Hal itu diungkapkan Kepala Humas dan Protokol, Pemkot Blitar, Ir Made Sukawardhika kepada wartawan seusai acara diskusi buku "Mencari Supriyadi, Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno" karya Baskara T. Wardaya, SJ di Toko Buku Gramedia di Jl Jenderal Sudirman Yogyakarta, Sabtu (16/8/2008).
"Kami ikut yang resmi, tetap berpedoman pada keputusan pemerintah bahwa Supriyadi yang telah diangkat jadi pahlawan nasional," tegas Made.
Dia mengatakan kalau sekarang ini ada orang yang mengklaim sebagai Supriyadilebih baik
diambil hikmahnya. Cerita tersebut juga bisa diambil manfaatnya.
"Ini hanya masalah kecil. Masih ada sejarah yang lebih penting dan besar dari itu,"
katanya.
Menurut Made, yang diceritakan Andaryoko "Supriyadi" dalam acara diskusi itu persis dan hampir 90 persen sama dengan yang terulis di buku. Untuk menceritakan cerita seperti itu
merupakan hal yang luar biasa.
"Dia mungkin pelaku. Hanya orang seperti itu yang bisa menceritakan secara detail, persis
dengan apa yang ada," katanya.
Hanya saja kata Made, ada beberapa hal yang hilang. Dia hanya menceritakan kurun waktu 14 Februari 1945 saat pemberontakan PETA, pelariannya hingga Salatiga tempat kelahirannya, Semarang hingga ke Jakarta.
"Kami minta dikorek lagi, apa yang dilakukan selama itu," katanya.
Dia mengatakan, versi Supriyadi penuturan Andaryoko dengan versi yang ada di Blitar sama sekali berbeda. Versi masyarakat Blitar, Supriyadi itu melarikan diri ke arah utara, bukan
ke selatan. Memang kawasan utara dan selatan Blitar waktu itu adalah hutan belantara.
Selain itu, mengapa dia melarikan diri hingga Alas Purwo Banyuwangi yang sangat jauh
jaraknya dari Blitar hingga Andaryoko bertapa dapat wahyu di wilayah Alas Ketonggo Madiun. Alas Purwo juga bukan hutan sembarangan. "Ibaratnya orang bisa masuk, tapi tak bisa keluar," katanya. (bgs/gah)











































