Kami Sering Diancam Akan Dibunuh

Kepala KPU Bea Cukai:

Kami Sering Diancam Akan Dibunuh

- detikNews
Rabu, 06 Feb 2008 09:23 WIB
Kami Sering Diancam Akan Dibunuh
Jakarta - Pesta pora uang pelicin yang mengalir di Pelabuhan Tanjung Priok usai sudah. Gebrakan yang dilakukan Departemen Keuangan dan Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea Cukai di pelabuhan itu jadi sebab. "Tumpengnya sudah kita balikin," begitu kata Agung Kuswandono, beribarat.

Sejak bertugas Mei 2007 silam, Agung yang menjabat Kepala KPU Bea Cukai Tanjung Priok ini,  memang banyak membuat perubahan di pelabuhan tersibuk di Indonesia tersebut. Penipuan, pemerasan, penggelapan, dan suap diharamkan Agung. Bahkan pegawai-pegawai lama diganti dengan wajah-wajah baru.

Hasilnya ternyata sangat efektif. Aksi korupsi dan kolusi yang dulu dianggap lazim di pelabuhan Tanjung Priok  nyaris hilang. Bahkan kalau dulu pengurusan ekspor-impor bisa  memakan waktu hingga berminggu-minggu, sekarang  cukup sehari kelar. Malah ada yang hanya hitungan jam sudah beres.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekalipun sudah menutup semua kemungkinan. Tapi tetap saja ada pihak yang masih coba-coba berbuat nakal dan curang. Termasuk anak buahnya. Seperti yang diutarakan Agung kepada detikcom. Berikut wawancaranya:

Saat ini Bea Cukai telah melakukan pembenahan di Pelabuhan Tanjung Priok apakah semuanya sudah berjalan dengan baik?

Sekalipun masih kurang sempurna tapi hasilnya cukup menggembirakan. Setidaknya sejak terbentuk KPU (Kantor Pelayanan Utama), pelayanan kami kini semakin optimal. Tidak ada lagi suap, pemerasan dan main belakang. Semua sudah kita tertibkan.

Perubahan ini kami sebut sangat revolusioner. Sebab organisasinya diubah. Sistem dan prosedurnya diubah. Dan sumber daya manusia juga diubah. Sebab itu merupakan aspek-aspek pokok dalam pembenahan di KPU Tanjung Priok.

Tapi anda bilang kurang sempurna. Maksudnya apa?

Kita kan tahu dulu kondisi Tanjung Priok seperti lingkaran setan. Semua pintu terlibat korupsi dan kolusi. Belum lama ini ada pegawai di sini yang kita kenakan tindakan indisipliner karena melakukan kolusi. Satu sudah masuk tindakan indisipliner berat dan sudah kami pecat. Dan belasan lain terkena hukuman kepegawaian.

Jadi  masih perlu tenaga ekstra  untuk mengawasi. Kami juga telah membentuk sebuah divisi yang bertugas melakukan bimbingan dan layanan informasi untuk eksternal. Di dalam sini ada petugas -petugas yang dididik khusus yang namanya clien coordinator. Ya semacam customer service. Jadi bila ada keluhan mengenai pelayanan bisa melaporkan ke bagian ini.

Bidang yang kedua namanya bidang kepatuhan internal. Ini adalah provosnya Bea Cukai. Mereka bertugas mengawasi tingkah laku para petugas  Bea Cukai KPU Tanjung Priok. Karena kami sudah punya komitmen, sudah punya fakta integritas bahwa pegawai KPU itu harus bebas dari KKN. Ini kita terjemahkan secara lugas saja. Kami tidak boleh menerima apapun, apalagi memeras.

Saya selalu sampaikan secara eksplisit di hadapan pegawai. Kalau ada yang melanggar yang mengawasi adalah bidang kepatuhan.

Anda sering mendapat teror akibat langkah revolusioner ini?

Wah itu sudah sering. Biasanya sih SMS gelap yang isinya mengancam bunuh atau dimasukkan ke penjara. Anak buah saya juga pernah diancam ingin dibawa ke Tanah Kusir. Maksudnya ingin dibunuh.

Tapi ancaman itu tidak saya gubris. Sebab langkah kami ini didukung penuh oleh pimpinan (Dirjen Bea Cukai dan Departemen Keuangan).  Kalau memang ingin berubah, kami berpendapat ubah dulu Bea Cukainya, yakni secara internal. Ternyata efeknya luar biasa yang lain jadi mandek. Akhirnya kita sekarang diserang ancaman.

Menurut Anda mereka itu (yang mengancam, red) siapa saja?

Saya juga tidak tahu. Yang jelas mereka yang merasa tidak happy karena adanya pembenahan ini. Jadi bisa siapa saja.

Dulu di pelabuhan ini ada sebuah kelompok yang dikenal dengan sebutan 'Kelompok Famili' . Kelompok ini disebut-sebut dulunya banyak mendapat fasilitas khusus dari Bea Cukai. Sekarang nasib kelompok ini bagaimana?

Ya saya juga pernah dengar. Tapi bagi kami, prinsipnya, kalau mau menegakkan peraturan kita tidak perlu pandang bulu. Dulu bila ada teman atau kerabat yang mengurus langsung diberi karpet merah. Kini tidak ada lagi seperti itu. Kalau tidak mengikuti aturan main kita sikat.

Hal itu memang akhirnya  membuat mereka tidak happy. Kelompok inilah yang kemudian banyak mengirim SMS ancaman dan lain-lain.

Anda sering mendapat ancaman. Apa tidak takut?

Bagi saya, kalau yang saya kerjakan benar kenapa harus takut? Pernah salah satu penelepon gelap mengancam saya. Dia mengatakan tahu keluarga saya dan mereka mengeluarkan ancaman untuk keluarga saya. Tapi tidak saya gubris.

Banyak pihak menganggap langkah Bea Cukai sekarang adalah sebuah prestasi besar. Menurut Anda bagaimana?

Wah, kami tidak bisa menilai diri sendiri. Kalau orang lain yang menilai silakan. Saya juga pernah bertanya kepada seorang wartawan sebuah majalah. Sebab di majalah itu nama saya dimasukan sebagai salah satu tokoh pemberantas korupsi. Wartawan itu kemudian menjawab pemilihan itu berdasarkan  penilaian redaksi di medianya. Jadi bagi saya terserah saja bila ada pihak yang menilai.

Tapi memang,  sebelumnya banyak orang tidak percaya bagaimana mungkin Bea Cukai bisa berubah. Apalagi yang main di sini sudah puluhan tahun. Dan semua pihak ikut bermain. Jadi wajar bila  ada yang menganggap perubahan ini sebagai sebuah prestasi. Kami secara institusi sangat berterima kasih sekali.

Apa kendala terbesar dalam melakukan perubahan ini?

Yang terberat adalah mengubah mental. Sebab dulu kita merasa di pelabuhan jadi penguasa. Tapi sekarang kita harus melayani. Perubahan mental seperti inilah yang sangat berat. Biasanya kita memerintah sekarang kita diperintah. Tapi karena kita memulainya dengan niat untuk mengubah, semua itu bisa teratasi.

Lantas bagaimana dengan institusi lain yang ada di pelabuhan?


Semuanya sekarang mendukung. Kita sekarang selalu berkoordinasi dengan sejumlah pihak yang ada di sini. Misalnya Administrator Pelabuhan, Kejaksaan,  Polres Jakarta Utara maupun Polda Metro Jaya. Karena mereka nantinya yang akan memproses tangkapan kita. Kita pun selalu melakukan pertemuan, sekalipun tidak formal.

Kabarnya sekalipun sudah berbenah tetap saja ada pihak yang coba-coba melakukan penyelundupan. Misalnya penyelundupan handphone?

Kalau ada yang coba-coba menyelundup pasti saja. Apalagi handphone yang banyak peminatnya. Tapi untuk bisa lolos nanti dulu. Belum lama ini kita pernah menahan dua kontainer berisi handphone selundupan. Nilainya puluhan miliar rupiah.

Modus mereka adalah memasukan barang tidak sesuai dokumen.  Dalam dokumen tersebut tertulis yang dibawa adalah casing dan aksesoris handphone. Tapi setelah kita periksa ternyata isi kontainer  sebagiannya adalah handphone dalam kondisi utuh.

Saat ini beredar kabar kalau handphone-handphone gelap masih mudah didapat di Pelabuhan Tanjung Priok?

Itu mungkin saja. Tapi kalau melalui pelabuhan peti kemas sangat kecil kemungkinannya. Sebab kami memeriksa ketat barang-barang impor yang masuk. Menurut tim kami di lapangan, barang-barang tersebut kebanyakan masuk melalui kapal antar pulau. Dan kami tidak punya kewenangan untuk itu. Sebab kami hanya bertugas mengawasi barang-barang yang masuk dari luar negeri.

Kami juga meminta masyarakat untuk jeli dengan  bahasa lapangan di pelabuhan. Sebab mereka pasti bilang barang selundupan itu berasal dari Pelabuhan Tanjung Priok. Tapi pelabuhan itu kan banyak pintu. Ada yang melalui kapal penumpang, kapal barang antau pulau dan dari luar negeri. Ini yang harus diperhatikan. Sebab orang-orang lapangan ini umumnya selalu menyebut Bea Cukai bila terkait dengan urusan pelabuhan.

Misalnya jika berkaitan dengan ekspor -impor mereka biasanya selalu mengaitkan dengan customs (Bea Cukai). Sebut saja biaya angkut, sandar atau lain-lain. Atas biaya-biaya tersebut orang-orang di pelabuhan lazim menyebutnya sebagai customs fee. Padahal itu semua bukan urusan Bea Cukai. Nah inilah yang terkadang salah sangkanya masyarakat. Belum lagi dengan sebutan gudang-gudang di Tanjung Priok. Mereka pasti bilang semua gudang milik Bea Cukai.(ddg/iy) (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads