Tim BPPT melakukan pengujian dua tahap. Pertama, membandingkan blue energy dengan bahan bakar solar reguler dan petradex produksi Pertamina yang biasa dijual di SPBU. Kedua, meneliti untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan blue energy tersebut.
Hasil penelitian BPPT ini dipaparkan Menneg Ristek Kusmayanto Kadiman dalam jumpa pers di gedung BPPT, Jl. Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (2/6/2008). Kusmayanto didampingi Kepala Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT Unggul Priyanto dan peneliti Balai Termodinamika Motor dan Propulsi BPPT Prawoto.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Kusmayanto yang menjelaskan di depan wartawan sambil membuat ilustrasi di papan tulis, pembuatan bahan bakar dari air memerlukan biaya tinggi, bila teknologi yang dipakai adalah elektrolisa. Teknologi ini harus memecah hidrogen yang memerlukan energi besar.
Pembuatan bahan bakar air dengan teknologi elektrolisa membutuhkan biaya US40/Giga Joule (GJ), sedangkan menggunakan BBM US$ 25 GJ dan batu bara US$ 18/GJ.
Sementara itu, Unggul menjelaskan bahwa pihaknya tidak tahu persis proses pembuatan blue energy itu. Dia hanya menduga bahwa pembuatan blue energy itu menggunakan teknologi elektrolisa. "Sesungguhnya kami tidak tahu persis proses yang digunakan dalam blue energy, karena semuanya serba rahasia, orang luar tidak ada yang tahu," jelas dia.
Sementara itu, saat ditanya apakah hasil penelitian BPPT ini akan dikirimkan kepada Presiden SBY, Kusmayanto membenarkannya. "Ya. Ke masyarakat saja kita sampaikan kok," ujar dia.
Sementara Prawoto menyatakan penelitian BPPT terhadap blue energy ini dilakukan pada Januari-Februari 2008. Namun, mengapa hasil penelitiannya tidak segera dikirimkan kepada Presiden SBY? Inilah yang belum disampaikan BPPT.
(asy/nrl)










































