Jejak Gelap Qasem Soleimani di Irak dan Suriah

Deutsche Welle (DW) - detikNews
Rabu, 08 Jan 2020 16:54 WIB
Teheran -

Syahdan di penghujung Agustus 2015 bekas PM Irak Haider al-Abadi mengundang semua perwakilan milisi Syiah ke Baghdad untuk membahas situasi keamanan negeri. Dia terkejut mendapati pendahulunya, Nuri al-Maliki, yang baru dilengserkan lewat parlemen, sedang menunggu kedatangannya bersama Qasem Soleimani, Komandan Brigade al-Quds yang tersohor.

Tanpa aba-aba sang perwira menghujani al-Abadi dengan pertanyaan sengit, "kenapa Anda ingin melucuti kekuasaan Maliki? Kenapa Anda tidak memberitahu kami? Tanpa kami Anda tidak bisa melakukan apapun!" tukasnya seperti dikabarkan oleh situs IR Diplomacy. Kepada Reuters seorang pejabat Irak mengabarkan betapa Soleimani malam itu bertindak "dalam nada memerintah seakan-akan Irak adalah negara protektorat Iran."

Baca juga: Komandan Garda Revolusi Iran Tewas Dalam Serangan Udara AS di Baghdad

Usai episode tersebut Soleimani menghilang dari ruang publik. Pada September 2015 majalah The Economist melaporkan tindak-tanduknya di Irak mengundang kritik dan kecaman, termasuk dari Ayatollah Ali al-Sistani yang mengirimkan surat keluhan kepada Ali Khamanei. "Dia sekarang di bawah pengawasan dewan dan tidak lagi bisa bertindak sebagai menteri luar negeri de facto," kata seorang sumber di pemerintahan kepada mingguan Inggris tersebut.

Khamanei dikabarkan memanggil veteran Garda Revolusi, Mohsen Rezai, dari masa pensiun untuk mengawal gerak-gerik sang jenderal.

Namun ketika tahun lalu Presiden Bashar Assad melakukan lawatan langka ke Teheran, Soleimani diundang hadir bersama Ayatollah Ali Khomenei dan Presiden Hassan Rouhani. Menteri Luar Negeri Ibrahim Jafari dilaporkan merasa dilangkahi, sampai-sampai dia lalu mengundurkan diri dari jabatannya.

Sejak 2011 Soleimani telah menjelajah Irak dan Suriah untuk memperluas pengaruh Teheran. Dia ikut menyelamatkan kekuasaan Assad ketika pemberontak Free Syrian Army mulai menggedor gerbang kota Damaskus. Soleimani menghimpun semua milisi Syiah dan membantu militer Suriah meracik strategi buat merebut kembali daerah-daerah yang hilang, sembari meninggalkan jejak berdarah dan kehancuran.

Soleimani mentransformasi peran tradisional Iran di kawasan dengan membangun kekuatan proksi di negeri jiran. Di tengah kecamuk perang Suriah, dia mengumpulkan ribuan gerilayawan Syiah dari Libanon, Irak, Afghanistan, Pakistan dan Iran untuk membantu pasukan Assad. Dia pula yang menyatukan milisi-milisi di Suriah dan menanamkan kedisiplinan ala militer ke dalam kelompok bersenjata tersebut.

Baca juga: Parlemen Irak Keluarkan Resolusi untuk Usir Pasukan Asing

Soleimani dikabarkan berperan besar saat menegosiasikan operasi militer gabungan dengan Rusia pada 2015, dua bulan sebelum Moskow memerintahkan serangan udara di Suriah. Dan pada April 2016, Rusia mulai melancarkan serangan udara dari Iran. Ini adalah untuk pertama kalinya kekuatan militer asing diizinkan beroperasi di Iran sejak Perang Dunia II, menurut Institute for Strategic Studies.

Dia menentukan prioritas target serangan, antara lain membuka jalur logistik antara Damaskus dan Beirut untuk memuluskan pergerakan milisi Hizbullah. Dan ketika pasukan Suriah berhasil mencaplok kota Aleppo pada 2016, Soleimani, bukan Assad, yang pertama kali mengunjungi kota tersebut.

Musuh-musuh Soleimani mengklaim sang jenderal menggunakan taktik brutal saat mengganyang kelompok pemberontak di Suriah. Salah satu taktiknya yang paling mematikan adalah mengepung sebuah kota untuk waktu lama. Selama itu penduduk terancam bencana kelaparan dan wabah penyakit, serta memaksa sebagian besar melarikan diri dan meninggalkan kawasan pemukiman yang hampir rata dengan tanah.

Soleimani tidak segan menggunakan milisi Syiah untuk menyerang kelompok Sunni. Taktik ini pula yang dikeluhkan Ayatollah Sistani kepada Khamenei. "Dia adalah bapak dari perubahan demografi di Suriah. Jejaknya bisa dilacak di hampir semua pembantaian yang terjadi di Homs, Ghouta, Daraa dan Aleppo," kata Tarek Muharram, seorang gerilyawan pemberontak Suriah di Aleppo.

"Taktik-taktik itu akan tetap dipakai setelah kematiannya," tutur Abdul Salam Abdul Razak, bekas perwira militer Suriah yang membelot ke tentara pemberontak.

Baca juga: Pemakaman Soleimani di Kerman, Puluhan Pelayat Meninggal Terinjak-Injak

Namun buat Suriah, sang jenderal adalah juru selamat. Seusai kematiannya, Presiden Bashar Assad menulis Soleimani "meninggalkan jejak yang jelas dalam kemenangan-kemenangannya melawan kelompok teroris di Suriah."

Kematiannya, meski tidak akan mengubah struktur perang proksi di Timur Tengah, diyakini akan tetap terasa. Selama ini Soleimani tidak hanya dikenal sebagai ahli strategi yang handal, dia juga memiliki pengaruh kuat terhadap geriIyawan Syiah lantaran kerap turun ke medan pertempuran untuk memupuk moral prajurit.

"Aliansi Suriah dan Iran pastinya akan berlanjut," kata analis Suriah asal Inggris, Danny Makki. "Tapi kematian Soleimani yang bertanggungjawab atas lusinan kemenangan, rencana dan strategi militer akan menjadi pukulan hebat buat Suriah dan Iran."

rzn/vlz (ap, rtr, qantara, economist)



(nvc/nvc)