Beda Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Soal Pelibatan Perempuan

detikTV, detikTV - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 12:09 WIB
Jakarta -

Mantan narapidana kasus terorisme (napiter) Sofyan Tsauri dan pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) Noor Huda Ismail menjelaskan adanya perbedaan terkait pelibatan perempuan antara kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS dengan Jamaah Islamiyah (JI) yang terafiliasi dengan Al-Qaeda.

Sofyan Tsauri yang pernah terpapar pemikiran pendiri JAD, Aman Abdurrachman menyebut JI tidak pernah melibatkan perempuan atau anak-anak dalam melakukan amaliyah jihad. Sementara JAD dalam beberapa tahun terakhir banyak melibatkan perempuan dan anak-anak.

Selain itu, Sofyan menambahkan kelompok JAD tidak hanya menjadikan perempuan sebagai objek sasaran, tapi juga menjadi subjek. Menurutnya, perempuan dan anak-anak yang menjadi pelaku tidak kalah militan dari laki-laki.

Lebih lanjut, mantan anggota Polres Depok ini menyatakan perempuan yang menjadi teroris di kelompok JAD memiliki akidah yang kacau dalam berkeluarga. Ia mencontohkan adanya fenomena perempuan ingin menceraikan suami yang menolak berbaiat kepada ISIS, dan ada juga yang sudah menikah lagi namun tidak melakukan cerai ke suami dan menganggap suaminya cacat karena tidak berbaiat ke ISIS.

Sementara pakar terorisme sekaligus pendiri Yayasan Prasasti Perdamaian (YPP) Noor Huda Ismail menyatakan JAD yang terkait dengan ISIS memiliki proyek wilayah dan komunitas politik untuk membentuk pranata baru. Untuk itu, seluruh gerakannya melibatkan semua isi komunitas baik itu laki-laki, perempuan maupun anak-anak.

Selain itu, keberadaan media sosial sejak deklarasi ISIS pada 2014 turut mempermudah seseorang agar bisa terlibat jaringan terorisme. Sementara di JI, seseorang harus menempuh pesantren khusus atau harus ke Afghanistan atau Moro, Filipina terlebih dahulu.

(hnf/hnf)