Pada awalnya, Ali Mufiz berniat baik dengan menemui pendemo yang melakukan aksi mogok makan di depan kantornya, Jl Pahlawan Semarang, Senin (26/5//2008). Dia sempat berdialog dengan para mahasiswa.
Ali Mufiz meminta mahasiswa mengerti bahwa kenaikan BBM merupakan kewenangan pemerintah pusat. Kompensasi dari kebijakan itu sudah dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dialog usai, mahasiswa yang berasal dari KAMMI itu memintanya menandatangani kain putih berisi dukungan terhadap penolakan kenaikan harga BBM. Namun Ali Mufiz menampakkan wajah tak suka.
Meski diprovokasi dengan beragam alasan, Ali Mufiz enggan membubuhkan tanda tangannya. Ia memilih meninggalkan lokasi aksi.
"Kami kecewa, karena telah memilih pemimpin yang tak bisa mendengarkan aspirasi rakyatnya," teriak Presiden BEM Undip, Ariyanto.
Ali Mufiz tak menggubris teriakan itu. Dia terus melangkah dengan didampingi Sekda, Kepala BIKK, dan sejumlah stafnya.
Para mahasiswa yang melakukan aksi mogok makan itu akhirnya meninggalkan kantor gubernur dan menuju Bundaran Air Mancur sekitar pukul 12.00 WIB. Mereka berencana mogok makan selama 5 hari dan akan terus berunjuk rasa. (try/djo)










































