Tekan Laju Infeksi Corona, Jerman Akan Berlakukan 1 Bulan Lockdown Parsial

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 29 Okt 2020 15:04 WIB
Jakarta -

Kanselir Jerman Angela Merkel dan para perdana menteri negara bagian Jerman pada Rabu (28/10) mengumumkan lockdown parsial baru yang akan berlaku mulai Senin, 2 November mendatang.

Langkah penguncian yang dijuluki "lockdown ringan" nasional itu adalah sebuah versi lebih longgar dibanding lockdown musim semi lalu yang membuat masyarakat dan aktivitas ekonomi Jerman terhenti.

Tak lama setelah pengumuman dari Merkel, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengumumkan penguncian atau lockdown baru si seluruh Prancis.

Berikut pembatasan baru yang akan berlaku:

  • Restoran dan bar akan tutup, kecuali pesanan untuk dibawa pulang
  • Acara-acara besar kembali dibatalkan
  • Perjalanan yang tidak perlu sangat tidak disarankan
  • Semua orang yang dapat bekerja dari rumah harus melakukannya dan atasan di kantor harus memudahkan transisi karyawan untuk bekerja dari rumah
  • Pertemuan di ruang publik akan dibatasi hanya untuk dua rumah tangga dengan total maksimal 10 orang
  • Fasilitas hiburan seperti teater dan bioskop akan ditutup
  • Tempat rekreasi umum seperti kolam renang, pusta kebugaran dan sauna akan ditutup
  • Tidak ada kerumunan di acara olahraga

Apa saja hal yang diizinkan:

  • Sekolah dan taman kanak-kanak akan tetap buka
  • Layanan Gereja dan aksi unjuk rasa akan diizinkan karena pertimbangan konstitusional
  • Penghuni panti jompo akan diizinkan menerima pengunjung
  • Toko-toko akan tetap buka, dengan aturan satu pelanggan per 10 meter persegi
  • Perbatasan tetap terbuka

'Situasi serius'

Dalam konferensi pers Merkel mengatakan: "Kita berada dalam situasi yang sangat serius."

"Kita harus bertindak sekarang juga, untuk menghindari darurat kesehatan nasional akut," tambahnya.

Merkel mengatakan bahwa jumlah pasien yang dirawat di unit perawatan intensif (ICU) telah berlipat ganda dalam 10 hari terakhir, bahkan di banyak daerah untuk melacak rantai infeksi tidak mungkin lagi bisa dilakukan. Dalam 75% kasus, sumber infeksi tidak diketahui.

"Jika angka infeksi terus meningkat pada level ini, kita akan berada pada batas kemampuan sistem kesehatan kita," kata Merkel.

"Itulah mengapa hari ini menjadi hari yang sulit, juga bagi para pembuat keputusan politik, saya ingin mengatakan ini secara eksplisit karena kami tahu apa dampaknya bagi orang-orang," lanjutnya.

Para pemimpin negara bagian dan federal akan bertemu lagi dalam dua minggu untuk meninjau apakah langkah-langkah baru tersebut cukup berpengaruh, dan dapat mengkalibrasi ulang aturan pembatasan jika diperlukan.

Bantuan bisnis

Merkel berjanji bahwa perusahaan yang terkena imbas pembatasan baru akan menerima bantuan ekonomi. Perusahaan dengan jumlah karyawan hingga 50 orang dan juga wiraswasta akan menerima 75% dari pendapatan mereka sebagai tunjangan.

"Kami akan memberi kompensasi kepada perusahaan, institusi, dan klub yang terkena dampak," jelas Merkel.

Menurut laporan media, total €10 miliar (Rp 172 triliun) telah dialokasikan untuk bantuan ekonomi tersebut. Perusahaan yang lebih besar akan bergantung pada aturan Uni Eropa untuk mendapatkan bantuan, dan akan bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain.

Pinjaman darurat juga akan disediakan bagi para pekerja mandiri seperti artis dan pekerja panggung, sementara usaha kecil dengan jumlah karyawan kurang dari 10 orang akan mendapatkan akses ke pinjaman yang sangat murah.

Suasana hati publik

Hingga saat ini, pemerintahan Merkel masih mendapat dukungan tinggi dari warga terkait langkah-langkah yang diambil dalam mengatasi pandemi. Dan Jerman bernasib relatif lebih baik dibandingkan dengan banyak negara tetangganya di Eropa.

Tetapi mood atau suasana hati publik telah mengalami pergeseran dengan semakin meningkatnya kritik di antara penduduk Jerman atas tindakan yang diberlakukan pemerintah.

Pada Rabu (28/10), Jerman mencatat tingkat infeksi harian tertinggi baru, yaitu lebih dari 14.000 kasus. Sementara, data terbaru juga menunjukkan bahwa hanya ada sekitar 25% tempat tidur perawatan intensif yang masih tersedia di Jerman.

