Batubara Cair Made in BPPT Tunggu Studi Layak Ekonomi

Energi Alternatif

Batubara Cair Made in BPPT Tunggu Studi Layak Ekonomi

- detikNews
Rabu, 28 Mei 2008 17:19 WIB
Jakarta - Ribut-ribut tentang energi alternatif, sejatinya Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) sudah meneliti batubara cair untuk BBM. Cuma, masih menunggu studi kelayakan ekonomi.

Riset BPPT itu dijelaskan Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi BPPT Unggul Priyanto kepada detikcom, Rabu (28/5/2008).

"Penelitian batubara direaksikan dengan hidrogen menjadi bensin, solar. Penelitian sudah terbukti, tapi secara ekonomi itu masih dalam bentuk feasibility study," ujar Unggul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Metodenya, imbuh Unggul, batubara digasifikasi sehingga menjadi gas H2 (hidrogen) dan CO (karbonmonoksida). Setelah itu H2 dan CO dicairkan dan direaksikan melalui 1 katalis sehingga menjadi BBM sintetis.

"Pakai steam dan oksigen. Bukan udara yang diambil oksigennya saja," ujar dia.

Dalam perhitungan BPPT, batubara penghasil BBM sintetis itu bisa memproduksi 50 ribu barel per hari. Untuk itu diperlukan suplai batubara 1 tahun sebesar 10 juta ton.

"Indonesia sangguplah. Kan produksi batubara kita 190 juta ton per tahun. Kecil jumlah itu (10 juta ton). Kalau Indonesia mau membuat 500 ribu barel per hari bisa, butuh 100 juta ton batubara per tahun. Pemakaian dalam negeri 40 juta ton, sisanya diekspor," jelas dia.

Menurut Unggul, proyek ini sudah dimulai sejak Ketua BPPT dijabat BJ Habibie. Yang menjadi masalah, butuh investasi besar untuk membangun proyek ini.

"Untuk produksi 50 ribu per barel per hari saja dibutuhkan investasi Rp 38 triliun," jelas dia.

Menurut Unggul, masalah biaya ini yang membuat proyek tersebut tak kunjung dijamah pemerintah. Di satu sisi, pihak swasta yang ingin menanamkan modal besarnya membutuhkan kepastian agar investasinya kembali.

"Mungkin semacam fuel persistence agreement, ada kepastian pemerintah mau beli," tutur dia.

Selain itu, belum banyak orang yang percaya akan teknologi ini. "Pebisnis kan ingin aman. Kalau mau lihat contoh, lihat di Afrika Selatan. Di sana teknologi ini sudah berproduksi 150 ribu barel per hari," kata dia.

Di Afsel, imbuh dia, batubara yang digunakan adalah batubara yang tidak laku dijual karena kandungan abunya tinggi. Sehingga batubara yang menjadi bahan bakunya sangat murah, US$ 10 per ton.

"Jadinya minyak yang harganya US$ 30-an per barel. Afsel sekarang sibuk, karena harga minyak naik, banyak yang minta ke mereka. Tinggal melobi ke mereka (Afsel) mau bangun pabriknya nggak," kata dia.

Unggul juga menambahkan bahwa teknologi yang diteliti BPPT sudah dipatenkan. "Kayaknya sudah, waktu itu kerjasama dengan Jepang. Kalau skala laboratorium untuk masak aja sih bisa. Masalahnya ini skala besar untuk pesta. Yang sudah pengalaman ya Afsel," ujar dia. (nwk/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads