Ajang Black Friday Jadi Harapan Pedagang di Masa Pandemi Corona

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 15:23 WIB
Jakarta -

Di masa normal, Black Friday, sehari setelah hari Thanksgiving, adalah hari belanja tersibuk dalam setahun. Ajang belanja ini biasanya menarik jutaan pembeli yang ingin memulai belanja liburan mereka. Tetapi ini bukan waktu yang normal: Perekonomian sedang naik turun dan kerumunan orang diperkirakan akan berkurang secara dramatis karena pandemi corona.

Banyak toko sekarang berusaha menggunakan peluang ajang belanja Black Friday, dengan menutup tokonya pada Thanksgiving untuk kemudian membuka kembali secara khusus pada hari Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Hal itu dilakukan untuk meyakinkan pelanggan bahwa mereka aman berbelanja.

"Black Friday masih ada," kata Neil Saunders, direktur pelaksana GlobalData Retail. "Tidak ada pengecer yang menginginkannya terganggu. Karena itu tetap penting untuk membuat konsumen berbelanja dan menyukai suasana liburan."

Black Friday hari belanja tersibuk

Sehari setelah Thanksgiving tetap menjadi hari tersibuk dalam setahun, demikian menurut ShopperTrak, dan diperkirakan tahun ini juga tetap begitu.

Para pedagang juga berhasil meyakinkan pembeli untuk berbelanja lebih awal, dengan mendorong diskon besar-besaran pada pertengahan Oktober.

National Retail Federation, grup perdagangan ritel terbesar di Amerika Serikat, menyatakan optimis dan memperkirakan bahwa pembeli akan tetap berbelanja di masa liburan. Untuk periode November dan Desember, angka penjualan diharapkan akan meningkat antara 3,6% dan 5,2%. Penjualan di musim liburan rata-rata naik 3,5% selama lima tahun terakhir.

Bisnis online bahkan dapat merealisasikan keuntungan yang lebih besar lagi. Black Friday diperkirakan menghasilkan omset USD 10 miliar tahun ini, naik 39% dari periode tahun lalu, menurut Adobe Analytics, yang mendata penjualan terhadap 80 dari 100 pengecer online di AS.

Di Jerman, pekerja Amazon lancarkan aksi mogok

Sekitar 2.500 pekerja Amazon di Jerman melancarkan pemogokan tiga hari sejak Kamis (26/11). Pemogokan yang dimotori serikat buruh Verdi akan berlangsung hingga Sabtu (28/11). Para pekerja menuntut kenaikan gaji dan kondisi kerja yang lebih baik.

"Kami memperkirakan sekitar 2.500 orang melakukan pemogokan hari ini, jumlah yang lebih tinggi dibandingkan aksi serupa di masa lalu, dan mengingat keadaan sulit yang disebabkan oleh pandemi, ini sukses besar," kata juru bicara Verdi kepada kantor berita AFP. Untuk membatasi risiko infeksi Covid-19, serikat pekerja mengatakan tidak melakukan aksi pawai unjuk rasa selama pemogokan.

Amazon dalam sebuah pernyataan mengatakan pemogokan itu tidak akan mempengaruhi pengiriman kepada pelanggan karena "mayoritas karyawan bekerja seperti biasa". Verdi sejak lama menuntut Amazon ikut serta dalam perjanjian skema upah regional yang mencakup ritel dan e-commerce. Namun Amazon mengatakan bahwa mereka sudah menawarkan gaji, tunjangan, dan peluang karier yang "sangat baik" dalam lingkungan kerja yang "modern dan aman".

Di Jerman Amazon mempekerjakan lebih dari 16.000 orang di Jerman dan telah mempekerjakan 10.000 karyawan musiman tambahan untuk mengatasi ledakan belanja online yang dipicu oleh pandemi corona.

hp/gtp (ap, afp, dpa)

(ita/ita)