Video 20Detik

Pengamat: KRI Nanggala-402 Berusia 40 Tahun, Berisiko Malfungsi

detikTV, dtv - detikNews
Kamis, 22 Apr 2021 11:38 WIB
Jakarta -

Kapal selam KRI Nanggala-402 hilang kontak di Perairan Bali pada Rabu (21/4/2021), saat sedang menjalani latihan. Insiden ini menjadi pertama kalinya melanda kapal selam di Indonesia

Peneliti dari Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Beni Sukadis, menyoroti kondisi kapal buatan Jerman tersebut. Beni menilai adanya potensi malfungsi dari kapal yang sudah berusia 40 tahun tersebut.

"Secara empirik, inikan buatan tahun 79 ya buatan Jerman kapal kelas Cakra dengan nama Nanggala tapi sudah dioperasikan Indonesia sejak tahun 1981 artinya dari sisi teknologi dari sisi usia jelas sudah sangat tua ini kan tentunya perlu ada perhatian lebih khususnya dalam pemeliharaan dan perawatan", ujar Beni.

Tak hanya soal kondisi teknis, akademisi pertahanan tersebut juga menyinggung soal anggaran. Beni menyebut TNI acapkali dihadapkan dengan persoalan klasik, yakni keterbatasan anggaran dalam pemeliharaan armada-armada tua.

"Bagaimana perawatan rutin? mungkin berapa bulan sekali ataupun turun mesin harus setahun sekali persoalannya spare part-nya apa masi ada kedua soal Anggaran kan kadang-kadang yang kami khawatirkan dari TNI perang sipil mengamati kadang-kadang anggarannya itu terbatas di TNI", papar Beni.

KRI Nanggala merupakan salah satu kapal selam yang resmi menjadi bagian dari alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia pada 1981. Saat itu, pengadaan kapal selam dianggap perlu mengingat Indonesia tinggal memiliki satu kapal selam yang layak beroperasi.

Kapal tersebut dibuat oleh pabrikan Howaldtswerke, Kiel, Jerman pada tahun 1979. Badan kapal bertipe U-209/1300 dan memiliki berat 1.395 ton, dimensi 59,5 meter x 6,3 meter x 5,5 meter.

KRI Nanggala-402 diketahui mengandalkan mesin diesel elektrik. Kapal dapat melaju dengan kecepatan hingga 25 knot.

Sebelumnya, KRI Nanggala sempat menjalani perawatan di galangan kapal Daewoo Shipbuilding & Marine Engineering, Korea Selatan pada 2009-2012. Setelah overhaul, pada kapal dilengkapi sonar teknologi terkini dengan persenjataan mutakhir di antaranya torpedo dan persenjataan lain.

(/)