Menurut Andaryoko, ada sekitar 200 pejuang PETA yang menyerang markas Jepang pada pukul 02.00 WIB, 14 Februari 1945. PETA melakukan pemberontakan karena tidak rela penduduk Indonesia diminta membungkuk-bungkuk pada Jepang dan dipukuli.
"Banyak yang mati dalam perang dadakan itu," kata Andaryoko kepada detikcom dan The Jakarta Post di rumahnya di Jalan Mahesa Raya, Pedurungan, Semarang Selasa (12/8/2008). Pejuang PETA kalah karena Jepang meminta bala bantuan dari Kediri, Malang, dan sekitarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Mei 1945 itu, Andaryoko keluar hutan dan menemui Bung Karno di Jakarta. Pada saat bersamaan, Bung Karno ikut sidang BPUPKI.
"Saya diterima pengawal presiden. Bung Karno pada awalnya tidak percaya. Tapi setelah saya katakan," Bung, Anda itu pemimpin. Kalau tidak memercayai orang sendiri, saya harus percaya kepada siapa", paparnya.
Akhirnya, Andaryoko diajak ke ruang belakang dan berbincang macam-macam. Saat itulah, dia berhubungan langsung dengan Bung Karno. Presiden pertama itu menyebut Andaryoko dengan sebutan Sup (Supriyadi).
Pada saat itulah Bung Karno berpesan kepada Andaryoko alias Supriyadi. "Sup, kamu kan mengalami sendiri sejarah bangsa ini. Tolong kalau kamu diberi umur panjang, kamu ceritakan semua yang kamu ketahui." (try/asy)











































