Ternate -
Aksi menolak rencana kenaikan harga BBM terus bergejolak di daerah. Di Ternate, ratusan mahasiswa di Malut, yang tergabung dalam HMI Cabang Ternate, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Malut, BEM STAIN Ternate, Gerakan Rakyat Tolak BBM (GERTAK-BBM) Malut, juga melakukan aksi serupa.
Mahasiswa menilai kenaikan harga BBM akan membuat rakyat semakin menderita, terutama
rakyat kecil. Angka kemiskinan akan bertambah karena rakyat sudah tidak mampu lagi untuk membeli kebutuhan pokok.
Dalam aksinya, para mahasiswa Malut meminta pemerintah pusat menutup defisit APBN dengan maksimalkan pendapatan negara. Banyak cara yang bisa dilakukan pemerintah terkait hal itu, seperti menuntaskan berbagai kasus korupsi raksasa, menurunkan
gaji pejabat publik sebagai bagian dari efesiensi anggaran negara serta nasionalisasi perusahan asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Demo yang dilakukan ratusan mahasiswa ini dilakukan di dua tempat yakni di kantor RRI Ternate, Jl Sultan Khairun dan Kantor DPRD Malut Jl Stadion Ternate. Di Kantor DPRD Malut, mahasiswa berupaya masuk ke dalam ruangan DPRD untuk bertemu dengan anggota DPRD. Namun mereka dihalangi puluhan aparat polisi. Sempat terjadi baku dorong dengan aparat polisi dan menyebabkan 2 mahasiswa pingsan.
Mahasiswa juga melakukan aksi pembakaran keranda mayat. Aksi para mahasiswa ini akhirnya berujung damai.
(djo/djo)