"Kita harus menghentikan perang, di Irak, dan di manapun di dunia ini," katanya kepada detikcom yang diundang Deplu AS mengikuti International Visitor Leardership Program (IVLP) selama 3 minggu, dengan penuh semangat sambil menunjukkan foto-foto bayi yang terlahir dengan fisik amburadul karena ibu yang mengandungnya terkontaminasi uranium dan anak-anak yang terluka akibat peperangan.
Dia adalah Concepcion Picciotto, seorang demonstran tunggal yang telah melakukan aksinya sejak tahun 1981 tanpa henti, di depan Gedung Putih di Lafayette Park, Washington DC. Dia sendirian selama hampir 24 jam, 7 hari seminggu sejak 1 Agustus 1981, berada di situ menyampaikan protesnya pada penghuni Gedung Putih untuk segera mengakhiri perang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebuah tenda putih yang nampak kumal diterpa hujan dan dipanggang terik matahari menjadi dinding peneduhnya. Spanduk dan poster dengan berbagai foto dan tulisan mengelilingi tenda wanita yang asal Spanyol tapi telah menjadi warga negara Amerika sejak muda ini.
Perempuan yang akrab disapa Connie ini baru akan menghentikan aksinya bila perang telah usai. "Tergantung anda semua penduduk dunia," katanya ketika ditanya sampai kapan akan tetap berdemo.
Bila Connie telah berada di Lafayette Park Washington DC ini sejak 27 tahun, hari Jumat (18/7/2008) waktu Washington, ada dua kelompok lagi yang sedang berdemo menemani Connie. Ada sekelompok orang yang mengenakan kaos berwarna kunig dengan tulisan Fallun Daffa, duduk bersila di rumput taman dan melakukan meditasi. Ada dua orang yang berdiri membentangkan spanduk dengan tulisan dalam huruf China. Di sisi lain seorang bikuni tampak duduk bersila dengan membunyikan kendang yang bertulisan Non Violence.
Di bagian taman yang lain, ada sekelompok anak muda dengan pakaian khas musim panas, yang membawa poster-poster bertuliskan nama-nama kota di Amerika Serikat. Mereka berkumpul mengelilingi sebuah panggung yang dilengkapi peralatan sound system, dan satu demi satu perwakilan dari mereka naik panggung untuk kemudian berorasi. Mereka memprotes perang di Irak dengan cara khas anak muda. Bahkan salah satu orator menyampaikan orasinya dengan gaya rapper.Tampak kru televisi merekam aksi anak-anak muda ini.
Menghadapi serbuan demonstran, pihak keamanan Gedung Putih nampaknya sudah sangat terlatih. Mereka hanya mengawasi dari jarak yang cukup dekat. Ada yang berdiri, ada yang duduk di mobil golf.
Dulu, jalanan yang memisahkan Lafayette Park dan pagar Gedung Putih memang sempat disterilkan dengan jumlah penjaga yang cukup banyak. Tapi kemudian mereka ditarik mundur dan jalanan pun boleh diakses oleh para pengunjung kembali. Meskipun begitu nampak para snipper berseragam serba hitam dan senjata terkokang tetap berjaga-jaga di posisi mereka di atap dan bagian atas Gedung Putih.
Tak ada aksi saling dorong antara polisi dan demonstran ataupun lemparan batu dan botol minuman. Demonstrasi semua dilakukan dengan damai, tanpa kekerasan dan tindakan-tindakan provokatif yang potensial memicu aksi anarkis dan bentrokan antara pengunjuk rasa dan pihak keamanan. Aksi unjuk rasa yang dilakukan ini bahkan kemudian menjadi perhatian dari para wisatawan yang mengunjungi Gedung putih dan Lafayette Park. Mereka ikut menguping apa yang diorasikan dan memotret aksi unjuk rasa itu.
Bahkan banyak pengunjung yang berbincang-bincang cukup lama dengan Connie mengenai aksi luar biasanya tersebut. Kepada pengunjung Connie pun selalu menunjukkan berbagai publikasi dari berbagai media di banyak negara yang menulis tentang aksinya dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia. Sebuah koran Indonesia yang menurunkan berita tentang kisahnya ditunjukkan Connie dengan bangga.
Kebebasan di Amerika memang sangat dihargai, karena dilindungi oleh undang-undang yang disebut Amandemen Pertama yang telah diadopsi pada tahun 1791. Isi dari amandemen itu berbunyi "Kongres tidak akan membuat undang-undang mengenai pembentukan agama, atau yang melarang dijalankannya agama secara bebas; atau menghambat kebebasan berbicara, atau kebebasan pers; atau hak rakyat untuk berkumpul secara damai, dan untuk menyampaikan petisi kepada Pemerintah untuk ganti rugi atas keluhan-keluhan mereka.
(nrl/nrl)











































