Hutan Beton Sampai ke Gunung

Laporan dari Hong Kong

Hutan Beton Sampai ke Gunung

- detikNews
Selasa, 15 Apr 2008 16:08 WIB
Hutan Beton Sampai ke Gunung
Hong Kong - Di awal abad 19, Hong Kong hanyalah pelabuhan kecil dengan penduduk berjumlah ribuan. Namun sekarang, populasi pulau kecil di Laut China Selatan ini sudah melebihi 7 juta jiwa.

Populasi yang padat ini membuat lahan di Hong Kong sangat langka. Perumahan dan perkantoran lalu dikembangkan vertikal, bahkan sampai berpuluh-puluh lantai ke atas.

Begitu turun dari Bandara Internasional Hong Kong di Pulau Lantau pada Sabtu (12/4/2008) malam lalu, pemandangan sudah dipenuhi pencakar-pencakar langit. Lampu-lampu puluhan gedung pencakar langit itu bersinar terang. Tak terbayangkan berapa besar energi yang dibutuhkan untuk menghidupi itu semua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gedung-gedung itu bukan hanya berdiri di dataran rendah, di pusat-pusat kota Hong Kong. Ketika detikcom bepergian ke gunung tertinggi di Hong Kong, Victoria Peak, gedung-gedung pencakar langit bak pohon-pohon yang berjejer.

Meski merupakan puncak tertinggi, Victoria Peak tak luput dari pembangunan gedung. Bangunan Terminal Atas the Peak Tram yang bernama the Peak Tower berdiri megah hingga beberapa lantai.

Tak jauh dari sana, tampak sebuah kondominium berlantai 4 bergaya Victoria. Beberapa kali detikcom melihat mobil-mobil mewah melintas turun dari bangunan dari bangunan itu.

"Banyak orang-orang kaya Hong Kong memilih tinggal di Victoria ini," ujar pemandu wisata E Ling yang mengantar rombongan wartawan dan tim Telkomsel ke kawasan yang bersuhu adem itu, Minggu (13/4/2008) lalu.

Sekali lagi, E Ling mengatakan, bertempat tinggal di ketinggian memiliki feng shui yang baik menurut kepercayaan Tionghoa. Sehingga, tak usah heran, jika di puncak-puncak bukit yang tersebar di pulau Hong Kong dan Kowloon, telah bertengger rumah-rumah dan gedung-gedung tinggi.

Di pusat kota seperti Causeway Bay, gedung-gedung dibangun secara vertikal. Bahkan tempat parkir pun bertingkat, dengan tarif yang selangit. Di bagian bawah gedung mungkin terlihat seperti mal yang mewah, diisi butik-butik perancang kenamaan dunia, namun ketika dilongok ke atas, tampak pakaian sedang dijemur.

Itulah apartemen-apartemen sempit yang diisi jutaan rakyat Hong Kong. Biar sempit, tapi harga apartemen itu bisa selangit.

"Untuk 300 feet (persegi), harganya HKD 10 juta," kata E Ling. Jika 1 meter disetarakan 3 kaki, maka itu berarti apartemen seluas 100 meter persegi memiliki harga hampir Rp 12 miliar.

Untuk diketahui, upah minimum Hong Kong adalah HKD 3.850. Sehingga, bisa dibayangkan, betapa sulitnya seorang pekerja kerah biru memperoleh tempat tinggal dengan ukuran yang lumayan.

Karena space yang terbatas itu, tak mengherankan jika warga Hong Kong suka menikmati liburan bersama keluarga di restoran atau tempat-tempat publik. Pada hari Minggu, biasa kita lihat sekeluarga mulai dari nenek sampai cucu duduk bersama di restoran.

"Tak mungkin nenek mengundang semua anak dan cucunya duduk bersama di apartemen yang sempit," kata E Ling yang ibu dan neneknya berasal dari Palembang itu.

Mungkin itulah harga dari pembangunan luar biasa di Hong Kong. (aba/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads