ADVERTISEMENT

Ulama Ternama Irak Muqtada al-Sadr Mundur dari Politik, Baghdad Rusuh

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 31 Agu 2022 12:15 WIB
Jakarta -

Pengunduran diri ulama berpengaruh dari kalangan muslim Syiah di Irak, Muqtada al-Sadr, pada hari Senin (29/08) dari dunia politik memicu terjadinya bentrokan dengan kekerasan di ibu kota Irak, Baghdad. Hingga berita ini diturunkan, sedikitnya 22 orang diberitakan tewas dalam kerusuhan ini.

Selain mundur dari dunia politik, al-Sadr juga mengumumkan penutupan kantornya lantaran kebuntuan politik di negara itu.

"Saya telah memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan politik. Oleh karena itu sekarang saya mengumumkan pensiun definitif," ujar al-Sadr dalam sebuah pernyataan di Twitter. Dia juga mengatakan "jika saya mati atau terbunuh, saya meminta doa Anda."

Al-Sadr adalah pemain lama di kancah politik negara Timur Tengah ini. Ia selama ini dikenal sebagai pengkritik sesama pemimpin politik Syiah di Irak karena gagal bertindak atas seruannya untuk melakukan reformasi.

Tanpa merinci penutupan kantornya, al-Sadr mengatakan bahwa beberapa lembaga budaya dan agama yang ia pimpin akan tetap buka.

Saat berita kekerasan akibat bentrokan antara pendukungnya dan kelompok-kelompok saingan mulai menyebar, al-Sadr mengumumkan bahwa ia memulai aksi mogok makan sampai bentrokan tersebut berhenti.

Pendukung al-Sadr duduki Istana Republik

Pengumuman pengunduran diri al-Sadr disusul oleh ratusan pendukungnya yang bergegas menggeruduk istana pemerintah, yang menjadi tempat bagi kantor-kantor utama Perdana Menteri sementara Irak, Mustafa al-Kadhimi.

Kadhimi mengatakan dia menangguhkan semua rapat kabinet hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Para pengunjuk rasa menggunakan tali untuk merobohkan tembok penghalang yang melindungi istana pemerintah. Hal ini mendorong militer Irak menyerukan pengunjuk rasa untuk segera menarik diri dari Zona Hijau. Militer mendesak para pengunjuk rasa untuk berlatih menahan diri untuk mencegah bentrokan atau pertumpahan darah lebih lanjut di Irak, menurut sebuah pernyataan.

Tentara setempat umumkan pemberlakuan jam malam mulai pukul 15:30 untuk semua wilayah Baghdad, tapi hal itu tidak cukup menghalangi pengikut al-Sadr memasuki Istana Republik dan meneriakkan slogan-slogan seperti "rakyat ingin menggulingkan rezim."

Saksi mata mengatakan kepada wartawan bahwa mereka mendengar tembakan dan melihat petugas keamanan menembakkan gas air mata di dalam Zona Hijau. Sementara di luar Zona Hijau, puluhan pemuda yang setia kepada al-Sadr dan pendukung kelompok Syiah saingannya yang didukung Iran saling melempar batu dan bentrok di jalan.

Ada juga laporan bahwa protes telah menyebar di luar Baghdad, termasuk demonstran yang memblokir akses ke bandara di kota pelabuhan utama Umm Qasr, sekitar 560 kilometer dari ibu kota.

Iran tutup perbatasan

Iran telah menutup perbatasannya dengan Irak, menghentikan penerbangan, dan mendesak warganya untuk menghindari bepergian ke negara itu, kata seorang pejabat senior pada Selasa (30/08).

"Perbatasan dengan Irak telah ditutup. Karena masalah keamanan, warga Iran perlu menahan diri untuk tidak bepergian ke Irak sampai pemberitahuan lebih lanjut," kata Wakil Menteri Dalam Negeri Iran Majid Mirahmadi dikutip televisi pemerintah.

Media pemerintah milik negara tetangga Irak, yakni Kuwait, juga mengatakan pemerintah mereka mendesak semua warganya untuk segera angkat kaki dari Irak.

Juru bicara Gedung Putih, John Kirby, mengatakan kepada wartawan bahwa Amerika Serikat belum berencana mengevakuasi kedutaan besarnya di Irak. Dia mendesak agar keadaan di negara itu segera tenang dan mengatakan bahwa "sekarang adalah waktu untuk dialog, bukan konfrontasi."

"Kami mendesak mereka yang terlibat untuk tetap tenang, untuk tidak melakukan kekerasan dan mengejar jalan damai untuk pemulihan," tambahnya.

Mengapa terjadi kebuntuan politik di Irak?

Meskipun telah memenangkan bagian terbesar dari kursi dalam pemilihan umum Oktober lalu, kebuntuan politik antara al-Sadr dan saingan Syiahnya yang terhubung dengan Iran telah membuat negara itu berjalan tanpa adanya pemerintahan.

Pada bulan Juni, al-Sadr menarik anggota parlemennya dari parlemen setelah gagal membentuk pemerintahan pilihannya. Sejak bulan lalu, para pendukungnya telah menduduki parlemen dan menggelar protes di dekat gedung-gedung pemerintah.

Dengan terhentinya proses pemilihan presiden dan perdana menteri baru, banyak yang khawatir bahwa para pendukung al-Sadr dapat meningkatkan protes mereka, mendorong negara ini ke fase ketidakstabilan terbaru.

ae/hp (AFP, AP, dpa, Reuters)

Lihat video 'Tak Hanya Senjata, Bentrok Kubu Bersenjata di Irak Gunakan Roket':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT