"Bapak tidak punya istri apalagi anak. Dia juga anak tunggal," kata anak angkat korban Aryati, 50, yang diangkat sejak kecil, ketika ditemui detikcom di kediamannya, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (3/6/2008).
Dalam meniti kariernya di Ditjen Bea dan Cukai, berbagai posisi telah didudukinya. Tidak hanya Kepala Kepegawaian, tetapi juga pernah menduduki Kepala Penyidikan dan Penindakan Pusat serta Kepala Bea dan Cukai Palembang.
"Bapak asli orang Solo. Dah tinggal disini sejak tahun 80 an, sejak Kemang masih kaya hutan," tambahnya.
Rumah yang beralamat di Jl Abdul Majid 99, Kemang, Jakarta Selatan, memiliki dua rumah. Satu rumah utama yang ditinggal Waluyo, sedang satu rumah lagi ditinggali dua anak angkatnya Aryati (50) dan Suhandi (42). Kedua rumah ini berdiri diatas lahan seluar 1.000 meter persegi dengan pohon yang cukup rindang. "Bapak tinggal sendirian aja," ceritanya.
Meski telah kepala tujuh dan hidup sendirian, tetapi masih tetap segar bugar. Ingatannya pun masih kuat. Bahkan, Waluyo dikenal pandai main judo. "Sejak pensiun tahun 1994, bapak banyak di rumah saja," tutur wanita berambut pendek ini.
Sebelum terjadi perampokan, ada orang yang tak dikenal menanyakan secara detail rumah sore harinya. Dia mengaku hendak mencari kontrakan rumah. "Nggak tahu ada hubungannya atau nggak, tapi malemnya dirampok," pungkasnya.
(asp/ana)











































