Tidak hanya menggunakan gas beracun yang dihasilkan dari detergen pakaian, mereka bahkan mengikuti metode cara bunuh diri yang telah tersebar melalui situs di internet. Korban sebagian besar meninggalkan pesan tak jauh dari jasad mereka.
Seperti kasus terakhir yang ditemukan oleh kepolisian di Kochi, Jepang selatan, secara
mengejutkan mereka menemukan seorang perempuan yang baru berusia 14 tahun tergeletak di kamar mandi apartemen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tetapkan bahwa dia meninggal karena gas beracun. Kita juga pastikan gas hidrogen sulfida yang menyebabkan kematian tersebut," kata salah satu petugas kepolisian, seperti yang dilansir AFP, Kamis (24/4/2008).
Selain mendapati, perempuan yang identitasnya masih disembunyikan itu tewas mengenaskan, di depan pintu apartemennya terdapat pesan berbunyi "ruangan ini dipenuhi gas beracun".
Sementara di Shinoyama, seorang pria berusia 30 tahun juga ditemukan tewas pada Kamis pagi di pelataran parkir sebuah taman.
Lagi-lagi, polisi yang menangani kasus tersebut menemukan kotak detergen serta surat bunuh diri di dalam mobilnya. Di kaca bagian mobil juga ditemukan pesan berisi "mobil ini dipenuhi oleh gas hidrogen sulfida beracun".
Tak jauh berbeda, di Kyoto, seorang pria juga ditemukan pada Kamis malam di dalam mobil. Yang ini, pesan bertuliskan, "Jangan dibuka. Gas berbahaya," terpampang di kaca mobilnya.
Lalu, pria 27 tahun bunuh diri dengan cara yang sama di rumahnya di Kobe. Naasnya, ayahnya yang tengah berada serumah dengannya menjadi korban, karena ikut menghirup udara beracun itu. Di usia 64 tahun ayah pelaku bunuh diri itu meninggal sebelum dapat menyelamatkan diri.
Meski telah banyak ditemukan kasus yang serupa, belum ada data statistik yang mengenai percobaan bunuh diri menggunakan teknik tersebut.
Namun, surat kabar Nikkei telah menemukan setidaknya ada delapan kasus
selama beberapa bulan. (ptr/mly)











































