Ikhwal pertemuan dengan Supriyadi itu diungkapkan Bung Karno dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams. Pertemuan terjadi di Ndalem Gebang, kediaman orang tua Soekarno di Blitar. Saat itu, Soekarno berkunjung untuk menjenguk ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai yang baru saja diboyong Wardoyo, kakak ipar Soekarno kembali ke Blitar dari Jakarta.
"Apa jang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Soekarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Djepang maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa jang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Soekarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar," kenang Soekarno pada halaman 290.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedatangan Supriyadi ini dijelaskan di halaman 291. "Beberapa orang perwira PETA datang kepadaku. Para perwira ini mempersoalkan maksud mereka hendak mengadakan pemberontakan. Kami baru mulai merencanakan (kata Supriyadi). Mereka menyampaikan dengan kepercayaan penuh. Akan tetapi kami ingin mengetahui pendapat Bung Karno sendiri (kata Supriyadi)."
Saat itu, Soekarno mencoba meredam kegelisahan para pemuda PETA tersebut. Soekarno yakin dalam waktu dekat kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang akan segera datang. Pendek kata, Soekarno meminta mereka bersabar menunggu hasil perjuangan lewat jalur kooperatif dan tidak memilih jalur perjuangan bersenjata.
Namun sejarah toh akhirnya menumpahkan tintanya. Supriyadi dan 5 rekannya, Shudanco Moeradi, Shudanco Soeparjono, Bundanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Cudanco dr Ismangil dalam rapat terakhir di kamar Halir, 13 Februari 1945 memutuskan melakukan pemberontakan keesokan harinya, 14 Ferbruari 1945. Dan pecahlah pemberontakan PETA Blitar. (tbs/iy)











































