Warga Kuba Protes Harga Pangan dan Kelangkaan Obat-obatan

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 13 Jul 2021 15:04 WIB
Jakarta -

Yel-yel "kebebasan" menggema di jalan-jalan kota Kuba pada Minggu (11/07). Dari Havana hingga Santiago, ribuan demonstran menuntut Presiden Miguel Diaz-Canel mundur dari jabatannya. "Jatuhkan kedikatoran!" teriak mereka.

Aksi protes tersebut merupakan peristiwa langka di Kuba. Tahun 1994 adalah kali terakhir warga menggelar demonstrasi massal terhadap pemerintah. Kali ini, amarah penduduk tersulut eskalasi pandemi dan himpitan ekonomi.

Pasukan khusus yang mengendarai pikap dengan senapan mesin di baknya terlihat berpatroli di jalan-jalan kota. Sementara aparat kepolisian berjaga-jaga di sejumlah sudut, hingga para demonstran membubarkan diri jelang berlakunya jam malam.

"Kami sedang menjalani situasi yang benar-benar sulit," kata Miranda Lazara, 53, yang bekerja sebagai guru tari. "Kami membutuhkan perubahan sistem," tukasnya saat berdemonstrasi bersama ribuan yang lain.

Diaz-Canel yang juga memimpin Partai Komunis, menuduh Amerika Serikat berada di balik layar. Dia sebaliknya menyerukan pendukung pemerintah untuk turun ke jalan dan menghalau "provokasi" oleh demonstran "bayaran."

Reuters mewartakan, kepolisian setidaknya menahan puluhan demonstran. Di salah satu sudut kota Havana, warga meluapkan amarah dengan menghancurkan mobil polisi.

Demonstran mengaku tergerak untuk turun ke jalan usai membaca imbauan di media sosial. Platform digital belakangan menjadi ruang bagi kaum muda untuk mengekspresikan diri. Padahal sambungan internet untuk telepon seluler baru dibuka dua tahun lalu.

Krisis ekonomi dan kesehatan di Kuba

Aksi demonstrasi tergolong langka di negeri Komunis tersebut. Protes terbesar menyalak pada 1994, kata Michael Bustamante, Asisten Guru Besar Sejarah Amerika Latin di Florida International University, AS. "Bedanya sekarang aksi protes tidak terbatas hanya di ibu kota. Bahkan demonstrasi sepertinya tidak berawal di sana," kata dia.

Krisis ekonomi yang mendekap Kuba sejak dua tahun terakhir semakin memburuk akibat pandemi. Rendahnya kinerja pemerintah di negeri dengan sistem satu partai itu kian melengkapi penderitaan warga. Tahun lalu, perekonomian Kuba menyusut 10,9 persen. Pada Juli 2021 saja, pemerintah mencatat kontraksi sebesar dua persen.

Akibatnya kelangkaan bahan pangan dan obat-obatan meruak. Warga harus mengantre selama berjam-jam buat membeli kebutuhan pokok, atau obat untuk yang sakit.

"Kami sudah muak dengan antrean dan kelangkaan. Sebab itu saya ada di sini," kata seorang demonstran pria paruh baya kepada Associated Press.

Sistem jaminan kesehatan Kuba yang diwariskan mendiang Fidel Castro termasuk yang paling efektif di Amerika Selatan, dan dianggap kebanggaan nasional Partai Komunis. Awal tahun ini, Kuba memulai dini program vaksinasi terhadap virus corona. Saat ini sebanyak 1,7 juta penduduk sudah menerima setidaknya satu dosis vaksin.

Namun surutnya pendapatan negara ikut menghentikan laju produksi di perusahaan farmasi milik pemerintah. Akibatnya kelangkaan obat-obatan membuat warga kelimpungan merawat pasien yang menderita penyakit kronis seperti tekanan darah tinggi atau diabetes.

"Warga datang ke sini untuk mengekspresikan dirinya dengan bebas, dan polisi malah memukuli dan menganiaya mereka," kata Pendeta Jorge Luis Gil, di Havana.

rzn/hp (rtr,ap)

(ita/ita)