Meningkatnya ketidakpuasan

Jika dibandingkan dengan awal Oktober, lebih dari 5% orang kini mengatakan bahwa tindakan pembatasan yang diberlakukan saat ini tidak terlalu berat (total 32%), demikian menurut badan statistik Infratest. Di saat yang bersamaan, jumlah orang yang menilai tindakan pembatasan yang diberlakukan terlalu berat meningkat sebesar 4% menjadi 15% secara total. Sementara itu 51% warga merasa tindakan pembatasan yang diberlakukan saat ini sudah sesuai, tetapi angka ini 8% lebih sedikit dibanding awal Oktober lalu.

Beberapa dari mereka yang dengan keras menentang tindakan pembatasan lebih lanjut mengatakan takut akan dampak ekonomi yang ditimbulkan. Banyak pemilik restoran Berlin misalnya, yang mengatakan bahwa mereka mungkin harus menutup bisnis mereka jika dihadapkan pada lockdown kedua. Mereka mengaku telah mengalami kerugian besar setelah lockdown pada musim semi lalu, ditambah mereka harus mengikuti aturan yang memaksa mereka untuk mematuhi peraturan jarak sosial dan kemudian jam malam yang diberlakukan bulan lalu.

Beberapa outlet berita melaporkan bahwa dana untuk tindakan pembatasan baru ini akan membuat jumlah hutang Jerman pada tahun 2021 lebih dari €100 miliar (Rp 1,722 triliun). Menteri Keuangan Jerman Olaf Scholz telah merencanakan dana sejumlah €96 miliar (Rp 1,654 triliun) untuk membantu bisnis mengatasi kesulitan akibat pandemi di tahun depan, tetapi paket bantuan baru itu dapat menelan biaya €10 miliar (Rp 173 triliun) lebih.

'Fantasi lockdown'

Bagi banyak orang di Jerman, pertanyaan mengenai kebebasan individu setidaknya sama pentingnya dengan pertumbuhan ekonomi. Para pemimpin partai sayap kanan AfD, yang merupakan partai oposisi terbesar di parlemen federal Jerman, termasuk di antara mereka yang paling kritis terhadap tindakan pembatasan lebih lanjut.

"Tidak ada tindakan – termasuk lockdown, yang memiliki pengaruh nyata pada tingkat infeksi, tetapi fantasi lockdown para politisi pemerintah menjadi semakin tidak masuk akal," kata pemimpin parlemen AfD Alexander Gauland dalam sebuah pernyataan pada hari Selasa (27/10).

Jerman telah menyaksikan protes anti-lockdown dalam beberapa bulan terakhir. Bahkan sebuah demonstrasi di Berlin pada akhir pekan lalu, bertepatan dengan serangan pembakaran di Institut Robert Koch, badan kesehatan Jerman, meskipun belum ada tersangka yang diidentifikasi.

Para demonstran yang mendukung teori konspirasi dan kelompok sayap kanan bergabung dalam aksi unjuk rasa, yang kemudian menuai kritik dan cemooh dari sayap kiri dan liberal. Tetapi survei menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang kritis terhadap aturan pembatasan. Mereka meyakini bahwa memerangi virus harus menjadi tanggung jawab pribadi.

Survei terbaru menunjukkan bahwa sebagian besar orang Jerman setuju dengan pandangan ini (54%) dibandingkan dengan 43% yang mengatakan pihak berwenang harus memberlakukan pembatasan.

Tingkat infeksi Jerman relatif lebih baik di Eropa

Meskipun kasus infeksi corona di Jerman terus meningkat, Jerman masih relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara Eropa lainnya. Bahkan dengan angka infeksi harian tinggi yang terlihat pada akhir Oktober – dalam hal ini tingkat kasus per 100.000 penduduk, Jerman masih berada jauh di bawah tingkat infeksi di Swiss, Republik Ceko dan Belgia.

Prancis dan Inggris juga termasuk di antara negara-negara yang telah memberlakukan lockdown parsial atau terlokalisasi dalam beberapa pekan terakhir guna mengekang jumlah kasus.

Penerimaan warga yang relatif kuat akan tindakan pembatasan yang diberlakukan di Jerman mungkin menjadi kunci rendahnya tingkat infeksi dan kematian akibat COVID-19 di Jerman. Namun, survei telah menunjukkan bahwa 50% orang Jerman percaya bahwa upaya polisi dan pihak berwenang untuk menegakkan aturan pembatasan belum berjalan cukup jauh. Tantangannya adalah bagaimana memastikan warga Jerman menerima langkah-langkah pembatasan baru, dan menjalankannya. (gtp/pkp)

(ita/ita)