Massa yang berasal dari Bantul, DIY, itu menuntut agar keistimewaan DIY dipertahankan.
"Kami ke sini pertama untuk silaturahmi. Kedua, untuk mengucapkan terimakasih kepada DPR dan fraksi yang telah membantu dalam proses perbaikan setelah gempa bumi. Kami ingin menyampaikan aspirasi agar DIY tetap dipertahankan sebagai daerah istimwa," kata koordinator aksi Sumarno di sela-sela aksi di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (28/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita mengusung sabar. Sabar itu artinya sabar, agamis, dan budaya," lanjut Sumarno.
Saat berjalan menuju tempat parkir utara Gedung DPR, massa tampak seperti sedang melakukan karnaval. Para pria mengenakan beskap berwarna-warni dilengkapi sarung dan blangkon. Tak lupa mereka pun menyematkan keris di ikat pinggang belakangnya.
Sedangkan yang perempuan mengenakan kebaya. Ada yang rambutnya disanggul namun ada pula yang hanya mengenakan kerudung. Beberapa orang mengusung papan nama kecamatan masing-masing seperti Sewon, Kretek, Macapat, Pundong, dan Kasihan.
Menurut salah satu orator, seluruh komunikasi disampaikan dengan bahasa Jawa. Termasuk instruksi seperti untuk makan atau istirahat.
"Kangge dhahar dipun pendet piyambak-piyambak. Sak meniko kito istirahat rumiyin nenggah Pak Ketua DPR ingkang bade nemui kita sedoyo (Silakan ambil makan sendiri-sendiri, Sekarang kita istirahat dulu, menunggu Pak Ketua DPR yang akan menemui kita semua," kata orator tersebut. (nvt/nrl)











































