"Hasil survei ini sebenarnya belum stabil terlebih apabila terjadi kenaikan BBM. Apabila kenaikan BBM terjadi, popularitas SBY-JK pasti lebih kecil dari hasil survei. Karena bagaimana pun yang terpukul atas kenaikan ini adalah rakyat kecil," kata pengamat politik LIPI, Syamsuddin Haris.
Hal ini disampaikan Syamsuddin di acara pemaparan survei Indonesian Research and Development Institute (Indonesian RDI) di Grand Hyatt, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin (5/5/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi apabila suasana politik kita cenderung sama dengan sekarang maka kecil kemungkinan Partai Golkar bisa menyalip SBY," ujarnya.
Menurut dia, popularitas tokoh lain selama ini dibanding SBY rata-rata masih kecil. "Partai Golkar juga belum mempunyai tokoh alternatif selain ketua umumnya Jusuf Kalla dan popularitas JK masih kecil dibanding SBY," kata Syamsuddin.
Sekarang ini, lanjut dia, belum muncul tokoh muda dari partai besar tersebut. "Yang muncul hanya tokoh daur ulang. Daur ulang maksudnya, gagal di pilpres lalu terus mau maju lagi di pilpres sekarang," tutur dia.
Selain itu, Syamsuddin mengatakan, tokoh politik termasuk SBY dan JK belum berani mengambil risiko. "Kita perlu tokoh yang punya ketegasan dan keberanian yang berlipat-lipat dari SBY-JK," cetusnya. (aan/nrl)










































