Vaksin HIV/AIDS yang Efektif Melindungi Tidak Akan Ada?

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 08 Jul 2020 19:28 WIB
Berlin -

Mengapa hingga kini vaksin HIV belum ditemukan? Padahal para ahli sudah menemukan virus penyebab menurunnya kekebalan tubuh itu sejak 40 tahun silam. Hingga akhir 2019, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mencapai sekitar 38 juta dan hingga kini sudah sekitar 33 juta orang meninggal akibat AIDS. Jawaban gampangnya: Karena virus HIV ibarat bunglon di kalangan virus, yang terus menerus melakukan mutasi.

Yang makin menyulitkan para peneliti, virus HIV punya struktur permukaan yang rumit berbentuk tiga dimensi. Selain itu, separuh permukaan virus dilapisi gula, yang disebut ilmuwan sebagai glykolisasi. Sistem kekebalan tubuh manusia kesulitan menyerang permukaan virus berlapis gula semacam itu. Juga vaksin, gagal berfungsi pada virus yang melindungi diri dengan glykolisasi.

HIV berbeda dengan virus umum

Penelitian vaksin HIV terus mengalami kegagalan, akibat virusnya terus melakukan mutasi permukaan sangat cepat dari satu generasi ke generasi berikutnya. Padahal untuk memerangi virusnya, sistem kekebalan tubuh harus bisa mengenali kembali musuh bersangkutan.

Tapi jika virusnya terus melakukan mutasi, sistem kekebalan tubuh tidak lagi mengenalinya. Dan memandangnya bukan sebagai patogen, hingga tidak menyerang virusnya. Virus HIV dengan melakukan mutasi terus menerus, juga terus menipu sistem kekebalan tubuh. Para ilmuwan menyebut, virus selalu berada selangkah di depan hasil penelitian.

Virus HIV termasuk kelompok retrovirus, yang mampu mengembangbiakkan kode genetiknya di dalam sel inang. Para peneliti sejak lama berusaha memahami, bagaimana cara retrovirus ini berkembang biak, untuk bisa mengembangkan strategi bagi penyembuhan penyakitnya.

Selalu ada hasil riset terbaru, dan kembali peneliti harus kecewa. Pasalnya virusnya tetap tidak bisa dikendalikan. Ibaratnya, jika ilmuwan bergerak satu langkah ke depan, virusnya sudah melesat dua langkah.

Keampuhan vaksin terbatas?

Satu-satunya kandidat vaksin yang sudah diujicoba pada manusia adalah yang disebut RV 144 di Thailand dari tahun 2003 sampai 2006 lalu. Lebih 16.000 relawan ikut dalam uji coba pada manusia ini. Hasilnya tidak memuaskan para peneliti, karena efektifitas perlindungan vaksin hanya mencapai 31 persen responden. Dan efek perlindungan menghilang setelah beberapa bulan.

Riset berikutnya dilakukan di Afrika Selatan dimulai 2016, dengan kandidat vaksin yang diberi nama HVTN 702. Lebih 5.000 relawan dalam kisaran usia 18 hingga 35 tahun ikut serta dalam uji coba. Pada tahun 2020 uji coba kandidat vaksin HIV di Afrika Selatan itu dihentikan, karena tidak menunjukkan sukses yang jelas.

Uji coba berikutnya diberi nama MOSAICO, dengan kandidat vaksin kombinasi yang mengandung protein yang strukturnya meniru permukaan rumit virus HIV. Uji laboratorium pada monyet menunjukkan hasil yang menjanjikan. Sejak akhir tahun lalu di AS dilakukan uji klinis pada manusia dengan 3.800 relawan.

Uji klinis lainnya yang dilakukan di beberapa negara Afrika diberi nama IMBOKODO. Sejak tahun 2017 hingga 2022 mendatang, 2.600 relawan mengikuti uji coba vaksin HIV pada manusia tersebut. Sejauh ini efektivitasnya disebutkan mencapai 67%.

Walau begitu para peneliti tidak mengharapkan adanya terobosan besar. Mereka juga sepakat, tidak akan ada vaksin HIV yang punya efek perlindungan 100%. Jika bisa melindungi antara 60 sampai 70% saja, vaksin sudah dianggap sukses. Hingga efektivitas itu tercapai, sejauh ini hanya dan satu kemungkinan terapi penyakit AIDS, yakni dengan obat-obatan anti retrovirus.

(Ed: as/rap)

(nvc/nvc)