negara berkekuatan nuklir yang berpengaruh di Timur Tengah akan berbiaya mahal bagi AS.
"Langkah yang lebih luas dengan cepat berubah menjadi eskalasi, memperkuat kelompok garis keras, dan membuat warga sipil menanggung dampaknya," katanya.
Cancian menilai misi terbatas kemungkinan besar menjadi satu-satunya opsi yang dipertimbangkan dan tidak akan menimbulkan konsekuensi serius. "Amerika Serikat tidak akan menyerang dekat para demonstran atau lokasi bentrokan. Targetnya mungkin markas dan pangkalan pasukan keamanan," ujarnya.
Mungkinkah AS tangkap Ayatollah Ali Khamenei?
Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS awal bulan ini dipuji pemerintahan Trump sebagai keberhasilan strategis besar. Namun, para pakar yang diwawancarai DW menilai taktik serupa hampir mustahil diterapkan terhadap Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sejak 1989.
Eslami mengakui bahwa "pembunuhan secara teoretis mungkin dilakukan", tetapi secara praktis hampir mustahil karena "struktur internal Iran, kedalaman geografis, dan loyalitas mutlak Sepah-e Vali-e Amr — unit rahasia Garda Revolusi yang bertugas melindungi Khamenei.
Cancian menambahkan bahwa sifat protes dan respons rezim membuat skenario tersebut, sekalipun mungkin, tidak realistis saat ini.
"Amerika Serikat tidak memiliki pasukan yang dibutuhkan atau waktu persiapan berminggu-minggu. Target ini juga jauh lebih sulit, lebih jauh dari AS dan dari titik peluncuran di Teluk Persia," katanya.
Apa opsi non-militer AS di Iran?
Mengingat terbatasnya opsi militer bagi pemerintahan Trump, langkah yang kurang dramatis justru bisa menjadi pilihan lebih cerdas. Swain menyebut sejumlah "opsi yang jarang dibahas", antara lain tekanan finansial terhadap entitas yang terlibat represi, langkah pertahanan regional untuk mengurangi pengaruh Iran — seperti pertahanan rudal dan keamanan maritim — serta diplomasi yang menggabungkan insentif dan tekanan.
Dia menambahkan bahwa dukungan terhadap rakyat Iran secara halus sering kali berdampak lebih besar daripada yang disadari. "Dukungan terselubung terhadap masyarakat sipil dan akses informasi biasanya berada di latar belakang, tetapi ia paling efektif ketika dilakukan secara diam-diam, berkelanjutan, dan kredibel — bukan ketika ia disandingkan dengan eskalasi militer yang memberi Teheran alasan melabeli semua perlawanan sebagai rekayasa asing."
Bagi Cancian, "memulihkan akses Internet [yang telah diblokir selama lebih dari sepekan] akan menjadi langkah paling membantu bagi para demonstran. Itu memungkinkan mereka berjejaring, berbagi informasi, dan mengoordinasikan gerakan."
Sementara itu, Eslami menekankan pertanyaan mendasar: apakah keputusan-keputusan ini layak ditentukan sepihak oleh AS. "Satu-satunya opsi berkelanjutan adalah kembali pada hukum internasional, diplomasi, dan institusi multilateral. Intervensi sepihak yang berkelanjutan hanya memperkuat ketidakstabilan dan mengikuti pola pasca-Perang Dunia II, di mana keterlibatan militer secara konsisten menghasilkan ketidakamanan jangka panjang, bukan ketertiban," ujarnya.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Rizki Nugraha
Editor: Yuniman Farid
Saksikan Live detikSore:
Tonton juga video "Gedung Putih Sebut Trump Tak Takut Pakai Kekuatan Militer Lawan Iran"
(ita/ita)