Yassona yang juga Wakil Ketua Pansus RUU Pemilu menilai, usulan beberapa fraksi agar capres harus S1 sebagai bentuk politik dagang sapi. Sebab, manuver itu selalu dimunculkan untuk menjegal calon yang akan maju dalam pilpres.
"Tidak ada hubungan langsung S1 dengan leadership. Karena itu syaratnya yang umum saja, yang gampang saja. Kalau memaksakan S1 itu politik dagang sapi hanya untuk bargaining," kata Yassona di Gedung DPR, Senayan, Kamis (13/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Biarkan rakyat yang memilih siapa yang akan dipercaya ke depan. Buktinya, sekarang presiden seorang doktor ekonomi juga semakin sulit dan harga naik," ungkap Yassona.
"Sementara saat dipimpin Pak Harto yang tidak S1, rakyat merasa lebih nyaman," tutur anggota DPR asal PDIP ini.
Doktor lulusan Harvard University ini juga menilai, yang dibutuhkan dalam kepemimpinan nasional adalah keberanian dan ketegasan dalam leadershipnya.
Ukuran leadership itu tidak cukup hanya dengan gelar sarjana S1, tapi pengalaman memimpin dan berorganisasi dari seseorang.
"Kalau soal kualitas, ibu Mega dapat gelar doktor honoris causa dari universitas terkemuka di Jepang. Jadi gak hanya gelar S1, tambah lagi ibu Mega mantan presiden," ujarnya. (mar/ken)











































