Berbagai macam kalangan berdatangan ke rumah duka mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin untuk memberikan penghormatan terakhir. Baik dari rakyat jelata, pejabat maupun mantan pejabat.
Tampak di antara pelayat adalah mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Gus Dur dan istri tiba di rumah duka di Jalan Borobudur nomor 2, Jakarta Pusat, Rabu (21/5/2008) pukul 09.50 WIB. Gus Dur dan istri yang menggunakan kursi roda tampak memanjatkan doa bagi almarhum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepak terjang Bang Ali, menurut Gus Dur, sangat berani. Di rezim Orde Baru, lanjut dia, Bang Ali berani membuat kebijakan yang tidak sejalan dengan pemerintahan Soeharto. "Berani menentang kebijakan rezim yang kacau balau," kata dia.
Ketika ditanya hasil kepemimpinan Bang Ali memimpin Jakarta, Gus Dur mengapresiasi dengan baik.
Selain Gus Dur, terlihat melayat Menhub Jusman Syafii Djamal, Menneg PP Meutia Hatta, Menbudpar Jero Wacik, mantan Gubernur DKI Sutiyoso dan Surjadi Soedirdja, Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo dan Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso.
SBY direncanakan akan melayat. Namun hingga pukul 10.15 WIB, belum ada tanda-tanda kedatangan SBY di lokasi.
Salat Bergelombang
Pelayat terus berdatangan di rumah duka. Salat jenazah untuk Ali Sadikin dilakukan secara bergelombang.
Pelayat pria salat jenazah di dalam rumah. Di ruang itu ada 4 shaf yang masing-masing terdiri dari 10 orang. Sedangka pelayat perempuan tampak salat di halaman beralas tikar. Hingga pukul 10.20 WIB, salat jenazah sudah dilakukan 4 gelombang.
(aan/nrl)











































