Ulah Bawahan yang Bikin Sewot

Menggoyang Kursi Jaksa Agung

Ulah Bawahan yang Bikin Sewot

- detikNews
Senin, 23 Jun 2008 09:10 WIB
Ulah Bawahan yang Bikin Sewot
Jakarta - Rekaman perbincangan Artalyta Suryani dengan Jamdatun Untung Udji, mantan Jampidsus Kemas Yahya Rahman, dan penyebutan nama Jamintel Wisnu Subroto, bikin wajah korps Kejaksaan Agung babak belur.

Bukti rekaman yang diungkapkan dalam persidangan kasus suap Artalyta terhadap jaksa Urip Tri Gunawan seolah membuktikan kalau para pejabat gedung bundar berhubungan dekat dengan koruptor.

Bukti baru itu mau tidak mau membuat Jaksa Agung Hendarman Supandji jadi sasaran tembak banyak pihak. Ia dianggap bertanggung jawab atas ulah anak buahnya tersebut. Paling tidak, meski Hendarman belum positif terlibat, pengawasan yang ia lakukan lemah. Akhirnya posisi sebagai orang nomor satu di korps Adhiyaksa dipertanyakan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Yusuf Andin Kasim, anggota Komisi III DPR dari F-BR menilai, Hendarman sudah dua kali tidak becus mengatasi masalah korupsi di dalam tubuh Kejaksaan.

"Hendarman harus mundur. Karena dia tidak mampu, tidak tegas dan terlalu percaya pada anak buah. Hasilnya seperti kita lihat sekarang kejaksaan menjadi lebih bobrok. Presiden SBY harus lekas mengubah wajah kejaksaan dimulai dari Hendarman Supandji," tegas politisi dari Kalimantan Timur ini.

Andin menambahkan karakter seorang Jaksa Agung yang baru harus lebih punya
sikap, lebih berani dan bisa menempatkan dirinya sebagai independen yang murni. Karakter itu bisa dilihat di dalam tubuh Ketua KPK Antasari Azhar.

"Sebaiknya Hendarman diganti dengan Antasari saja, karena apa jadinya bangsa ini kalau kejaksaan sebagai sarang korupsi dan sarang suap," kritiknya.

Karena mendapat kecaman sana-sini, Hendarman segera bertindak. Ia kemudian memerintahkan Jaksa Muda Bidang Pengawasan MS Rahardjo untuk menelusuri. "Sejak seminggu lalu saya instruksikan Jamwas melakukan pemeriksaan," kata Hendarman.

Pemeriksaan yang akan dilakukan untuk mengetahui pemetaan peran sekaligus kesalahan dari tiga pejabat tinggi di Kejagung. Sejauh ini Hendarman belum bisa menyimpulkan apakah peran ketiga anak buahnya bisa terindikasi korupsi atau hanya sekadar kesalahan kode etik saja.

Karena belum adanya bukti anak buahnya bersalah atau tidak Hendarman mengaku tidak akan mundur dari jabatannya. "Saya tidak akan mundur dari jabatan saya sebelum semuanya bersih. Lagi pula saya tidak terlibat dalam kasus tersebut, " ujar Hendarman.

Pria yang lulus dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro tahun 1973 ini sebenarnya punya catatan karir yang lumayan bersih. Tak heran bila Jaksa Agung Abdulrahman Saleh, tahun 2003 lalu mengangkatnya menjadi Jampidsus. Prestasinya semakin berkilau ketika ia menyeret Dirut Bank Mandiri ECW Neloe, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri I Wayan Pugeg dan Corporate Banking Director Bank Mandiri M Sholeh Tasripan ke bui.

Karena prestasinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan tugas tambahan sebagai Ketua Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Lagi-lagi Hendarman menorehkan prestasi dengan mengungkap kasus korupsi dana haji di Departemen Agama.

Namun prestasi itu mulai diragukan, setelah dari rekaman percakapan telepon antara mantan Jampidsus Kemas Yahya Rahman dikatakan kalau Hendarman mengetahui permainan Artalyta dengan anak buahnya. "Saya tidak ikut. Saya hanya dilapori Direktur Penyidikan M Salim. Dia (Salim) bilang, rencana itu sudah sepengetahuan Pak Jaksa Agung. Katanya begitu. Ya sudah itu saja," ujar Kemas.

Hendarman tentu saja membantah kabar tersebut. "Itu tidak benar dan kita lihat saja nanti," tegasnya. Ia mengatakan kalau dirinya berada di luar ring permainan antara anak buahnya dengan obligor BLBI Sjamsul Nursalim, melalui Artalyta.

Karena merasa tidak tahu-menahu masalah itu Hendarman agak sewot juga terhadap pihak-pihak yang memintanya mundur. "Kalau saya dianggap gagal parameternya apa? Karena kenyataannya saya sedang melakukan pembersihan di internal Kejagung. Silakan nilai sendiri hasilnya," begitu kata Hendarman.

(ddg/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads