Setelah Sembuh COVID-19, Berapa Lama Imunitas Bertahan?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Kamis, 29 Okt 2020 14:35 WIB
Jakarta -

Presiden AS Donald Trump sesumbar dalam sebuah kampanye, "saya kebal Covid19", setelah dia keluar dari rumah sakit akibat terpapar virus corona. Namun riset teranyar dari Inggris meragukan, apakah presiden AS itu imun terhadap virus corona. Pertanyaan mengenai kekebalan setelah terinfeksi Sars-Cov-2 memang sudah membayangi dari awal pandemi.

Dalam uji coba selama tiga bulan di Inggris dari bulan Juni hingga September yang diikuti 365.104 responden, jumlah orang yang dites positif memiliki antibodi virus corona, turun hingga 26,5%.

Penelitian yang disebut REACT, dikoordinir oleh Imperial College London. Metode tes menggunakan pengambilan sampel darah dari ujung jari, untuk mengecek eksistensi antibodi Covid-19 dalam darah. Antibodi menunjukkan, bahwa orang bersangkutan sebelumnya pernah terinfeksi virus corona

Hasil penelitian grup sampel yang dipilih secara acak menunjukkan tren penurunan, dari semua kelompok umur di semua area yang diteliti.

Imunitas turun, risiko infeksi ulang naik

Dalam laporan awal pada ilmuwan Inggris mengatakan, data itu menunjukkan kemungkinan dari menurunnya imunitas populasi dan naiknya risiko infeksi ulang, seiring deteksi menurunnya antibodi di kalangan populasi. Hasil riset ini sejauh ini belum mendapat verifikasi dari ilmuwan lain atau ada riset pembandingnya.

Walau begitu, riset lainnya dari Harvard Medical School dan Toronto University menunjukkan, bahwa dua hingga empat minggu setelah infeksi, jumlah besar antibodi masih terukur. Kadar antibodi juga tetap terbukti tinggi setelah sekitar empat bulan. Setelah itu terlihat adanya penurunan.

"Kemungkinan besar dalam rentang waktu empat bulan ini orang masih terlindungi", ujar pimpinan riset Richelle Charles. Namun riset tersebut juga tidak menunjukkan bukti nyata terkait perlindungan terhadap infeksi ulang.

Pertanyaannya kini, mengapa ada data berbeda-beda terkait imunitas terhadap virus corona? Jawaban para ahli, hal itu berkaitan dengan lokasi riset, jangka waktunya dan juga besarnya sampel.

Misalnya saja di Cina, dimana virus pertama kali dilaporkan merebak, dalam sebuah riset kecil para ahli menemukan, orang yang terinfeksi tapi tidak menunjukkan gejala sakit, rata-rata setelah dua bulan tidak ada lagi jejak antibodi dalam darah mereka.

Sementara para ilmuwan dari University of Arizona melaporkan hasil lebih optimis, setelah meneliti 6.000 orang responden. "Imunitas minimal stabil selama lima bulan", ujar pakar imunbiologi Deepta Bhattacharya.

Jadi pertanyaan mengenai apakah imunitas atau kekebalan terhadap serangan ulang virus corona, untuk sementara masih belum terjawab. Para ilmuwan mengakui, riset terkait imunitas virus corona sejauh ini masih belum banyak dilakukan.

Ada yang tidak kembangkan antibodi

Juga sejumlah penelitian menunjukkan, ada orang yang terinfeksi virus penyebab Covid-19 yang tidak mengembangkan antibodi penetralisir dalam darah mereka. Riset di Amerika Serikat terhadap serdadu marinir yang terinfeksi virus Sars-Cov-2 menunjukkan, 41% tidak mengembangkan antibodi dalam darah mereka.

Riset yang dilakukan di Cina oleh Universitas Fudan di Shanghai menunjukkan, sekitar 6% pasien Covid-19 yang sembuh, tidak menunjukkan adanya antibodi dalam darah mereka.

Bahkan sebuah kasus di Jerman menunjukkan, orang bisa terinfeksi virus corona untuk kedua kalinya dalam jangka waktu hanya beberapa bulan setelah sembuh. Robert-Koch-Institut yang memonitor penyebaran pandemi di Jerman menyebutkan; "dalam posisi riset saat ini, tetap belum diketahui apakah ada mekanisme baku, setangguh apa dan seberapa lama imunitas terbentuk dalam tubuh"

as/pkp (dari berbagai sumber)

Simak juga video 'BPOM Akan Cabut Izin Darurat Vaksin COVID-19 Jika Terlalu Berisiko':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)