Mencuri di Negeri Sendiri

WNI Jadi Tentara \'Cabutan\' Malaysia (3)

Mencuri di Negeri Sendiri

- detikNews
Senin, 18 Feb 2008 13:28 WIB
Jakarta - Usia pasukan sukarela rakyat Malaysia sudah lebih dari seabad. Menurut situs Tentera Darat Diraja Malaysia, pasukan ini mulai dibentuk sejak 1902, dan berganti nama menjadi Askar Wataniah sejak 1958 lalu.

Awalnya pasukan ini bertugas mengawasi moral umat Islam di negeri itu. Tapi ketika banyak tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di sana, pasukan ini kemudian dilibatkan untuk mengawasi. Terutama terhadap para pendatang haram.

Versi Komisi I DPR, sejak tahun 1980-an, askar ini mulai merekrut warga negara Indonesia, baik yang menjadi TKI atau yang tinggal di perbatasan. Askar asal Indonesia ini kemudian disinyalir sering menggeser patok batas, sehingga tanah milik Indonesia semakin menyusut di wilayah perbatasan.

Aksi geser-geser patok batas sebenarnya sudah diketahui sejak tahun 1985. Waktu itu, kata anggota Komisi I DPR, Ali Mochtar ngabalin, DPR sedang melakukan kunjungan kerja sekitar bulan Mei dan Juni. Dari keterangan warga setempat maupun TNI yang bertugas disana terungkap, banyak patok yang bergeser ke wilayah Indonesia. Informasi ini seringkali dilaporkan ke pemerintah. Namun meski sudah empat presiden berganti tidak kunjung ada penyelesaian.

Keadaan semakin parah saat pembabat hutan liar marak beroperasi di sana. Banyak warga perbatasan mulai menebangi hutan di Indonesia. Kemudian patok yang sedianya ada di hutan itu digeser secara sengaja.

Data teranyar datang dari tim Kodim 0906/Tanjung Pura kepada Komisi I. Dalam laporannya disebutkan, sejumlah patok-patok milik Indonesia yang berjajar di sepanjang perbatasan, diketahui telah bergeser pada 30 Juni 2007. Dalam tahun itu, menurut catatan tim tersebut, setidaknya terjadi sebelas kali pergeseran. Dengan kata lain, hektaran tanah milik Indonesia telah raib bergeser ke seberang.

Para penggeser patok ini diduga kuat dilakukan Askar Wataniah yang berasal dari Indonesia. Askar ini ditugasi untuk menebangi pohon dan menggeser patok oleh cukong-cukong dari Malaysia. Yang mengkoordinir perintah cukong ini adalah Samseng, kelompok preman terorganisir yang beranggotakan warga Cina Serawak. "Kelompok ini paling ditakuti di wilayah perbatasan," jelas Muhlis, warga Badau, Kapuas Hulu, kepaad detikcom.

Kelompok ini kemudian menyuruh WNI, baik yang tergabung dalam Askar Wataniah atau warga biasa untuk mambawa kayu-kayu asal Indonesia ke pabrik pengolahan milik pengusaha Malaysia. Setelah distempel milik Malaysia, kayu ini kemudian dijual ke sejumlah negara, seperti RRC dan Singapura.

Tim survei Taman Nasional Kayan Mentarang dan WWF pada 24 Juli 2007 juga menyebutkan, dari pemantauan melalui udara diketahui ada kompleks bangunan pada koordinat 4Β°21'10" LU dan 115Β°56'45" BT yang berdekatan dengan HPH Sabah Forest Industry Corporation milik Malaysia. Hal ini diduga terkait dengan praktik penebangan hutan oleh Malaysia di perbatasan.

Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI Agustadi Sasongko Purnomo, mengakui soal pabrik ini. "Di sana ditemukan penggergajian kayu milik Malaysia dari hutan kita. Jadi orang kita disuruh mencuri," kata Agustadi usai rapat kerja dengan Komisi I DPR.

Temuan itu, imbuh Agustadi sudah dilaporkan ke Panglima TNI. Ia lalu mengungkapkan salah satu solusinya, yakni dengan membangun sabuk perbatasan. Jalan perbatasan ini dianggap mendesak untuk mengatasi kondisi medan yang sulit ditempuh.

Kondisi sarana infrastruktur perbatasan antara RI dan Malaysia memang terlihat sangat kontras. Jika akses jalan di perbatasan Malaysia sudah beraspal, sementara sarana jalan di perbatasan di wilayah RI masih banyak yang berlubang. Bahkan ada yang hanya mengandalkan jalan setapak dan transportasi sungai.

Dengan dibangunnya sabuk perbatasan, Agustadi yakin pencurian kayu oleh Malaysia dan penggeseran patok batas tidak akan berani dilakukan. Setidaknya tidak ada WNI di tapal batas yang menggeser kewarganegaraannya. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads