Kisah Para Istri yang Ditinggalkan Suami Melarikan Diri dari Rusia

ADVERTISEMENT

Kisah Para Istri yang Ditinggalkan Suami Melarikan Diri dari Rusia

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 01 Nov 2022 14:50 WIB
Jakarta -

Pada minggu keempat mobilisasi parsial Rusia yang dimulai pada 21 September, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kebijakan ini akan segera usai. Namun, dia tidak memberikan tanggal pastinya.

Kantor perekrutan di Moskow telah ditutup, tetapi di seluruh bagian lain di Rusia masih tetap buka. Menurut angka resmi, 300.000 warga akan direkrut menjadi tentara Rusia, dan Putin mengatakan sedikitnya 222.000 orang telah dipanggil untuk berperang di Ukraina.

Banyak pria yang menghindari wajib militer kini telah meninggalkan Rusia dan keluarga mereka. Berikut kisah tiga istri para desertir kepada DW. Agar mereka tetap aman, nama mereka telah diubah.

Daria, 25 tahun: Rasanya semuanya akan menjadi abu

Daria, seorang copywriter dari Chelyabinsk di wilayah Ural tenggara, sebelumnya sama sekali tidak tertarik dengan politik. Dia merasa perang adalah bencana dan berusaha untuk tidak memikirkannya. Ketika mobilisasi parsial dimulai, Daria khawatir akan nasib suaminya, Alexei. Dia mempelajari hukum terkait mobilisasi parsial dan pasangan itu memutuskan Alexei harus meninggalkan negara itu.

Karena Alexei tidak punya paspor, rencananya ia akan menuju Kazakhstan yang bisa dicapai tanpa memerlukan dokumen perjalanan tersebut.Malam sebelum Alexei berangkat, Daria sibuk mengurus semua persiapan, termasuk mencari apartemen untuk suaminya dan mencari rute paling aman untuk menyeberang perbatasan.

Alexei mengikuti rencana istrinya dan melintasi perbatasan tanpa hambatan. Dia menetap di sebuah apartemen di ibu kota Kazakhstan, Astana. Di sana dia bekerja sebagai fotografer.

Daria mengirimi bantal, selimut, tempat tidur, pakaian hangat dan alat masak air untuk sang suami. Daria juga telah mengajukan paspor dan berencana untuk segera bergabung. Dia bersyukur mereka belum memiliki anak.

Namun Daria khawatir akan orang tuanya di Chelyabinsk. "Mereka patriotik," kata Daria. "Saya tidak bisa mengubah pendirian mereka. Di sini, ada perasaan semuanya akan menjadi abu."

Olga, 32: Putra kami belum mengerti di mana ayahnya

Ketika Putin memerintahkan mobilisasi parsial, Olga, dari Murmask di ujung utara, langsung berpikir bahwa pihak berwenang akan memanggil semua orang yang berbadan sehat. Dia dan suaminya Artyom memutuskan Artyom harus meninggalkan negara itu.

Keluarganya tidak senang dengan keputusan itu, tetapi tidak ikut campur. Ibu Artyom punya rumah di wilayah Donetsk, dan ingin menjadi orang Rusia. Ayah Artyom berpendapat bahwa putranya seharusnya ikut berperang.

"Kami berbicara dengan keluarga dan mengumpulkan bantuan uang untuk perjalanan. Kami mencari tiket, tetapi tidak ada," katanya. "Artyom mengemasi tasnya sendiri, dia tahu banyak tentang perjalanan - dia membawa ransel, kantong tidur, pakaian dalam hangat, kotak P3K, dan makanan."

Artyom meninggalkan Murmansk pada 27 September ke Kazakhstan setelah menempuh dua hari perjalanan. Artyom sekarang sudah punya izin tinggal di Kazakhstan. Dia dan pria lain yang melakukan perjalanan bersama kini tinggal dan berbagi apartemen di Almaty. Olga yang adalah guru TK masih terus melanjutkan rutinitas hariannya di tempat kerja.

Pasangan itu punya seorang putra berusia empat tahun dan ini adalah pertama kalinya keluarga itu berpisah untuk waktu yang lama. Mereka masih berkomunikasi lewat Messenger dengan merekam video. "Putra kami belum mengerti di mana ayahnya. Ketika dia melihatnya di video, dia menangis dan ingin berbicara dengannya," kata Olga. "Dia merindukan ayahnya."

Elena, 41: Kesulitan ini akan menguatkan kami

Elena, seorang psikolog, tinggal di Arkhangelsk di utara Rusia. Ketika berita tentang mobilisasi parsial melanda, dia dan suaminya memutuskan bahwa sang suami dan putra mereka harus melarikan dirike Armenia.

Putra pasangan baru saja menyelesaikan dinas militernya di musim panas dan adalah mahasiswa di sebuah universitas. "Saya tidak ingin mempertaruhkan nyawa dan kesehatan putra saya," kata Elena.

Ketika perang dimulai, perusahaan suami Elena melakukan pekerjaan jarak jauh untuk pindah ke ibu kota Armenia, Yerevan. Jadi jelas sudah ke mana dia dan putra mereka akan pergi. Elena takut perbatasan Rusia keburu ditutup, berangkat ke perbatasan Georgia pada 24 September. Ia yang mengatur semua logistiknya.

Sekarang suami dan putra Elena menetap di Yerevan, terbiasa dengan masakan Armenia. Transfer uang adalah masalah yang sulit.

Meskipun berpisah, Elena merasa lebih baik. Ia mengatakan bahwa keluarga mereka sedang menyesuaikan diri dan tantangan ini tidak akan menghancurkan mereka tetapi malah membuat mereka lebih kuat.

Pada akhir Oktober, Elena berencana mengunjungi suami dan putranya dan membawakan mereka pakaian hangat. Dia sendiri belum berencana untuk pindah ke Yerevan. Dia aktif di sebuah komunitas di Arkhangelsk dan ingin tinggal di sana selama mungkin. ae/hp

Lihat Video: Rudal Ukraina Hantam Wilayah Luhansk, 1 Orang Tewas

[Gambas:Video 20detik]




(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT