Hikayat Revitalisasi Braga yang Selalu Gagal

Hikayat Revitalisasi Braga yang Selalu Gagal

Baban Gandapurnama - detikNews
Rabu, 30 Jan 2008 15:00 WIB
Bandung - Revitalisasi kawasan Jalan Braga oleh pemerintah bukan merupakan program anyar. Sejak 1960-an, wacana revitalisasi sudah digembor-gemborkan terhadap jalan yang dulunya dikenal dengan Pedatiwerg itu. Namun selalu gagal.

"Revitalisasi Braga dirintis sejak tahun 60-an. Untuk menghidupkan kembali kawasan ini, sempat diadakan Braga Festival. Selama tiga tahun berjalan, upaya ini selanjutnya terhenti," jelas salah seorang pemerhati Kota Bandung, Sudarsono Katam kepada detikcom, Rabu (30/1/2008).

Penulis buku "Bandung Kilas Peristiwa Di Mata Filatelis" ini menambahkan, pada 1980-an, revitalisasi kembali digaungkan. Kawasan Braga kala itu digunakan sebagai arena Pameran Produksi Jawa Barat. "Tetapi, lagi-lagi tak berlanjut," ujar dia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selanjutnya, lanjut Katam, pada tahun 90-an sempat dicoba menghidupkan kembali kawasan Braga dengan menggelar even bertajuk 'Braga Kaget'. "Ini pun kembali tak membuahkan hasil," ungkap dia.

Tidak patah arang, pada 2000 tersiar wacana kalau Braga bakal disulap seperti Kembang Jepun (Surabaya) atau Malioboro (Yogyakarta). Alhasil, ucap Katam, realisasi wacana itu dibuktikan dengan memperlebar trotoar, lalu sepanjang kedua sisi Jalan Braga (di sisi luar trotoar) ditanami pohon Karet Benggol.

"Saya ngerti kalau pohon itu untuk penghijauan. Tetapi, dalam jangka panjang nanti, akar Karet Benggol bisa merusak trotoar dan tepi badan jalan. Selain itu, kehadiran pohon akan menutupi pandangan ke muka pertokoan," papar lelaki berambut panjang ini bernada pesimis.

Menurut dia, untuk revitalisasi kawasan Braga sebaiknya mengembalikan konsepnya seperti tempo dulu. "Kembalikan kejayaan Braga sesuai dengan sejarahnya. Bagi saya inilah suatu revitalisasi," tandas dia.

Pada zaman kejayaannya  1920-1930, lanjut dia, Braga merupakan kawasan pertokoan modern. Segala pajangan yang dijual didominasi barang-barang impor yang berkiblat ke Amsterdam dan Paris. Mulai produk sepatu, pakaian hingga jam tangan.

"Jadi, bila terjadi revitalisasi, jadikan lagi Braga sebagai pusat pertokoan dengan produk eksklusif. Maksudnya, produk yang unik dan tidak dijual di tempat lain," kata Katam yang juga menulis buku "Album Bandoeng Tempoe Doeloe" (bersama penulis, Lulus Abadi).

Selain itu, jelas Katam, bila hal tersebut terealisasi pihak pemerintah harus memperhatikan para pebisnis di kawasan Braga. Katam meminta agar pemerintah membantu pebisnis dalam memberi keringanan pajak produk impor dan memudahkan untuk mendatangkan produk impor. "Satu lagi, berikanlah kemudahan kredit bagi pebisnis nantinya," pinta dia.
(bbp/asy)


Berita Terkait