Video 20Detik

Pasangan Pindah Agama, Apakah Pernikahan Kami Masih Sah?

detikTV, dtv - detikNews
Sabtu, 05 Jun 2021 10:05 WIB
Jakarta -

Pernikahan dalam Islam dilakukan sesuai syariat dan tata cara hukum Islam. Tapi bagaimana bila dalam perjalanan rumah tangga itu, salah satu pasangan berpindah agama dan memeluk agama lain?

Berikut pertanyaan yang didapat detik's Advocate:

Selamat pagi pengasuh detik's advocate

Saya dan istri sudah menikah kurang lebih 9 tahun, dan dikarunia anak. Dalam perjalanan rumah tangga kami, istri berpindah agama dan tidak lagi memeluk agama Islam. Bagaimana cara menceraikannya?

Terima kasih

Jawaban:

Perceraian di Indonesia secara umum terdapat dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP),PeraturanPemerintahNomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Berdasarkan Pasal 38 UUP, perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, dan atas keputusan pengadilan.

Selain itu, Pasal 39 ayat (1) UUP mengatakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan. Cerai gugat atau gugatan cerai yang dikenal dalam UUP dan PP 9/1975 adalah gugatan yang diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya ke pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat (Pasal 40 UUP jo. Pasal 20 ayat [1] PP 9/1975). Bagi pasangan suami istri yang beragama Islam, mengenai perceraian tunduk pada Kompilasi Hukum Islam (KHI).

Murtadnya seseorang baik suami maupun istri dalam pandangan Islam, menyebabkan perkawinan menjadi Fasakh (batal) dengan sendirinya. Perpindahan agama atau murtad yang dilakukan suami atau istri menurut hukum Islam dan Kompilasi Hukum Islam dapat dijadikan alasan untuk membubarkan perkawinan. Dalam KHI pasal 75 disebutkan keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap perkawinan yang batal karena salah satu suami atau isteri murtad.

Namun, untuk menjadikan sah di mata hukum, perceraian dengan alasan murtad harus tetap dilakukan di pengadilan. Yaitu Anda bisa mengajukan cerai talak ke Pengadilan Agama di mana wilayah istri Anda tinggal dengan alasan murtas di atas. Hal itu sesuai Pasal 129 KHI yang berbunyi:

Seorang suami yang akan menjatuhkan talak kepada istrinya mengajukan permohonan baik lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal istri disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan itu.

1. Ketika yang murtad itu istri maka disamping fasakh (batal) perkawinannya juga berdampak pada tidak adanya nafkah iddah maupun mut'ah.

2. Apabila terbukti bahwa ibu telah murtad dan memeluk agama selain agama Islam, maka gugurlah hak ibu untuk memelihara anak tersebut. Di mana hal ini membatalkan Pasal 105 KHI, dalam hal terjadi perceraian, pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya, sedangkan pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih di antara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaan.

Hal ini sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung RI No.: 210/K/AG/1996, yang mengandung abstraksi hukum bahwa agama merupakan syarat untuk menentukan gugur tidaknya hak seorang ibu atas pemeliharaan dan pengasuhan (hadhanah) terhadap anaknya yang belum mumayyiz.

(dtv/dtv)