Riset yang dilakukan Procon Indah akhir April lalu menyebutkan, sebagian besar atau 40% tambahan lokasi pusat belanja berada di Jakarta Utara, diikuti 20% di Jakarta Selatan, dan CBD sebesar 18%. Beberapa pusat perbelanjaan yang direncanakan beroperasi pada 2008 antara lain Sudirman Place, Grand Paragon, Mall of Indonesia, Plaza Indonesia extension, Emporium Pluit Mall, Epicentrum Walk, Pluit Village dan Pulo Mas Ex-Venture.
Dalam riset itu juga disebutkan, dibukanya gerai-gerai ritel pada pusat perbelanjaan baru telah menaikkan tingkat penyerapan selama kuartal pertama ini. Aktivitas sewa selama triwulan pertama masih didominasi peritel fashion dibandingkan food and beverage (F&B). Diikuti beberapa penawaran besar yang cukup aktif untuk pembukaan ritel entertaiment.
Bagi masyarakat, khususnya kalangan menengah atas (middle up), mal bukan lagi sekadar tempat berbelanja, melainkan telah menjelma sebagai tempat kongkow-kongkow, hang out, dan arena hiburan. Jadi porsi berbelanja hanyalah sekian persen dibanding porsi hiburannya. Tak heran bila mal kini menjelma sebagai lokasi yang begitu gemerlap dengan aneka hiburan di dalamnya.
Belakangan gemerlap mal jadi sorotan. Pasalnya, pemerintah menganggap mal menempati urutan nomer satu dalam hal pemborosan listrik. Apalagi saat ini pemerintah sedang bergiat melakukan penghematan energi, akibat harga minyak dunia yang meroket tajam. Jam operasi mal kemudian diminta pemerintah dikurangi. Paling tidak selama satu jam.
Pengamat kebijakan publik UI Andrinov Chaniago mengakui, memang penggunaan energi banyak diserap sektor swasta, misalnya perkantoran dan pusat perbelanjaan. Meningkatnya kebutuhan listrik konsumen bisnis seiring dengan perkembangan ekonomi bangsa. "Tapi program hemat energi perlu didukung, mengingat cadangan energi yang kita punya sangat terbatas," ujar Andrinov saat dihubungi detikcom.
Pertumbuhan mal dan sejumlah pusat bisnis di Indonesia terkait erat dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat. Pesatnya dunia bisnis mengakibatkan kebutuhan listrik terus meningkat hingga 20% setiap tahun. Untuk menghadapi hal ini, menurut para pengamat, PLN memerlukan 1500-2000 MW setiap tahun. Tapi saat ini PLN masih kesulitan memenuhinya. Sedangkan cadangan listrik yang tersedia hanya 30% di Jawa- Bali. Sedangkan pembangkit tenaga listrik yang berkapasitas produksi 10.000 MW hingga kini belum rampung.
Kebutuhan energi di sejumlah pusat bisnis dan perbelanjaan, antara lain untuk penyejuk ruangan, penerangan, eskalator dan elevator. Selain itu, di pusat bisnis semacam mal, sering diadakan kegiatan pada malam hari atau saat beban puncak. Wajar kalau kemudian pusat perbelanjaan berada di posisi teratas penggunaan listrik negara.
Tapi kata Chaniago, pemerintah juga banyak melakukan pemborosan, yakni dengan menyalahkan lampu-lampu yang hanya bertujuan pada keindahan semata. Misalnya, lampu-lampu hias yang berjajar di sepanjang jalan protokol. Belum lagi kantor-kantor pemerintah yang lampunya terus menyala di siang hari. "Harusnya pemerintah memberikan contoh untuk hemat energi dengan tidak menggunakan listrik untuk hal yang tidak penting,"jelasnya.
Bagi Kresnayana, dosen statistika Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, aturan tentang pengurangan jam operasi mal bisa menjadi dilema. Sebab menurut perhitungannya yang paling boros menggunakan listrik adalah pelanggan PLN rumah tangga.
Kresnayana mengilustrasikan, jika di satu kota ada sekitar 30 ribu pengunjung mall, maka rumah-rumah pengunjung mall itu akan menghemat listrik. Karena mereka tidak menyalakan lampu, TV dan AC. Tapi kalau mall tutup pukul 21.00, maka orang akan mencari hiburan dengan nonton TV menyalakan AC dan pasti menyalakan lampu rumah. Hal ini membuat penggunaan listrik semakin meningkat.
Ia lantas menyarankan kepada semua pihak, baik pemerintah, swasta dan masyarakat untuk tidak menyalakan AC selama 2 jam atau mengganti lampu-lampu yang watt-nya besar dengan watt kecil.
Sedangkan dari sisi bangunan, Ir Putu Rumawan Salain, dosen jurusan teknik arsitektur Universitas Udayana, belum lama ini mengungkapkan, saat ini desain bangunan yang hemat energi harus dipikirkan. Dengan membuat desain dan konsep bangunan hemat energi, pemborosan energi tentu saja akan dapat dihindari.
Saat ini, katanya, banyak bangunan perumahan, perkantoran, mal dan apartemen yang tidak hemat energi. Hal ini bisa dilihat dari desain bangunannya yang tidak memungkinkan cahaya untuk bebas masuk. Akhirnya ruangan tersebut bergantung dengan penerangan lampu. Karena lampu terus dinyalakan, tentu akan terjadi pemborosan energi listrik.
Selain itu banyak juga bangunan yang didesain serba tertutup, sehingga ventilasi udara tidak bebas keluar masuk. Akibatnya ruangan terasa pengap dan sumpek sehingga membutuhkan alat pendingin ruangan atau AC. Kalau sudah begitu, tentu akan terjadi peningkatan kebutuhan energi listrik.
Jadi, imbuh Rumawan, program hemat energi memang mendesak diberlakukan untuk mengatasi kelangkaan BBM dan energi listrik. Salah satu cara penghematan antara lain dengan membuat desain dan konsep bangunan hemat energi. (/iy)











































