Iran menuduh Israel sebagai dalang di balik serangan terhadap fasilitas minyak Aramco di Arab Saudi pada Senin (2/3) pagi waktu setempat. Teheran menyebut serangan terhadap terhadap fasilitas minyak Saudi merupakan contoh operasi "bendera palsu" dari Tel Aviv.
Tuduhan itu dilaporkan oleh kantor berita Iran, Tasnim, yang mengutip sumber militer yang memahami informasi tersebut, seperti dilansir pada Selasa (3/3/2026).
Fasilitas minyak Saudi turut dilanda serangan saat Iran melancarkan serangan pembalasan terhadap negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat (AS), menyusul gelombang serangan oleh Washington dan Tel Aviv sejak Sabtu (28/2) waktu setempat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbicara kepada Tasnim, sumber militer tersebut mengatakan bahwa serangan terhadap Aramco di Saudi merupakan "operasi bendera palsu" atau "false flag operation" oleh Israel. Operasi bendera palsu adalah tindakan politik atau militer yang dilakukan dengan tujuan menyalahkan lawan atas tindakan tersebut.
Tujuan Israel, menurut sumber itu, adalah untuk mengalihkan perhatian negara-negara kawasan dari kejahatan Israel dalam menyerang situs-situs sipil di Iran.
"Iran telah secara terang-terangan mengumumkan bahwa mereka akan menargetkan semua kepentingan, instalasi, dan fasilitas Amerika dan Israel di kawasan tersebut, dan telah menyerang banyak di antaranya sejauh ini," kata sumber militer yang dikutip Tasnim tersebut.
"Tetapi fasilitas Aramco sejauh ini belum termasuk di antara target serangan Iran," sebut sumber itu.
Ditambahkan oleh sumber militer ini bahwa pelabuhan Fujairah di Uni Emirat Arab (UEA) akan menjadi target selanjutnya dari "operasi bendera palsu" yang dilancarkan oleh Israel.
"Menurut data yang diberikan kepada kami oleh sumber-sumber intelijen, pelabuhan Fujairah di UEA juga merupakan salah satu target berikutnya dari Israel dalam operasi bendera palsu, dan rezim ini bermaksud untuk menyerangnya," ucap sumber militer tersebut kepada Tasnim.
Tuduhan Iran ini dilontarkan setelah Saudi, pada Senin (2/3), mencegat dua drone yang menargetkan kilang minyak raksasa, Ras Tanura di bagian timur negara itu.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki al-Maliki, mengatakan bahwa puing-puing yang jatuh dari drone-drone yang dicegat itu menyebabkan kebakaran "kecil". Namun, dia memastikan bahwa tidak ada warga sipil yang terluka.
Ras Tanura merupakan salah satu fasilitas penyulingan dan ekspor minyak terbesar di dunia. Imbas serangan drone itu, otoritas Saudi Aramco yang mengelola kilang minyak itu menutup sementara operasional kilang minyak Ras Tanura.
Lihat juga Video: Iran Serang Kilang Minyak Aramco di Saudi, Pekerja Dievakuasi











































