Turis RI Ketakutan Setengah Mati

Pria Berpisau Mengamuk di Tokyo

Turis RI Ketakutan Setengah Mati

- detikNews
Senin, 09 Jun 2008 05:18 WIB
Jakarta - Saat pria bersenjata pisau mengamuk di keramaian Tokyo, ternyata ada warga negara Indonesia sedang berbelanja di kawasan pertokoan itu. Sang WNI ketakutan setengah mati.

"Mengerikan. Saya tak mengira kejadian seperti itu terjadi di Jepang, yang kami percaya adalah negara aman," kata Maman Faturahman (35), sang turis Indonesia yang sedang berbelanja barang elektronik, seperti dilansir AFP, Senin (9/6/2008).

Maman sedang berlibur ke Akihabara yang merupakan pusat elektronika, komik dan video game. Beberapa tahun belakangan ini, Akihabara berkembang menjadi daerah tujuan wisata terkenal di kalangan turis yang berkunjung ke Tokyo.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun surga belanja ini tiba-tiba dikagetkan aksi Tomohiro Kato (25) yang tiba-tiba mengamuk dengan sebilah pisau terhunus di tangannya.

"Saya terkejut mendengar berita karena saya sering mengunjungi tempat ini. Saya mungkin menjadi target jika berada di sini beberapa jam yang lalu," komentar Wataru Amano, seorang supir truk.

Beberapa jam setelah kejadian, tampak polisi yang telah menangkap Kato, mengumpulkan barang-barang bukti. Ribuan orang mengitari pita polisi, menonton penyidik mengumpulkan bukti dari darah yang berceceran di sana-sini.

Akihabara juga terkenal sebagai markas besar 'otaku', yakni tempat nongkrong anak-anak muda penggemar fanatis tokoh-tokoh komik dan video game. Mereka memadati kawasan itu termasuk, berpakaian ala tokoh-tokoh yang mereka puja.

"Akihabara adalah tempat yang menyenangkan dan damai, namun saya khawatir penyerangan ini akan mencorengnya," kata seorang gadis berumur 17 tahun yang menyebut dirinya Sakura dan mengenakan baju pelayan kafe tempat dia bekerja.

"Saya berharap orang-orang tidak akan menghubungkan aksi gila ini dengan otaku," tambahnya.

Namun, sebagian turis-turis tetap memandang kejadian di Minggu siang ini bisa terjadi di mana saja. "Ini terjadi di mana saja di dunia," kata Nur Ahmed, orang Mesir berusia 41 tahun yang telah menetap di Jepang selama 16 tahun. "Saya turut berduka pada korban-korban, namun kita tak bisa menolong dan itu tak ada kaitannya dengan Jepang," tambah Ahmed.

Mahasiswa Bangladesh, Hossain Delowar (27), juga berkomentar senada. "Saya tak pernah menyaksikan kejahatan semengerikan ini sebelumnya. Ini adalah pengecualian di Jepang. Namun saya tak berubah pikiran, Jepang masih negara yang aman," pungkasnya. (aba/aba)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads