"Jangan mentang-mentang untuk warga kurang mampu, kualitasnya rendah, mudah meledak dan merugikan warga," Walikota Palembang Eddy Santana Putra dalam rapat koordinasi evaluasi dan monitoring pelaksanaan penerimaan Pendapatan Asli Daerah 2007-2008, di aula Dinas Pendapatan Daerah Palembang, Jl Merdeka, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (1/04/2008).
Pernyataan Eddy tersebut menyusul laporan dari Kepala Dinas Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) A Sattar HY. Selama ini sudah empat tabung konversi yang dibagikan gratis kepada mayarakat miskin meledak. Eddy menyatakan siap membawa persoalan meledaknya kompor gratisan ini ke Pertamina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tabung gas yang meledak antara lain milik Anwar (40). Peristiwa tersebut dialami warga Rusun Blok VII, Palembang, ini pada Kamis 13 Maret lalu. Kasus yang sama menimpa Nurhayati (37), ibu rumah tangga beranak 10 dan dua anaknya, Widya (1,6) dan Fitri (2,5), serta Syamsudin (41), warga Jalan PSI Lautan, Lr Suro, Kelurahan 30 Ilir. Mereka menjadi korban keganasan api dari meledaknya tabung gas ukuran 3 kg.
Bahkan, tiga hari lalu (30/03/2008) sekitar pukul 13.00 WIB, warga Jalan Rimba Kemuning, Lr Buyut, RT 15A, Kelurahan Ario Kemuning, Kecamatan Kemuning mengalami peristiwa serupa. Satu keluarga, Rusmala Dewi (30), suaminya Zul (40) pegawai DKP, anak bungsu mereka Misuna (4) serta tetangganya Ayu Wandira (12) menjadi korban dengan kulit melepuh, akibat ledakan tabung.
Dihubungi terpisah, Wakil Kepala Humas Pertamina UPms II, Roberth, menyatakan siap memberikan keterangan kepada pemerintah Palembang. "Kita nilai, ini merupakan koordinasi. Intinya untuk kepentingan masyarakat banyak," kata Roberth.
Roberth tidak menyangkal dari puluhan ribu tabung konversi banyak produk yang cacat. "Yang produksi pabrik dari Jakarta. Saat ini, kita mencoba menyortir tabung yang kita anggap cacat. Jumlahnya, ada 500 tabung gas yang siap kita kembalikan ke PT Supra di Jakarta," katanya.
Mengenai meledaknya tabung gas di Jalan Rimba Kemuning, Kecamatan Kemuning, tiga hari lalu, Roberth menyatakan telah menurunkan tim untuk melakukan pengecekan. "Sebenarnya, tidak ada santunan resmi dari Pertamina, tapi ini merupakan tanggung jawab moral. Ke depan, kepada para korban kita berikan tanggungan untuk berobat. Karena, pengobatan luka bakar, tidak hanya sekali, tapi barulang-ulang," kata Roberth. (tw/djo)











































