"Bagi PKPI (sebelum ganti nama menjadi PKP-red), wacana itu sah-sah saja. Kita ambil positifnya. Paling tidak dari sisi rakyat atau publik, mereka mengambil peran untuk merekayasa konstalasi politik. Itu baik saja," kata Sekjen PKP Samuel Samson saat dihubungi detikcom, Kamis (28/2/2008).
PKP, imbuh dia, tidak bisa menghadang pikiran-pikiran yang ada di publik, seperti menyandingkan Megawati dan Meuthia Hatta dalam Pilpres mendatang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Belum, ini kan startnya dari wacana publik. Beliau belum memberi tanggapan karena sedang sidang soal pemberdayaan perempuan di kantor PBB, New York," ungkap Samuel.
Demikian pula dengan PDIP, partai yang dipimpin Megawati. "Belum, belum ada pembicaraan antara PDIP dan PKPI," katanya.
Bagi PKP, Meuthia adalah kader terbaik partai, karena itu dalam perspektif partai, Meuthia harus siap jika sewaktu-waktu diminta mengemban amanat yang lebih besar.
"Apa pun bentuknya PKPI siap jika ketua umum menerima penugasan politik lebih lanjut, misalnya capres atau cawapres. Itu keniscayaan yang bisa terjadi pada siapa saja," kata dia.
Namun, Samuel menyadari, nama besar Soekarno dan Hatta yang merupakan proklamator RI tidak cukup untuk mengusung putri-putrinya sebagai pemimpin bangsa. Paling tidak perlu kerja keras untuk meningkatkan kinerja dan performa keduanya.
"Jadi bukan sekadar romantika masa lalu. Kita tidak ingin terjebak ke situ. Kita tidak mau melihat hanya sekadar nama Soekarno dan Hatta. Tapi juga harus memiliki kapasitas dan kemampuan yang teruji," tuturnya.
Jika itu tercapai, Samuel yakin bakal terjadi lompatan besar dalam politik nasional. "Ini untuk pertama kalinya, mungkin di dunia, presiden dan wapresnya perempuan," ujarnya.
(umi/nrl)











































