Salah satu kritik terhadap para ator demokrasi di Indonesia, yakni soal lemahnya akses dukungan massa yang riil, akses ekonomi, dan jejaringan. "Buktinya, kawan-kawan yang maju sebagai calon anggota dewan dalam Pemilu 2004 lalu, hanya sebagian yang sukses," kata aktivis LSM Palembang Tarech Rasyid, kepada detikcom, di kantornya, Jalan Radial Palembang, Senin (14/04/2008).
"Saya ini merupakan salah satu contohnya," imbuhnya.
Jadi, calon independen yang diharapkan mampu menampung aktor-aktor prodemokrasi lantaran tidak sejalan dengan karakter partai politik di Indonesia, itu sulit diwujudkan secara optimal. Ini lantaran persyaratan dukungan sebesar 4 persen dari jumlah penduduk dinilai terlalu sulit.
"Berapa banyak sih aktivis prodemokrasi yang memiliki banyak dana? Non sense lah kalau persyaratan terlalu sulit seperti itu," katanya.
Jadi, kata Tarech, calon independen ini masih memfasilitasi para mantan pejabat negara. "Lah, di negara ini yang banyak dana dan jaringan ya, masih pejabat negara. Baik sipil maupun meliter. Coba hitung berapa banyak sih kawan-kawan aktifis prodemokrasi yang jadi senator (DPD). Yang banyak kan mantan pejabat negara semua," ujarnya.
"Mungkin 10 tahun ke depan kita baru dapat menyaksikan ada calon independen yang betul-betul dari kalangan prodemokrasi, tapi dengan syarat UU juga mengalami perbaikan dan kondisi ekonomi Indonesia mengalami perbaikan, sehingga aktivis prodemokrasi tidak miskin-miskin," katanya.
Pernyataan senada disampaikan Dhaby K. Gumayra, "Saya ini pernah menjadi calon senator tahun 2004 lalu. Cukup berat. Memang susah kalau kita maju modal dengkul. Tapi, kawan-kawan aktivis prodemokrasi punya peluang yang cukup besar. Namun, itu membutuhkan waktu yang panjang. Kalau hanya waktu 2-3 bulan buat mencari dukungan ratusan ribu orang, tentu membutuhkan cost yang cukup besar. Para aktivis itu kan naik sepeda bukan mobil BMW," katanya.
"Bisa jadi, sekarang ini calon independen dipenuhi mantan pejabat. Ini kan potret wajah Indonesia. Kalau mau berubah, ya, perbaikan semuanya. Nasib petani yang pertama harus diperbaiki, baru kita semua berubah termasuk soal suksesi politik ini," tambahnya.
Pendapat Tarech maupun Dhaby ada benarnya. Mantan Pangdam II Sriwijaya Syahrial BP. Peliung dikabarkan akan maju sebagai calon independen gubernur Sumsel periode 2008-2013. Lalu, sejumlah mantan pejabat lain di Sumsel, baik yang pernah menjabat gubernur, walikota, dan lainnya, juga dikabarkan tengah kasak-kusuk mengenai peluang ini.
"Ada duit, dukungan gampang dicari. Sebetulnya, calon independen ini jauh lebih murah dibandingkan melalui partai politik buat menjadi calon," kata Tarech. (tw/gah)











































