Populasi Bumi Tembus 8 Miliar Manusia, Sumber Daya Terancam

ADVERTISEMENT

Populasi Bumi Tembus 8 Miliar Manusia, Sumber Daya Terancam

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Senin, 07 Nov 2022 15:38 WIB
Jakarta -

Tanggal 15 November menjadi tonggak sejarah baru bagi kehidupan manusia, di mana populasi Bumi telah menembus angka delapan miliar manusia. Sebagian besar ahli berpendapat bahwa masalah besarnya bukan terletak pada angka populasi, melainkan tingkat konsumsi sumber daya yang berlebihan oleh para penduduk terkaya di planet ini.

"Delapan miliar orang, ini adalah tonggak sejarah penting bagi kemanusiaan," kata kepala Badan Kependudukan PBB Natalia Kanem, yang juga turut menyerukan adanya peningkatan harapan hidup serta jumlah kematian ibu dan anak yang semakin berkurang.

"Namun, saya menyadari momen ini mungkin tidak dapat dirayakan oleh semua orang. Beberapa menyatakan keprihatinannya bahwa dunia kita ini kelebihan penduduk. Menurut saya, banyaknya nyawa manusia bukanlah alasan untuk kita takut."

Banyak ahli berpendapat bahwa padatnya populasi Bumi saat ini bukanlah masalah utamanya. Alih-alih fokus pada ketakutan akibat kelebihan penduduk, mereka justru menekankan topik permasalahan konsumsi sumber daya yang berlebihan oleh para oknum terkaya di planet ini.

"Terlalu banyak ini untuk siapa, berlebihan ini untuk apa? Jika Anda bertanya kepada saya, apakah saya terlalu berlebih? Saya rasa tidak," kata Joel Cohen dari Laboratorium Populasi Universitas Rockefeller kepada media AFP.

Cohen juga menambahkan bahwa pertanyaan tentang berapa banyak orang yang dapat didukung oleh Bumi ini memiliki dua sisi, yakni secara batas alam dan pilihan manusia itu sendiri.

'Bodoh dan serakah'

Manusia lebih banyak memilih mengonsumsi sumber daya alam Bumi, seperti hutan dan tanah, daripada sumber daya yang dapat diregenerasikan kembali oleh planet ini setiap tahunnya.

Seperti halnya dengan konsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan juga telah menyebabkan lebih banyak emisi karbon dioksida di atmosfer dan bertanggung jawab atas pemanasan global.

Manusia membutuhkan biokapasitas sekitar 1,75 Bumi untuk memenuhi kebutuhan populasi yang lebih berkelanjutan, menurut Global Footprint Network dan WWF.

Laporan iklim terbaru PBB juga menyebutkan bahwa pertumbuhan penduduk bumi sebagai salah satu penyebab utama meningkatnya efek gas rumah kaca. Namun ternyata, angka pertumbuhan penduduk hanya memainkan peran yang lebih kecil daripada pertumbuhan ekonomi di planet ini.

"Kita bodoh. Kita tidak memiliki pandangan yang jauh ke depan. Kita serakah. Kita tidak menggunakan informasi yang kita miliki. Di situlah letak pilihan dan masalahnya," tambah Cohen.

Meskipun begitu, Cohen menolak gagasan yang menyebutkan bahwa manusia adalah kutukan di planet ini. Dia justru mengatakan bahwa manusia dapat memiliki potensi untuk memilih pilihan yang lebih baik.

"Dampak kita di planet ini lebih disebabkan atas dorongan perilaku kita daripada jumlah kita," kata Jennifer Sciubba, seorang peneliti di Pusat Wilson.

"Sungguh malas dan begitu merusak untuk terus-menerus kembali ke (topik) kelebihan penduduk," tambah Sciubba. Dia berpendapat bahwa hal ini akan memungkinkan oknum-oknum di negara-negara kaya yang paling banyak mengonsumsi sumber daya bumi, untuk terus menyalahkan kesengsaraan planet ini ke negara-negara berkembang dengan angka pertumbuhan populasinya yang cukup tinggi.

"Nyatanya, ini tentang kita. Ini tentang saya dan Anda, AC yang saya nikmati, kolam renang yang saya miliki di luar (rumah), dan daging yang saya makan di malam hari, yang menyebabkan lebih banyak kerusakan."

Menurut WWF, jika semua orang di planet ini hidup seperti warga India, kita hanya perlu kapasitas 0,8 Bumi per tahunnya. Sedangkan, jika semua manusia mengonsumsi layaknya warga Amerika Serikat, justru kita membutuhkan lima planet Bumi dalam setahun.

PBB memperkirakan bahwa planet ini akan menjadi rumah bagi 9,7 miliar manusia pada tahun 2050 mendatang.

Pengendalian angka kelahiran

Salah satu pertanyaan sulit yang muncul ketika membahas persoalan kependudukan adalah tentang pengendalian angka kelahiran. Bahkan bagi sebagian besar yang percaya bahwa Bumi perlu menurunkan angka populasinya, masih tetap bersikukuh untuk melindungi hak-hak perempuan tersebut.

Direktur Eksekutif NGO Population Matters Robin Maynard mengatakan bahwa perlu adanya penurunan angka populasi, tetapi "hanya melalui cara yang positif, sukarela, serta tetap menghormati hak-hak" dan bukan "sebuah contoh yang menyedihkan" dari upaya pengendalian populasi itu sendiri.

LSM Project Drawdown mengusulkan solusi meningkatkan pendidikan dan program keluarga berencana sebagai beberapa dari 100 solusi teratas untuk menghentikan pemanasan global.

"Populasi yang lebih kecil dengan tingkat konsumsi yang berkelanjutan, akan mengurangi permintaan energi, transportasi, material, makanan, dan sumber daya alam."

Vanessa Perez dari Institut Sumber Daya Dunia berpendapat bahwa "setiap orang yang lahir di planet ini memberikan tekanan tambahan pada planet ini."

"Ini adalah masalah yang sangat pelik," kata Perez. Dia juga menambahkan bahwa penduduk bumi harus menolak "gagasan bahwa grup elit telah menangkap narasi ini dan mengatakan bahwa kita perlu membatasi pertumbuhan penduduk di wilayah Selatan."

Perez percaya debat yang paling menarik bukanlah tentang jumlah penduduknya, melainkan "distribusi dan pemerataan."

Cohen juga menunjukkan bahwa meskipun saat ini kita menghasilkan pasokan makanan yang cukup untuk delapan miliar orang, masih ada 800 juta lainnya yang "kekurangan gizi secara kronis."

"Konsep 'berlebihan' ini menghindari masalah yang jauh lebih sulit, yaitu: apakah kita menggunakan ilmu kita untuk membuat populasi manusia saat ini menjadi lebih sehat, produktif, bahagia, damai, dan sejahtera semampu kita?"

kp/hp (AFP)

(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT