DetikNews
Kamis 24 Januari 2019, 17:12 WIB

Paludikultur Untuk Pertahankan Lahan di Masa Depan

DW (Soft News) - detikNews
Paludikultur Untuk Pertahankan Lahan di Masa Depan
Berlin - Pengeringan gambut menyebabkan hilangnya lahan akibat subsiden atau banjir. Untuk pertanian berkelanjutan, tak ada pilihan selain agar lahan gambut dijaga tetap basah. Tapi seberapa sulit upaya restorasi gambut?

Perkebunan kelapa sawit di atas lahan gambut yang dikeringkan menghasilkan 60 ton emisi CO2 per hektar per tahun. Jumlah itu serupa dengan emisi yang dikeluarkan dalam lima penerbangan pesawat dari Jakarta ke Eropa, demikian dijelaskan Profesor Hans Joosten dari Universitas Greifswald pada pameran pertanian internasional Pekan Hijau di Berlin. Dengan timnya Profesor asal Belanda ini selama bertahun-tahun bekerjasama erat dengan Indonesia, mengkampanyekan pentingnya lahan gambut.

Kepada DW ia menjelaskan lebih lanjut tentang pentingnya agar lahan gambut dijaga basah dan strategi untuk pertanian gambut di masa depan.

DW: Mengapa penting agar lahan gambut tetap basah?

Prof. Hans Joosten: Pengeringan lahan gambut menyebabkan begitu banyak efek negatif seperti emisi gas rumah kaca sampai kebakaran-kebakaran yang dihubungkan dengan lahan gambut kering. Subsiden membuat tanah semakin tenggelam dan pada akhirnya keseluruhan area akan dibanjiri air laut. Proses-proses ini hanya bisa dihentikan dengan membasahi ulang lahan gambut, dengan membuat ketinggian air sampai ke permukaan lagi.

Apakah tantangan dalam membasahi lahan gambut lagi yang telah dikeringkan?

Di Indonesia lahan gambut dikeringkan untuk membudidayakan terutama kelapa sawit dan akasia untuk pulp. Tanaman-tanaman ini memerlukan kondisi kering. Dengan membasahi ulang lahan yang dikeringkan, tanaman-tanaman yang sama tidak akan bisa dibudidayakan lagi di lahan tersebut. Jadi jenis tanaman yang ditanam harus diubah. Harus dipilih jenis tanaman yang dapat tumbuh dalam kondisi basah dan jenis pertanian seperti ini disebut paludikultur. Ini adalah budidaya rawa.

Misalnya di Indonesia ada jenis perkebunan sagu, ini adalah jenis pohon palem yang bisa tumbuh dalam kondisi sangat basah. Ada juga jelutung sebagai pohon yang memproduksi karet, yang dapat menggantikan dengan kualitas yang lebih tinggi karet biasa, yang memerlukan kondisi lebih kering. Ada juga tengkawang di hutan rawa gambut yang memproduksi minyak yang sebagus minyak kelapa sawit tetapi tidak perlu pengeringan. Jadi jenis pertanian seperti inilah yang perlu dikembangkan.

Baca juga:Global Landscape Forum: Ketika Pengelolaan Gambut Indonesia Jadi Rujukan Internasional

Bagaimana perkembangan paludikultur di Indonesia?

Tahun lalu sebuah tim dibentuk untuk meneliti hal-hal ini. Saya tahu, bahwa Perusahaan Asian Pulp and Paper sudah memilih 10 jenis tanaman rawa gambut yang bisa tumbuh dalam kondisi sangat basah dan memproduksi kayu untuk bubur kertas. Mungkin tumbuhnya tidak secepat akasia yang mereka gunakan sekarang, tetapi dengan akasia mereka akan kehilangan lahannya dalam waktu 20 tahun dan mereka tidak akan punya apa-apa lagi. Memang sebaiknya fokus kepada keberlanjutan yang dapat selalu melanjutkan produksi, dengan daya hasil yang lebih rendah.

Dan tentu saja ini berkaitan dengan pemuliaan tanaman dan pemilihan. Tanaman kelapa sawit telah melalui proses penelitian selama 100 tahun oleh pemulia tanaman, membuat daya hasil semakin tinggi. Ini juga harus dilakukan dengan tanaman-tanaman basah agar lebih produktif supaya bisa menghasilkan lebih banyak penghasilan dan uang.

Ini adalah tanggung jawab bersama. Tentu saja perusahaan-perusahaan bertanggung jawab. Pemerintah, perguruan tinggi dan badan penelitian harus melakukan sesuatu. Semua harus berfokus untuk menemukan alternatif yang berkelanjutan – sebuah alternatif basah untuk pertanian yang berbasis lahan dikeringkan dan kehutanan di lahan gambut. Kita harus berpikir, tanaman apa yang bisa dibudidayakan dan menghasilkan uang?

Apakah hal yang sama juga dilakukan di Uni Eropa sebagai penghasil emisi lahan gambut yang tinggi?

Eropa mempunyai tantangan yang sama. Di Jerman ada 20 proyek paludikultur yang berjalan. Kami juga mencari alternatif bagi para petani Jerman di Greifswald. Tetapi kesadarannya di Jerman tidak begitu besar. Para petani dan pemerintah belum menyadari, bahwa mereka sudah dipojokkan di situasi dengan pilihan yang terbatas.

Baca juga:Ingin Restorasi Gambut, KLHK Malah Berpeluang Percepat Laju Deforestasi

Padahal orang Jerman secara umum sadar lingkungan dan mementingkan aspek berkelanjutan…

Tetapi mereka juga konservatif. Dalam paludikultur semua harus dilakukan dengan cara yang baru. Pertanian di Eropa sejak sepuluh ribu tahun berlandaskan lahan kering dan sekarang mereka harus mengubah mentalitasnya. Tidak ada petani yang pernah belajar untuk bekerja pada kondisi basah. Jadi semuanya harus diubah. Dari jenis tanaman, logistik, sampai mesin-mesin yang digunakan. Jadi ini adalah perubahan-perubahan fundamental dan orang Jerman tidak terlalu inovatif dalam segi ini. Tetapi keadaan mereka juga tidak urgen. Inilah bedanya.

Di Indonesia dorongan utama untuk perubahan adalah kebakaran-kebakaran besar pada tahun 2015. Itu bencana yang sangat besar dan Presiden Joko Widodo berkata: kita tidak bisa lanjut seperti ini. Ini telah menyebabkan terlalu banyak kematian dan terlalu banyak uang harus dikeluarkan untuk memperbaiki kerusakan. Kita harus mengubah sikap kita terhadap lahan gambut. Langkah ini belum diambil di Jerman, tetapi ini sedang dimulai.

Seperti juga di Belanda. Di Belanda utara, yang tanahnya setiap tahun turun beberapa sentimeter dan sudah berada beberapa meter di bawah permukaan laut, sekarang mereka berinisiatif untuk kembali membasahkan semuanya. Ini artinya tidak ada sapi lagi di padang rumput. Kami butuh jenis pertanian yang berbeda. Isu seperti ini sedang mulai didiskusikan dengan intensif di Belanda.

Baca juga: Dilema Ekonomi Persulit Upaya Restorasi Gambut

Jika Paludikultur dilakukan secara konsisten di Indonesia, konsekuensi apa yang akan timbul untuk perkebunan kelapa sawit?

Ini artinya, seiring waktu, mereka harus meninggalkan lahan gambut. Menurut saya sangat benar, bahwa pemerintah Indonesia mengatakan, dalam masa transisi, perkebunan kelapa sawit diwajibkan untuk menaikkan ketinggian air sampai 40 cm di bawah permukaan. Dalam kondisi ini kelapa sawit masih bisa tumbuh dengan baik, tetapi penurunan muka tanah dan emisi terpotong setengahnya, serta resiko kebakaran turun. Ini langkah yang bagus, tapi masih permukaan tanah masih turun sebanyak 3 cm setiap tahunnya. Jadi dalam jangka panjang ini harus berubah jika tanah ingin dipertahankan.

Wawancara oleh: Anggatira Golmer/rzn




(ita/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed