Senil, daya ingatnya semakin menurun. Baru menaruh pena saja sudah lupa di mana, konon lagi mau mengingat rakyat dan janji-janji yang sudah diumbar. Kalau sudah demensi lebih parah lagi. Bisa disorientasi person, waktu dan tempat. Ngga tahu siapa lu pade, ngga tahu ini kapan dan jam berape, ngga tahu dia ada di mane. Konon lagi mau ngurusin lu pade.
Sudah ringkih, terbuang zaman, tidak nyambung lagi dengan keadaan, tapi masih merasa diri sebagai superman. Bukan dia nanti yang mengurus rakyat, tapi rakyat yang dibuat repot oleh dia. Barang milik rakyat, dikira milik dia. Uang milik rakyat, dikira uang saku buat membeli tembakau pipa cangklong. Baru saja makan, tapi mengaku belum. Obat yang seharusnya diminum malah dibuang dikira racun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itu pilihan rakyat Jabar adalah pilihan rasional. Memilih pasangan muda, trengginas, kuat fisik, teguh ingatan. Syukur-syukur kapabel, amanah dan jujur. Kini mereka harus membuktikan diri untuk kepercayaan dan kesempatan yang diberikan. Jadilah babu rakyat yang baik dan patuh. Kalau sama pikun dan bobroknya, ya wassalam sudah.
Keterangan penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(es/es)











































