PM Benjamin Netanyahu Yakin Akan Menangi Pemilu Israel

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 15:53 WIB
Jakarta - Beberapa minggu lalu, Nuriel Zarifi dapat kembali membuka usahanya di lingkungan perumahan Yerusalem. Setelah tiga kali masa penguncian dan telah bergulirnya program vaksinasi, kehidupan di Israel berangsur pulih - tepat sebelum digelarnya pemilihan parlemen pada hari Selasa (23/03).

"Beberapa kali saya berpikir: Saya sudah cukup, saya tidak akan memilih," kata Zarifi kepada DW. "Tapi kemudian saya melihat semua kebencian terhadap Netanyahu ini, apapun yang dia lakukan, itu tidak baik. Itu mendorong saya untuk pergi dan memilih dia."

Untuk keempat kalinya dalam dua tahun terakhir, warga Israel akan memberikan suaranya pada pemilu parlemen. Pemilu kali ini dan lebih dari tiga kesempatan sebelumnya dianggap sebagai pemilu khusus untuk mendukung atau menentang Benjamin Netanyahu. Tidak ada yang lebih penting dari itu.

Netanyahu yang saat ini diadili atas tuduhan korupsi, telah memegang jabatan perdana menteri selama 12 tahun dan menjadi sosok yang semakin memecah belah politik Israel. Tapi ini kasus tersebut tidak mengganggu Zarifi.

"Beberapa orang mengatakan kepada saya: Mengapa Anda tidak memilih perubahan? Untuk Yair Lapid atau Gideon Saar?" katanya, merujuk pada beberapa penantang utama Netanyahu. "Saya hanya bilang tutup mata dan lihat apakah orang ini bisa memimpin negara. Saat saya menutup mata, saya melihat Netanyahu. Saya merasa lebih nyaman. Seperti di awal krisis virus corona, saya merasa bisa mengandalkannya. Lalu dia membeli vaksin, dia memilih hidup."

Pemimpin baru atau sama saja?

Bagi Maya Rimer, yang secara rutin ikut serta dalam protes mingguan anti-pemerintah, pemilu lebih dari sekadar masalah vaksinasi. "Saya ingin melihat para politisi benar-benar melayani kami dan bukan untuk diri mereka sendiri," kata Rimer kepada DW.

"Ini pemilu keempat dan sepertinya bukan yang terakhir. Sepertinya ini tidak akan menjadi jawaban untuk apa pun," katanya.

Jajak pendapat terakhir yang diterbitkan oleh media Israel pada hari Jumat (19/03) memproyeksikan Partai Likud Netanyahu akan tetap yang terkuat. Prediksi ini akan memberi Netanyahu sedikit keuntungan untuk membangun koalisi. Netanyahu diperkirakan akan beralih ke sekutu alaminya, partai-partai ultra-Ortodoks dan aliansi Zionisme Religius.

Namun, aliansi Zionisme Religius tetap membutuhkan dukungan dari partai sayap kanan Yamina dengan pemimpin Naftali Bennett, yang masih ragu apakah akan bergabung dengan koalisi Netanyahu.

Siapa pun selain Netanyahu

Sebaliknya, penantang utama Netanyahu memegang prinsip "siapa pun kecuali Netanyahu". Partai-partai ini sebagian besar berasal dari kanan atau tengah, tetapi semuanya dipimpin oleh kandidat yang pernah menjadi menteri dalam pemerintahan yang dipimpin Netanyahu.

Yang paling menonjol di antara para penantang itu adalah Yair Lapid, pemimpin sentris Yesh Atid, yang dipilih Netanyahu sebagai lawan utamanya selama kampanye. Lapid, pemimpin oposisi saat ini, telah menjalankan kampanye low-profile yang berfokus pada masalah demokrasi, ekonomi, dan penanganan pandemi oleh pemerintah.

Jajak pendapat terakhir memproyeksikan 18-20 kursi untuk Yesh Atid, mempertahankan posisinya sebagai partai terbesar kedua setelah Likud. Pekan lalu, Lapid memberi tahu para pemilih dengan mengatakan, "Masih ada sejumlah orang yang belum pernah memutuskan sebelumnya, sebanyak lebih dari 10 kursi. Mereka perlu tahu bahwa jika mereka tidak memilih Yesh Atid, maka kami akan mendapatkan pemerintahan yang gelap, rasis, homofobia, pemeras. Pada akhirnya, kita membutuhkan kekuatan besar untuk membawa perubahan."

Sementara itu, di sayap kanan, ada mantan politikus Likud Gideon Saar, yang berselisih dengan Netanyahu. Namun, partainya A New Hope tampaknya hanya mendapat sedikit dukungan dalam jajak pendapat popularitas.

Kemudian ada Naftali Bennett, pemimpin partai nasionalis-religius Yamina dan mantan menteri pendidikan dan pertahanan di bawah Netanyahu. Dia secara terbuka menantang jabatan perdana menteri Netanyahu, tetapi tidak menutup kemungkinan bergabung dengan koalisi dengannya.

Detik-detik terakhir

Setelah tempat pemungutan suara tutup pada hari Selasa (23/03) pukul 10 malam waktu setempat, semua saluran televisi Israel akan melakukan exit poll. Komite Pemilihan Pusat Israel telah memperingatkan bahwa penghitungan suara diperkirakan akan memakan waktu lebih lama dari biasanya, karena adanya sejumlah pembatasan terkait pandemi COVID-19.

Namun, ketika fokus beralih setelah pemilihan berlangsung, prospek dari periode negosiasi koalisi yang sulit kemungkinan akan menemui jalan buntu. Atau bahkan dilakukan pemilu kelima. (ha/vlz)

(ita/ita)