Sudah menjadi tradisi di lingkungan PN Dumai, Riau, untuk berolahraga bersama setiap Jumat. Pada Jumat 15 Februari 2008, pegawai di pengadilan itu ada yang bermain tenis, bola voli, dan senam.
Nah, kasus penamparan ini berawal dari lapangan voli. Rencananya, para hakim akan adu jago voli dengan para panitera. Sayangnya, geng panitera kekurangan satu orang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di salah satu ruangan, Ali melihat ada Parlianto Siregar, seorang panitera, sedang duduk santai. Ali pun mengajak anak buahnya itu main voli.
Tapi ajakan tersebut ditolak oleh Parlianto. Alasannya, dia sudah lelah karena tadi senam. Makanya pria berusia 30-an tahun itu keluar dari lapangan.
Namun alasan Parlianto tidak diterima oleh Ali. Dia pun menamparnya. Plak! Kemudian Ali berjalan kembali ke lapangan, sementara Parlianto keluar dari ruangan.
Pertandingan voli tetap berlangsung tanpa Parlianto. Parlianto juga tidak pernah menampakkan batang hidungnya hingga acara olahraga itu selesai.
Rupanya, Parlianto sakit hati dengan perlakuan bosnya itu. Dia pun mengadukan Ali ke Polresta Dumai. Aksi penamparan yang awalnya tidak diketahui orang pun akhirnya menyebar di lingkungan pengadilan.
Humas PN Dumai Suradi yang dihubungi detikcom, Sabtu (16/2/2008), membenarkan kasus tersebut.Pihaknya saat ini tegah berupaya untuk menyelesaikan kasus itu secara interen.
"Ya ini kan perselisihan antara bapak sama anak saja. Kami berharap kasus ini tidak melebar ke kepolisian dan bisa diselesaikan dalam lingkungan pengadilan," kata Suradi.
Menurut Suradi, dia sudah bertemu langsung dengan Ali. Walaupun belum bertemu langsung dengan Parlianto, Ali menyampaikan permintaan maafnya melalui Suradi.
(ana/sss)










































